IndonesianForecast, JAKARTA — Subsektor kawasan industri diproyeksikan memiliki prospek positif pada tahun depan dan menopang kinerja industri properti.
CEO PT Leads Property Service Indonesia Hendra Hartono mengatakan hingga kuartal III tahun 2025, tingkat penjualan lahan kawasan industri cenderung stabil dibandingkan kuartal sebelumnya mencapai 91% dengan rerata harga jual mencapai Rp2,9 juta per meter persegi.
Dalam sembilan bulan pertama tahun 2025, total pasokan lahan industri di Jakarta dan sekitarnya mencapai 13.800 hektare dengan 24 hektare pasokan lahan baru di antara kawasan industri Jakarta dan sekitarnya.
“26 hektare penjualan lahan industri di Jakarta dan sekitarnya didominasi oleh kawasan Bekasi dan Cikarang. Transaksi lahan dikontribusikan oleh beberapa industri seperti logistik, farmasi kesehatan, dan terkait consumer goods,” ujarnya dikutip Sabtu (29/11/2025).
Adapun tingkat penjualan lahan industri terbesar berada di Jakarta sebesar 100%, Tangerang sebesar 96%, kemudian Bekasi sebesar 94%, Karawang Purwakarta sebesar 92%, Bogor 85%, Serang 83%, dan Cilegon 72%.
Menurut Hendra, pengembangan kawasan industri kini bergeser ke arah timur Jakarta hingga Jawa Tengah didorong oleh faktor upah minimum yang lebih rendah, lahan lebih luas dan murah, serta tersambungnya Tol Trans Jawa.
“Contohnya bisa dilihat di Subang, Batang, dan Kendal,” katanya.
Untuk mengurangi dampak tarif impor Amerika, pengusaha industri asal Tiongkok harus mencari
kawasan baru untuk basis produksi. Opsinya antara lain rental factory (pabrik sewa) untuk kebutuhan jangka pendek, atau akuisisi lahan untuk bisnis jangka panjang.
Hendra menambahkan industri data center dengan skala medium ke hyperscale akan tetap mengincar kawasan industri sementara data center dengan skala micro ke small scale justru akan mengincar lahan di Jakarta CBD.
Selain Jabodetabek, Batam juga menjadi potensi lokasi pengembangan data center karena kedekatan dengan Singapura. Namun, terdapat indikasi bahwa penyerapan kapasitas data center masih belum mengimbangi jumlah pasokan yang ada.
Hendra menilai perlunya analisis dampak lingkungan yang lebih komprehensif terhadap pengembangan kawasan industri maupun untuk calon tenant, guna mengantisipasi adanya cemaran bahan kimia atau radioaktif yang membahayakan lingkungan dan warga sekitar misalnya yang terjadi di Cikande.
“Penggunaan energi baru terbarukan (EBT), khususnya penerapan panel surya pada kegiatan industri masih sulit diaplikasikan karena tingginya biaya investasi hingga persyaratan yang rumit,” tuturnya.
Sementara itu, Head of Research Services Colliers Indonesia Ferry Salanto berpendapat prospek investasi Indonesia tetap positif dengan meningkatnya optimisme menuju tahun 2026 seiring dengan penguatan aktivitas industri, komitmen pemerintah, dan stabilitas keamanan nasional.
Pasar lahan industri pada kuartal III tahun 2025 tetap mencerminkan performa yang positif dengan tingkat serapan mencapai 74,54 hektae sehingga total volume tahun berjalan hampir menyamai capaian sepanjang tahun sebelumnya.
Kelangkaan lahan di Bekasi, ditambah dengan tingginya permintaan, mendorong ekspansi industri ke arah timur khususnya menuju Karawang, Purwakarta, dan Subang yang memiliki cadangan lahan
lebih luas serta akses infrastruktur yang terus membaik.
Menurutnya, tren positif dalam serapan lahan industri didukung oleh permintaan yang semakin beragam serta momentum kuat dari sektor kendaraan listrik (electric vehicle/EV) dan pengembangan Standard Factory Building (SFB).
“Pasar diproyeksikan akan terus tumbuh positif hingga akhir tahun,” ujarnya dalam keterangan.
Salah satu tren penguatan utama adalah strategi kawasan industri dalam mengembangkan standard factory building (SFB) sebagai solusi plug and play yang fleksibel, modular, dan berbasis digital. Inisiatif ini bertujuan untuk meningkatkan monetisasi lahan sekaligus mendukung kebutuhan operasional yang cepat.
“Pemulihan pasca kerusuhan berlangsung dengan cepat, menjaga optimisme menuju tahun 2026,” katanya.
Dari sisi harga, harga lahan industri di wilayah Jakarta Raya mengalami penurunan terutama
akibat depresiasi nilai tukar Rupiah, meskipun area inti seperti Bekasi dan Karawang tetap stabil. Kemudian, Purwakarta dan Subang menawarkan harga yang lebih kompetitif dengan potensi
pertumbuhan yang didorong oleh ekspansi sektor otomotif, kendaraan listrik (EV), dan logistik,
seiring terjadinya peningkatan infrastruktur.
Ferry menilai terdapat perpindahan pusat pertumbuhan industri dari Bekasi ke koridor timur Jakarta Raya karena terbatasnya ketersediaan lahan industri di wilayah Jakarta terutama Bekasi. Kemudian, Karawang muncul sebagai lokasi ekspansi utama, didukung oleh basis manufaktur yang
telah mapan khususnya di sektor otomotif dan elektronik.
“Ke arah timur, Purwakarta dan Subang semakin berkembang sebagai pusat pertumbuhan industri baru. Subang menunjukkan momentum paling kuat, didorong oleh beroperasinya Pelabuhan Patimban dan peningkatan infrastruktur jalan tol yang memperkuat konektivitas logistik ke pasar domestik dan ekspor,” ucapnya.
Pada kuartal III tahun 2025, permintaan lahan kawasan industri tetap solid karena terdapat minat tinggi berasal dari sektor otomotif, kendaraan listrik (EV), logistik, dan industri rantai pasok. Selain itu, pengembangan infrastruktur yang berkelanjutan terus mendukung prospek permintaan
di masa depan.
“Perusahaan asal Tiongkok tetap menjadi pemain signifikan dalam pasar lahan industri. Permintaan selama periode ini menunjukkan pola yang lebih beragam, tanpa dominasi dari satu sektor tertentu kawasan industri tetap stabil, operasional berjalan normal dan investasi terus berlanjut,” tuturnya.
Data tahunan dari kawasan industri menunjukkan peningkatan aktivitas kawasan dan volume produksi, mencerminkan kepercayaan yang berkelanjutan terhadap prospek investasi di Indonesia.
Terpisah, Head of Industrial & Logistics Services CBRE Indonesia Ivana Susilo menilai di luar pusat kota, kawasan industri sangat menarik. Hal ini seiring dengan perubahan kebiasaan konsumen akibat e-commerce dan posisi Indonesia sebagai pusat manufaktur kendaraan listrik, permintaan akan lahan industri dan fasilitas logistik modern terus meningkat.
“Hal ini tercermin dalam tingkat okupansi yang tinggi di kawasan industri dan pusat logistik utama di wilayah tersebut. Akibatnya, harga lahan industri serta sewa logistik tetap stabil, namun tekanan semakin meningkat karena pasokan kesulitan mengikuti permintaan,” ujarnya.






