IndonesianForecast, JAKARTA — Sektor properti khususnya residensial diproyeksikan akan bergerak positif meskipun masih terdapat tantangan ekonomi global.
Associate Director Research & Consultancy Department PT Leads Property Services Indonesia Martin Samuel Hutapea mengatakan peningkatan minat kepemilikan hunian ini didorong oleh sejumlah faktor salah satunya semakin tingginya kesadaran generasi milenial dan gen Z untuk memiliki hunian. Hal ini karena karakter gen Z dan kalangan milenial cenderung lebih digital saving, menghitung prospek jangka panjang, kualitas hidup dan perencanaan finansial.
“Rentang usia yang semakin lebar untuk membeli rumah dimana rerata berusia 25-35 tahun. Ini berbeda dengan masa lalu orang baru mulai membeli properti pada usia 29 tahun. Pembelinya end user bukan lagi investor karena rental yield yang terteken,” ujarnya Rabu (25/2/2026).
Sektor residensial khususnya perumahan masih menjadi penggerak sektor properti di Indonesia. Terlebih bonus demografi usia produktif di Indonesia masih tinggi sehingga mendorong rumah tapak menjadi aset yang paling penting dibutuhkan.
Menurutnya, Jabodetabek merupakan kawasan yang tetap akan diminati oleh pembeli rumah generasi millenial dan gen Z seiring dengan kegiatan perekonomian utama di Indonesia.
“Gen Z dan milenial lebih mencari hunian yang tidak di pusat kota yang harganya tinggi,” katanya.
Di tahun 2025, terdapat sekitar 196.700 unit perumahan tapak di Jabodetabek dengan tingkat penjualan keseluruhan 93% dan rerata harga pasar Rp2,7 miliar per unit atau meningkat sekitar 10,5% secara tahunan. Adapun wilayah Tangerang memiliki pasokan kumulatif terbanyak sekitar 92.000 unit dengan tingkat penjualan sekitar 94% dan harga Rp3 miliar per unit.
Pasokan kumulatif banyak kedua berada di Bekasi sebanyak 44.700 unit dengan tingkat penjualan sekitar 93% dan rerata harga Rp1,7 miliar per unit. Kemudian untuk di Bogor terdapat pasokan kumulatif sekitar 37.500 unit dengan tingkat penjualan sekitar 95% dan harga Rp2 miliar per unit. Selanjutnya, pasokan kumulatif di Depok terdapat sekitar 10.500 unit dengan tingkat penjualan sekitar 92% dan rerata harga Rp1,7 miliar. Lalu di Jakarta, terdapat pasokan kumulatif sekitar 92.000 unit dengan tingkat penjualan 84% dan harga Rp5 miliar per unit.
“Harga Rp1 miliar – Rp3 miliar per unit merupakan kisaran harga yang akan mendominasi pasar dan didominasi oleh pengguna langsung. Rerata harga pasar diperkirakan berada di angka Rp2,78 miliar – Rp2,83 miliar per unit untuk setahun ke depan. Kenaikan harga diprediksi sekitar 3% – 5% setahun ke depan,” ucapnya.
Martin memprediksikan pasar rumah tapak tetap tumbuh positif dengan kenaikan permintaan di kisaran 5% hingga 6% di tahun ini. Tingkat penjualan secara keseluruhan akan berkisar di angka 92% – 94%.
Hal ini ditopang oleh sejumlah stimulus seperti insentif pemerintah berupa PPN DTP, serta tren suku bunga yang lebih kompetitif. Segmen menengah menjadi motor utama dengan kontribusi sekitar 61% terhadap total permintaan, mencerminkan daya beli yang tetap resilien. Uniknya, Generasi Milenial dan Gen Z kini semakin matang dalam mengambil keputusan pembelian properti dengan mempertimbangkan tidak hanya harga, tetapi juga aksesibilitas, fasilitas, dan potensi kenaikan nilai investasi. Tren ini juga mendorong pertumbuhan kawasan penyangga ibu kota.
“Untuk memenuhi kebutuhan akan tempat tinggal, para pengembang masih akan terus me-launching produk rumah,” tutur Martin.
KEOPTIMISAN PENGEMBANG
Deputy Group CEO Strategic Development & Assets Sinar Mas Land Herry Hendarta menuturkan pengembang terus berinovasi dalam menghadapi dinamika pasar properti yang berkembang sangat dinamis dengan tetap memperhatikan tren serta kebutuhan konsumen.
“Strategi bisnis kami difokuskan pada penguatan kemitraan strategis, pengembangan produk, serta layanan yang inovatif dan berkualitas. Diversifikasi portofolio, baik dari sisi produk maupun geografis, yang didukung dengan cadangan lahan luas juga menjadi katalis positif bagi pertumbuhan perusahaan,” terangnya.
Menurutnya, segmen pasar hunian dari generasi milenial dan gen Z dinilai menjanjikan dengan harga hunian di bawah Rp2 miliar per unit. Perusahaan terus mengembangkan di sejumlah wilayah yaitu Tangerang, Bekasi, Bogor, Semarang, Surabaya, Balikpapan, dan peluncuran proyek baru di Samarinda.
“Kami terus adaptif terhadap pengembangan proyek yang sesuai dengan kebutuhan, saat ini didominasi end user generasi milenial dan gen z. Mereka juga concern dengan isu keberlanjutan lingkungan,” ujar Herry.
Sinar Mas Land menghadirkan national sales program untuk memberikan kemudahan bagi masyarakat dalam mewujudkan kepemilikan properti. Dengan berbagai strategi tersebut, pengembang optimistis dapat terus memberikan kontribusi signifikan bagi industri properti nasional sekaligus memenuhi kebutuhan masyarakat akan produk properti yang berkualitas tinggi dan berkelanjutan.
Direktur PT Bumi SerpongDamai Tbk (BSDE) Hermawan Wijaya menuturkan perusahaan optimistis dengan industri properti sepanjang tahun ini. Emiten berkode BSDE ini menargetkan prapenjualan atau marketing sales sebesar Rp10 triliun pada 2026.
Pada 2025, BSDE mencatatkan kinerja pra penjualan yang solid dengan berhasil membukukan sebesar Rp10,04 triliun melampaui target yang telah ditetapkan senilai Rp10 triliun. Adapun segmen residensial masih memberikan kontribusi terbesar dengan nilai mencapai Rp4,19 triliun atau 42% dari total marketing sales.
Di tahun ini, BSDE menargetkan kontribusi marketing sales dari penjualan residensial mencapai Rp5 triliun, komersial sebesar Rp3,5 triliun, dan kemitraan strategis (joint venture) sebesar Rp1,5 triliun.
“Pencapaian pra penjualan sebesar Rp10,04 triliun sepanjang 2025 ini menjadi angin segar terhadap pertumbuhan sektor properti pada 2026. Ini menunjukkan minat konsumen yang tetap kuat terhadap produk hunian khususnya di kawasan kota mandiri yang memiliki fasilitas lengkap dan konektivitas yang baik,” katanya.
Pihaknya optimistis dapat mencapai target marketing sales senilai Rp10 triliun di tahun ini meskipun masih terdapat tekanan kondisi geopolitik dan ekonomi. Stabilitas makroekonomi domestik dan keputusan Bank Indonesia (BI) mempertahankan BI Rate di level 4,75 persen disebut memberikan kepastian bagi pasar, khususnya dalam menjaga tingkat suku bunga kredit pemilikan rumah tetap kompetitif.
“Ada tingkat suku bunga KPR yang rendah dan insentif pajak pertambahan nilai ditanggung pemerintah (PPN DTP) yang diberikan pemerintah kepada industri properti. Kondisi ini diharapkan dapat terus mendukung daya beli masyarakat, memperkuat minat terhadap produk hunian, serta menjadi katalis bagi keberlanjutan kinerja pemasaran BSDE pada periode mendatang,” ucap Hermawan.






