IndonesianForecast, JAKARTA — Harga rumah sekunder di Indonesia belum mampu mengimbangi laju inflasi. Pada September 2026, harga rumah seken hanya tumbuh 0,4% secara tahunan, jauh di bawah inflasi yang mencapai 3,3%. Namun, perlambatan di tingkat nasional tidak terjadi merata. Makassar justru mencatat kenaikan harga hingga 10,2%, menunjukkan perbedaan dinamika pasar properti antarkota.
Flash Report Oktober 2026 by Rumah123 mencatat Resale Price Index (RPI) rumah sekunder naik 0,1% secara bulanan pada September 2026. Secara tahunan, pertumbuhannya mencapai 0,4%, melambat dari 0,9% pada Juli.
Pada periode yang sama, inflasi tahunan meningkat dari 2,9% pada Juli menjadi 3,3% pada September. Kondisi tersebut membuat selisih pertumbuhan harga rumah seken dan inflasi melebar menjadi 2,9 poin persentase, dibandingkan 1,9 poin persentase pada Juli.
Pertumbuhan tahunan RPI bahkan tercatat berada di bawah inflasi selama 18 bulan berturut-turut sejak April 2025. Angka ini mengindikasikan bahwa kenaikan harga rumah seken secara riil masih tertahan.
Meski demikian, perlambatan secara nasional tidak serta-merta berarti harga rumah turun di seluruh wilayah. Data Rumah123 menunjukkan 10 dari 13 kota yang dipantau masih mencatat kenaikan harga tahunan pada September.
Head of Research Rumah123, Marisa Jaya, mengatakan pergerakan harga rumah seken sepanjang kuartal III 2026 memperlihatkan perbedaan kondisi pasar yang cukup tajam antarkota.
“Sepanjang kuartal ketiga, jarak antara pertumbuhan harga rumah seken dan inflasi terus melebar. Artinya, secara riil harga rumah seken cenderung tertahan. Tetapi pergerakan di tiap kota sangat berbeda: Makassar tumbuh dua digit, sementara Semarang dan Tangerang terkoreksi tipis,” ujarnya dalam laporan, Rabu (21/10/2026).
Di tengah pertumbuhan harga nasional yang terbatas, Makassar menjadi kota dengan kenaikan harga rumah seken tertinggi, mencapai 10,2% secara tahunan. Pertumbuhan ini juga relatif konsisten sepanjang kuartal III, dengan kisaran 9,5%–10,2%.
Denpasar menyusul dengan kenaikan 3,5%, diikuti Surakarta sebesar 3,3%. Sebaliknya, harga rumah seken di Yogyakarta cenderung stagnan dengan pertumbuhan 0,0%.
Dua kota lainnya bahkan mencatat koreksi tipis. Harga rumah seken di Tangerang turun 0,1%, sedangkan Semarang mengalami penurunan 0,5% secara tahunan.
Perbedaan tersebut memperlihatkan bahwa pasar rumah sekunder tidak bergerak dalam satu arah. Ketika sebagian kota masih mencatat pertumbuhan harga yang kuat, wilayah lain menghadapi pasar yang relatif datar atau terkoreksi.
Tren nasional perlu dibaca bersama kondisi masing-masing kota. Bagi calon pembeli, perkembangan harga lokal dapat menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan lokasi dan waktu pembelian. Sementara bagi penjual, kondisi pasar setempat penting untuk menentukan ekspektasi harga yang realistis.
Dari sisi pasokan, volume listing rumah sekunder meningkat 0,5% dibandingkan Agustus 2026. Namun, jumlahnya masih 13,6% lebih rendah dibandingkan September 2025.
Kontraksi tahunan tersebut berangsur membaik dari 16,4% pada Juli. Meski demikian, data ini menunjukkan bahwa jumlah rumah seken yang dipasarkan masih lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Di sisi permintaan, Tangerang dan Jakarta Selatan menjadi lokasi dengan proporsi pencarian rumah terbesar, masing-masing 13,2%. Jakarta Barat menyusul dengan 10,6%.
Perubahan popularitas pencarian juga menunjukkan pergeseran minat antarlokasi. Dibandingkan September 2025, proporsi pencarian Jakarta Pusat meningkat 1,3 poin persentase dan Jakarta Utara naik 1,0 poin persentase. Sebaliknya, proporsi pencarian di Jakarta Timur dan Tangerang turun masing-masing 0,9 poin persentase, sedangkan Jakarta Barat turun 0,6 poin persentase.
Meski Tangerang masih menjadi salah satu lokasi paling banyak dicari, peningkatan proporsi pencarian di Jakarta Pusat dan Jakarta Utara mengindikasikan perubahan minat terhadap kawasan di dalam Jakarta.
Marisa menilai data harga, suplai, dan popularitas pencarian perlu dibaca secara bersamaan untuk memahami kondisi pasar properti secara lebih utuh.
Dengan pertumbuhan harga rumah seken yang masih tertinggal dari inflasi, pasar properti pada September 2026 menunjukkan dinamika yang beragam. Angka nasional menggambarkan kenaikan harga yang terbatas, tetapi perbedaan antarkota menegaskan bahwa kondisi pasar tetap bergantung pada lokasi, ketersediaan suplai, dan pola pencarian konsumen.






