Home / Go Green / Langkah Aksi Iklim RI Usai Pertemuan COP30

Langkah Aksi Iklim RI Usai Pertemuan COP30

IndonesianForecast, JAKARTA — Pemerintah Indonesia berkomitmen memadukan diplomasi, regulasi, dan mekanisme pasar karbon guna menerjemahkan target iklim menjadi peluang investasi hijau.

Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq mengatakan Konferensi Para Pihak ke-30 Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (COP30 UNFCCC) di Belem Brasil bukan sekadar negosiasi, melainkan pemicu akselerasi implementasi iklim di dalam negeri. 

“Kami memimpin dengan aksi menggabungkan diplomasi, regulasi, dan pasar karbon untuk memastikan komitmen iklim menjadi manfaat nyata bagi rakyat,” ujarnya dalam keterangan Rabu (3/12/2025).

Menurutya, posisi Indonesia sebagai penggerak solusi global dimana Indonesia berhasil mencatatkan tonggak sejarah dengan menjadi negara pertama yang memulai perdagangan karbon internasional berbasis teknologi (implementasi Artikel 6.2 Perjanjian Paris) melalui penandatanganan Kerangka Kerja antara PT PLN dan GGGI dalam kerja sama bilateral dengan Norwegia.

“Saat mekanisme Artikel 6 masih menjadi perdebatan global, Indonesia sudah selangkah lebih maju melaksanakan implementasi Artikel 6.2 secara penuh. Hal ini merupakan leading by example dan bukti nyata bahwa Indonesia tidak menunggu konsensus internasional untuk memulai aksi,” katanya.

Di Belem, Indonesia juga bergerak cepat dengan mempromosikan 44 proyek mitigasi iklim senilai total potensi pengurangan emisi sebesar 90 juta ton karbon dioksida ekuivalen (CO2e) dengan potensi transaksi awal sebesar 2,75 juta ton CO2e melalui IDX Carbon.

Keberhasilan ini semakin diperkuat oleh kontribusi aktif Indonesia dalam mendorong Belem Political Package sebanyak 29 keputusan konsensus penting yang memperkuat adaptasi, just transition, dan memfasilitasi dialog pendanaan besar (New Collective Quantified Goal on Climate Change/NCQG) yang berpotensi memobilisasi US$1,3 triliun per tahun.

Kehadiran Indonesia di COP30 memastikan kepentingan nasional, terutama terkait perlindungan lebih dari 50% tutupan hutan tropis dunia dan peran kunci dalam menyerap miliaran ton karbon, tetap terlindungi. Diplomasi Indonesia juga membuahkan hasil signifikan melalui penyerahan dokumen kunci yang dipersyaratkan UNFCCC, yakni second NDCFirst Biennial Transparency Report (BTR), dan National Adaptation Plan (NAP) yang mendapat apresiasi dari Sekretariat UNFCCC.

Selain itu, Indonesia mengamankan kerja sama strategis termasuk dukungan pendanaan US$5 juta dari Climate and Clean Air Coalition (CCAC) untuk pengurangan emisi metana dari sektor sampah, serta Nota Kesepahaman dengan Pemerintah Inggris, The Royal Foundation, dan kerja sama bilateral lainnya dengan Australia, Austria, Canada, Tiongkok, Brazil, dan Swedia.

Deputi Bidang Pengendalian Perubahan Iklim dan Tata Kelola Nilai Ekonomi Karbon Kementerian Lingkungan Hidup Ary Sudijanto menambahkan konsistensi kebijakan iklim nasional menjadi fondasi kredibilitas. Inventarisasi emisi 2023 menunjukkan adanya gap signifikan antara skenario BAU dan target mitigasi yang mencapai sekitar 506 juta ton CO2e, menuntut akselerasi kebijakan lintas sektor hingga 2030.

Untuk menjawab tantangan ini, KLH merekomendasikan langkah tindak lanjut mendesak penguatan regulasi dan implementasi dengan mempercepat harmonisasi regulasi, memperkuat peta jalan SNDC, dan peta jalan sub nasional, serta mempercepat investasi pada energi terbarukan, elektrifikasi industri, dan mitigasi blue carbon dan FOLU.

Kemudian, peningkatan tata kelola karbon dengan memperluas skema Nilai Ekonomi Karbon (NEK) dan mekanisme pasar karbon domestik, sekaligus meningkatkan kapasitas Monitoring, Reporting, and Verification (MRV) melalui integrasi sign smart dan sistem registry nasional.

Selanjutnya, pembiayaan dan teknologi dengan memaksimalkan mobilisasi sumber daya internasional melalui climate budget tagging, percepatan transfer teknologi, dan penguatan kolaborasi publik-swasta untuk realisasi proyek-proyek mitigasi prioritas.

    “Indonesia tidak menunggu konsensus global untuk bertindak; kami memimpin dengan aksi menggabungkan diplomasi, regulasi, dan pasar karbon untuk memastikan komitmen iklim menjadi manfaat nyata bagi rakyat. Pentingnya akuntabilitas dan komunikasi publik yang transparan untuk menjaga kredibilitas NDC di mata dunia dan masyarakat,” tuturnya.

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *