Beranda / Property / Summarecon Optimistis Capai Target Marketing Sales Rp5,2 Triliun, Pembeli Tunai Makin Dominan

Summarecon Optimistis Capai Target Marketing Sales Rp5,2 Triliun, Pembeli Tunai Makin Dominan

Indonesianforecast.com, JAKARTA — PT Summarecon Agung Tbk. (SMRA) optimistis dapat mencapai target marketing sales sebesar Rp5,2 triliun pada 2026 meskipun industri properti masih menghadapi tekanan dari kenaikan suku bunga Bank Indonesia (BI Rate), pelemahan nilai tukar rupiah, naiknya harga BBM, dan ketidakpastian ekonomi baik global dan nasional.

President Director PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) Adrianto P. Adhi mengatakan kondisi ekonomi saat ini memang tidak mudah bagi dunia usaha. Namun, dia melihat sejumlah perkembangan positif yang memberikan optimisme bagi pelaku industri properti termasuk upaya pemerintah menjaga stabilitas ekonomi dan nilai tukar rupiah.

“Kami tetap optimistis. Pemerintah terus berupaya menjaga kondisi ekonomi agar tetap stabil dan kami yakin berbagai tantangan yang ada saat ini dapat diatasi secara bertahap,” ujarnya dalam Public Expose, Kamis (11/6/2026).

Menurutnya, pasar properti khususnya segmen menengah dan menengah atas, masih menunjukkan ketahanan yang cukup baik dibandingkan segmen lainnya. Kelompok konsumen kalangan menengah ke atas ini dinilai masih memiliki kemampuan untuk melakukan pembelian properti meskipun suku bunga meningkat dan kondisi ekonomi masih mengalami ketidakpastian.

Hal ini membuat perusahaan akan tetap berfokus menghadirkan produk yang inovatif dan berkualitas tanpa mengorbankan standar pembangunan yang selama ini menjadi salah satu kekuatan perusahaan.

Dia menilai konsumen saat ini tidak hanya mempertimbangkan harga saat membeli properti tetapi juga semakin memperhatikan kualitas bangunan, fasilitas kawasan, lingkungan, hingga potensi kenaikan nilai investasi dalam jangka panjang.

“Setiap segmen memiliki kebutuhan yang berbeda. Tugas kami adalah memahami kebutuhan tersebut dan menerjemahkannya ke dalam produk, fasilitas, dan lingkungan kawasan yang sesuai,” katanya.

Di tengah kondisi pasar yang masih menantang, Adrianto menilai insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN-DTP) masih efektif menjaga daya beli di sektor properti. Menurutnya, program tersebut memberikan manfaat langsung kepada konsumen sekaligus mendorong pengembang mempercepat pembangunan proyek agar dapat memenuhi persyaratan insentif yang ditetapkan pemerintah.

“Menurut kami PPN-DTP masih sangat relevan dan masih dibutuhkan industri saat ini,” ucapnya.

Selain menjaga kualitas produk, perusahaan juga terus memperkuat pengelolaan arus kas secara prudent dan mempertahankan fokus pada pengembangan sembilan kawasan kota terpadu yang tersebar di Kelapa Gading, Serpong, Bekasi, Bogor, Bandung, Karawang, Makassar, Crown Gading, dan Tangerang.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur PT Summarecon Agung Lydia Tjio menambahkan realisasi marketing sales hingga akhir Mei 2026 telah mencapai sekitar Rp2 triliun atau setara 38% dari target tahunan sebesar Rp5,2 triliun. Pada kuartal I/2026, perseroan telah mencatat marketing sales sebesar Rp1,2 triliun atau tumbuh 37% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

“Kinerja penjualan sampai lima bulan pertama tahun ini masih cukup baik dan sesuai dengan yang kami harapkan,” ujarnya.

Dia menuturkan kontribusi terbesar terhadap penjualan masih berasal dari kawasan Summarecon Serpong yang menyumbang sekitar 45% dari total marketing sales perseroan.

Di tengah kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia menjadi 5,5%, perusahaan mulai melihat adanya perubahan perilaku konsumen dalam melakukan pembelian properti. Jika sebelumnya pembelian rumah banyak ditopang oleh fasilitas kredit pemilikan rumah (KPR), kini pembayaran tunai dan cicilan bertahap semakin mendominasi.

“Porsi KPR saat ini sekitar 40%, lebih rendah dibandingkan beberapa tahun sebelumnya yang bisa mencapai lebih dari 50%. Sekarang pembayaran lebih banyak melalui cash dan cash bertahap,” ucapnya.

Perubahan pola pembayaran tersebut menunjukkan bahwa konsumen utama Summarecon yang berasal dari kelompok menengah atas masih memiliki likuiditas yang cukup kuat meskipun biaya pendanaan meningkat.

Di sisi lain, fenomena tersebut juga mengindikasikan bahwa kenaikan suku bunga belum secara signifikan mengurangi minat beli, melainkan mendorong sebagian konsumen untuk menyesuaikan strategi pembiayaan mereka.

Selain perubahan pola pembayaran, perusahaan juga melihat konsumen menjadi semakin selektif dalam mengambil keputusan pembelian. Faktor kualitas produk, reputasi pengembang, kelengkapan fasilitas, hingga prospek pengembangan kawasan menjadi pertimbangan yang semakin penting.

“Kondisi tersebut membuat pengembang tidak bisa hanya mengandalkan lokasi atau harga, tetapi harus mampu menghadirkan nilai tambah yang jelas bagi konsumen,” tutur Lydia.

Sementara itu, penjualan yang memanfaatkan fasilitas PPN-DTP hingga Mei 2026 telah mencapai sekitar Rp874 miliar. Perseroan menargetkan kontribusi penjualan dari program tersebut mencapai Rp1,6 triliun sepanjang tahun ini.

Selain mengandalkan penjualan properti, Summarecon juga terus memperkuat bisnis pendapatan berulang (recurring income) melalui pusat perbelanjaan, perhotelan, dan aset investasi lainnya. Kontribusi recurring income terhadap pendapatan perusahaan secara konsisten berada di kisaran 25%-27%.

Pada awal tahun ini, perusahaan juga meresmikan Summarecon Mall Bekasi 2 yang mengusung konsep perpaduan aktivitas olahraga dan belanja. Ke depan, Summarecon juga tengah melanjutkan pengembangan Summarecon Mall Makassar yang ditargetkan beroperasi pada 2028.

Dengan capaian marketing sales yang telah mencapai 38% dari target tahunan, masih kuatnya permintaan dari segmen menengah atas, serta dukungan berbagai stimulus pemerintah, manajemen meyakini target marketing sales sebesar Rp5,2 triliun pada 2026 tetap berada dalam jalur yang realistis untuk dicapai.

Sebagai informasi, sepanjang 2025 Summarecon membukukan marketing sales sebesar Rp5,53 triliun atau melampaui target perusahaan sebesar Rp5 triliun. Perseroan juga mencatat pendapatan sebesar Rp8,77 triliun dengan laba bersih mencapai Rp1,20 triliun.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *