IndonesianForecast, JAKARTA — Pertumbuhan ekonomi global diproyeksikan akan melambat menjadi 2,6% pada 2025. Angka ini turun dari pertumbuhan ekonomi global 2024 sebesar 2,9% karena perdagangan dan investasi global menghadapi tekanan yang semakin besar akibat volatilitas keuangan dan ketidakpastian geopolitik.
Sekretaris Jenderal Badan Perdagangan dan Pembangunan (UNCTAD) PBB Rebeca Grynspan menuturkan pergeseran di pasar keuangan kini menggerakkan perdagangan global hampir sama kuatnya dengan aktivitas ekonomi aktual, membentuk prospek bagi negara-negara berkembang khususnya.
“Perdagangan bukan sekadar rantai pemasok. Perdagangan juga merupakan rantai jalur kredit, sistem pembayaran, pasar valuta asing, dan arus modal,” ujarnya dalam keterangan, Rabu (3/12/2025).
Negara-negara berkembang tumbuh lebih cepat daripada negara-negara maju tetapi biaya pinjaman yang tinggi, volatilitas pasar keuangan, dan risiko iklim membatasi kemampuan mereka untuk berinvestasi dan mempertahankan pertumbuhan. Perekonomian negara berkembang diperkirakan akan tumbuh sebesar 4,3% jauh lebih cepat dibandingkan dengan perekonomian maju.
Namun, faktor-faktor seperti biaya pendanaan yang lebih tinggi, paparan yang lebih besar terhadap pergeseran mendadak dalam aliran modal, dan risiko keuangan terkait iklim yang meningkat, kian membatasi ruang fiskal dan investasi yang dibutuhkan oleh perekonomian berkembang untuk mempertahankan pertumbuhan.
Selain itu, kerentanan iklim menambah tekanan keuangan. Negara-negara yang berulang kali terpapar cuaca ekstrem kini membayar bunga sekitar US$20 miliar lebih banyak setiap tahun karena pemberi pinjaman menganggap mereka lebih berisiko.
Pada saat yang sama, dolar Amerika Serikat tetap menjadi mata uang sentral bagi keuangan global, meskipun terjadi beberapa diversifikasi.
Pangsanya dalam pembayaran lintas batas melalui sistem transfer elektronik SWIFT telah meningkat tajam dari 39% menjadi sekitar 50% dalam 5 tahun dan Amerika Serikat terus mendominasi pasar saham dan obligasi global.
“Meskipun hal ini dapat membawa stabilitas selama guncangan keuangan, namun hal ini juga berarti negara-negara berkembang semakin rentan terhadap siklus keuangan AS yang tidak dapat dikendalikan,” kata Rebeca.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal Organisasi Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) Mathias Cormann menilai ekonomi global menunjukkan ketahanan yang lebih baik dari perkiraan dalam menghadapi tarif perdagangan yang diberlakukan oleh Presiden AS Donald Trump. Menurutnya, aktivitas ekonomi mendapatkan dorongan dari investasi kuat dalam Kecerdasan Buatan (AI) serta kebijakan fiskal dan moneter.
OECD menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi AS dan kawasan euro untuk tahun ini dan tahun depan, serta melakukan penyesuaian naik dalam skala kecil untuk beberapa ekonomi besar lainnya dalam prospek terbarunya. OECD tetap memperkirakan pertumbuhan ekonomi global akan melambat menjadi 2,9% pada 2026 dari 3,2% pada 2025 karena dampak penuh dari tarif perdagangan belum sepenuhnya dirasakan.
“Perekonomian global cukup tangguh tahun ini, meskipun sempat muncul kekhawatiran akan perlambatan yang lebih tajam akibat meningkatnya hambatan perdagangan dan ketidakpastian yang besar. Namun, pertumbuhan perdagangan global melambat pada kuartal kedua tahun ini, dan kami memperkirakan tarif yang lebih tinggi akan secara bertahap mendorong kenaikan harga, sehingga menekan pertumbuhan konsumsi rumah tangga dan investasi bisnis,” tuturnya.
Dampak dari upaya Trump untuk menulis ulang aturan perdagangan global terbukti sulit diprediksi oleh lembaga internasional maupun ekonom. Pada Juni, OECD memperkirakan pertumbuhan AS akan melambat menjadi 1,6% tahun ini, namun merevisinya menjadi 1,8% pada September dan kini memproyeksikan pertumbuhan 2%.
Lonjakan investasi AI dan pembangunan pusat data terutama di AS turut memberikan pengaruh yang semakin besar terhadap estimasi ekonomi. Menurut OECD, ketangguhan sektor teknologi menopang arus perdagangan global, sementara pertumbuhan produksi di sektor teknologi kini melampaui sektor industri lainnya.
Direktur Studi Negara OECD Luiz de Mello menambahkan tanpa lonjakan investasi AI, ekonomi AS justru mengalami kontraksi 0,1% pada paruh pertama tahun ini, seiring melambatnya pertumbuhan konsumsi rumah tangga dan menurunnya belanja pemerintah.
“Segala hal yang berkaitan dengan perusahaan yang membeli peralatan untuk memungkinkan mereka berkembang dalam era teknologi baru ini—semua itu telah mendorong aktivitas ekonomi dengan cara yang menutupi sebagian dampak negatif dari ketidakpastian kebijakan dan efek tarif terhadap aktivitas ekonomi,” ujarnya.
Kendati demikian, OECD memperingatkan ekspansi cepat di sektor teknologi dan optimisme terhadap AI berisiko memicu koreksi harga yang tajam, bahkan potensi penjualan aset paksa mengingat valuasi yang semakin tinggi.
“Dipadukan dengan kekhawatiran atas perubahan cepat dalam kebijakan perdagangan, OECD menyebut prospek ekonomi global saat ini “rapuh” dan proyeksinya “menghadapi risiko yang substansial,” tuturnya.






