IndonesianForecast, JAKARTA — Pasar kondominium Jakarta pada kuartal III/2025 masih bergerak stabil di tengah persaingan yang semakin ketat dengan rumah tapak. Kondisi tersebut terjadi seiring rentang harga kedua jenis hunian yang kini semakin berdekatan.
Berdasarkan laporan Leads Property Services Indonesia, total pasokan kondominium strata-title di Jakarta mencapai sekitar 259.900 unit dengan tingkat penjualan rata-rata berada di level 83%, relatif stabil dibandingkan kuartal sebelumnya.
CEO PT Leads Property Services Indonesia Hendra Hartono mengatakan pasar kondominium saat ini membutuhkan berbagai stimulus untuk menjaga daya tarik, mulai dari insentif pajak, skema cicilan yang lebih fleksibel, hingga biaya iuran pengelolaan lingkungan (IPL) yang lebih efisien.
“Pasar kondominium masih bersaing ketat dengan rumah tapak, terutama karena harga yang kini relatif berdekatan,” ujarnya dikutip Senin (8/12/2025).
Associate Director Research & Consultancy Department Leads Property Martin Samuel Hutapea menambahkan permintaan kondominium pada kuartal III/2025 tercatat mencapai 288 unit dan masih didominasi segmen menengah atas serta luxury. Sementara itu, jumlah unit yang belum terserap mencapai sekitar 44.200 unit, mayoritas berasal dari proyek yang telah diluncurkan beberapa tahun sebelumnya.
Menurut Martin, proyek yang berada di lokasi strategis masih mencatat permintaan yang cukup baik, terutama dari end-user dengan mobilitas tinggi.
“Proyek yang dekat pusat bisnis, fasilitas lengkap, dan transportasi umum masih menjadi pilihan utama pasar,” katanya.
Dari sisi wilayah, pasokan kondominium masih didominasi kawasan outside central business district (OCBD) dengan kontribusi sekitar 79% dan harga rata-rata Rp26 juta per meter persegi. Adapun kawasan CBD menyumbang sekitar 21% total pasokan dengan harga rata-rata mencapai Rp58 juta per meter persegi.
Secara keseluruhan, harga jual rata-rata kondominium Jakarta tercatat sebesar Rp27,8 juta per meter persegi atau naik tipis sekitar 0,5% dibandingkan kuartal sebelumnya.
Dia menilai segmen middle to upper masih akan menjadi motor utama pasar kondominium Jakarta. Pengembang juga dinilai tetap akan berfokus pada proyek di kawasan yang memiliki akses kuat ke pusat bisnis dan transportasi publik.
Gaya hidup urban yang aktif membuat kalangan milenial dan Generasi Z cenderung memilih hunian yang praktis serta terhubung dengan mobilitas perkotaan. Kondominium yang berada di dekat transportasi umum dan kawasan komersial dinilai semakin diminati, terutama oleh first-home buyer yang ingin tetap tinggal di Jakarta.
Di sisi lain, segmen luxury condominium diperkirakan masih memiliki prospek yang kuat dalam beberapa tahun ke depan. Permintaan terutama datang untuk unit tiga hingga empat kamar tidur yang menyasar end-user kelas menengah atas dengan preferensi terhadap kenyamanan dan gaya hidup premium.
Memasuki 2026, Leads Property memperkirakan pasar kondominium Jakarta akan tetap stabil dengan tren permintaan yang cenderung meningkat. Pasokan diproyeksikan bertahan di kisaran 259.900 unit, sementara harga jual diperkirakan berada pada rentang Rp27,5 juta hingga Rp28 juta per meter persegi.
“Pasar kondominium Jakarta masih memiliki peluang pertumbuhan, terutama bagi pengembang yang mampu menyesuaikan proyek dengan perubahan preferensi konsumen dan kebutuhan gaya hidup urban,” tuturnya.






