IndonesianForecast, JAKARTA — Pembiayaan berkelanjutan berpotensi meningkat pada 2026 seiring meningkatnya kebutuhan dunia usaha untuk menyesuaikan strategi bisnis keberlanjutan dan target net zero emission (NZE) 2060.
Kepala Mandiri Institute Andre Simangunsong menilai meskipun sepanjang 2025 kondisi global diwarnai oleh gejolak geopolitik, perang dagang, dan perang tarif, namun permintaan terhadap pembiayaan berbasis environmental, social, and governance (ESG) khususnya untuk proyek pembiayaan tetap berada di level yang cukup besar.
“Dengan kondisi sekarang, demand untuk ESG financing yang project financing-nya juga masih cukup besar,” ujarnya dikutip Senin (15/12/2025).
Menurutnya, dorongan terhadap pembiayaan berkelanjutan kembali menjadi prioritas pada 2026, yang dipengaruhi oleh meningkatnya kesadaran terhadap risiko ikli terutama setelah berbagai bencana yang terjadi di tingkat nasional, regional, hingga global. Kondisi tersebut mendorong dunia usaha untuk mulai mengakses dan menyelaraskan strategi bisnis dengan prinsip berkelanjutan.
Selain itu, terdapat tekanan positif dari regulator termasuk pemerintah dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang mendorong perbankan untuk menerapkan Climate Risk Stress Testing (CRST).
“Dari sisi supply dan demand, ada kebutuhan yang semakin tinggi,”
Menurutnya, terdapat dua faktor utama yang mendorong perkembangan pembiayaan hijau yakni pemerintah yang dinilai sebagai penerbit terbesar obligasi berkelanjutan termasuk obligasi hijau dan obligasi sosial.
Kemudian, sektor keuangan disebut sebagai sektor yang paling siap menjadi enabler pembiayaan berkelanjutan yang mana sektor ini menjadi penerbit terbesar kedua setelah pemerintah sekaligus menjadi penyalur utama pembiayaan tersebut.
Adapun Mandiri Institute mencatat jenis pembiayaan berkelanjutan yang paling diminati oleh perusahaan adalah green loan.
Dalam 3 tahun hingga 5 tahun ke depan, permintaan terhadap proyek penurunan emisi dan peningkatan efisiensi energi akan terus meningkat, sehingga perbankan dinilai perlu bersiap untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
“Kami melihat demand terhadap proyek untuk menurunkan emisi atau meningkatkan efisiensi energi ini meningkat,” ucapnya.
Adapun berdasarkan tingkat kesiapan sektor usaha dalam penerapan ESG, hampir seluruh sektor telah memiliki kesadaran terhadap isu ESG. Namun demikian, dari sisi kesiapan implementasi hingga adopsi dalam strategi perusahaan, masih terdapat sektor yang perlu ditingkatkan.
“Kalau awareness sudah pasti (perusahaan) mengetahui, tapi dari sisi readiness, implementasi sampai ke level manajemen, sampai ada adopsi dalam strategi perusahaan, kira-kira yang perlu memang perlu ditingkatkan, ini sektor agrikultur, FMCG (Fast-Moving Consumer Goods), dan transportasi,” tuturnya.
Berdasarkan data Mandiri Institute, hingga semester I tahun 2025, pembiayaan berkelanjutan sektor transportasi masih di level US$17,6 juta dolar atau US$293 miliar. Sementara itu, pembiayaan berkelanjutan sektor agroindustri seperti crude palm oil (CPO) tembus di level Rp500 miliar atau US$30 juta, lalu, sektor petrokimia mencapai Rp2,91 triliun atau US$175 juta dan sektor peternakan di level Rp1,05 miliar atau US$63.000.





