Beranda / Property / Permintaan Kondominium Jakarta Naik, Tapi Pengembang Masih Tahan Proyek Baru

Permintaan Kondominium Jakarta Naik, Tapi Pengembang Masih Tahan Proyek Baru

IndonesianForecast, JAKARTA — Pasar kondominium Jakarta masih mencatat pertumbuhan permintaan pada kuartal II 2026. Namun, di tengah tambahan pasokan dan tingkat penjualan yang relatif stabil, pengembang masih cenderung berhati-hati dalam meluncurkan proyek baru.

Berdasarkan laporan Jakarta Property Market Insight Q2 2026 dari Leads Property Services Indonesia, pasokan kumulatif kondominium Jakarta bertambah 336 unit pada kuartal II 2026 menjadi 260.236 unit. Tambahan tersebut berasal dari Tower 2 South Quarter Residence yang dibangun bersamaan dengan tower pertamanya.

Di sisi permintaan, pasar mencatat tambahan net absorption sebanyak 203 unit sehingga total unit yang terserap mencapai 216.471 unit. Sementara itu, tingkat penjualan (sales rate) tetap stabil di level 83,2%.

CEO Leads Property Services Indonesia Hendra Hartono mengatakan, “Kondisi pasar saat ini menunjukkan bahwa aktivitas transaksi masih berjalan, meski pengembang cenderung mengambil pendekatan hati-hati dalam menambah pasokan baru.”

Transaksi pada kuartal II 2026 juga banyak terkonsentrasi pada segmen upscale, terutama di subpasar Jakarta Selatan. Kondisi ini menunjukkan bahwa permintaan kondominium belum tersebar secara merata di seluruh segmen pasar.

Dari sisi pasokan, tidak terdapat proyek kondominium baru yang diluncurkan sepanjang kuartal II 2026. Pengembang masih berfokus pada penyerapan stok yang tersedia sebelum menambah pasokan dalam skala besar.

“Strategi pengembang tidak hanya bergantung pada peluncuran proyek baru, tetapi juga bagaimana menyesuaikan produk dengan permintaan yang tersedia di masing-masing segmen dan lokasi,” ujarnya dalam laporan, Kamis (24/9/2026).

Sementara itu, Associate Director Research & Consultancy Department Leads Property Services Indonesia Martin Samuel Hutapea menuturkan perkembangan pasokan dan permintaan pada kuartal II 2026 perlu dilihat bersama dengan kondisi harga serta daya beli pasar.

Harga kondominium Jakarta tercatat relatif stabil. Adapun rerata harga pasar pada kuartal II tahun 2026 mencapai Rp28,3 juta per meter persegi, naik sekitar 0,61% secara kuartalan.

Untuk kawasan CBD, rerata harga berada di level Rp58,58 juta per meter persegi, sedangkan kawasan prime area mencapai sekitar Rp49,87 juta per meter persegi.

Martin menjelaskan tekanan daya beli akibat pelemahan rupiah turut menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan pasar. Dalam kondisi tersebut, unit kondominium di pasar sekunder, khususnya yang berada di kawasan Transit-Oriented Development (TOD), memiliki keunggulan dari sisi harga yang lebih kompetitif.

“Unit kondominium di pasar sekunder, khususnya yang berada di kawasan TOD, menawarkan harga yang relatif lebih kompetitif,” katanya.

Di sisi lain, pengembang perlu menawarkan insentif harga agar dapat bersaing dengan unit di pasar sekunder. Proyek yang mendapatkan dukungan kebijakan seperti Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) juga memiliki faktor pendukung dalam menjaga daya tarik produk.

Dari sisi pipeline, tambahan pasokan berikutnya diperkirakan berasal dari Eluna Tower di Casa Grande Residence, Jakarta Selatan, dengan jumlah sekitar 400 unit.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa pengembang masih berhati-hati dalam menentukan waktu peluncuran proyek baru. Strategi pengembangan ke depan akan bergantung pada kemampuan membaca permintaan aktual, menentukan komposisi unit yang sesuai, serta menjaga daya saing harga di tengah persaingan dengan pasar sekunder.

Dengan tingkat penjualan yang masih berada di level 83,2% dan permintaan yang tetap bertambah, pasar kondominium Jakarta pada kuartal II tahun 2026 masih menunjukkan aktivitas transaksi. Namun, minimnya peluncuran proyek baru mencerminkan sikap pengembang yang lebih selektif dalam merespons kondisi pasar.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *