Beranda / Go Green / Produk Bagus Saja Tak Cukup, Industri Fesyen Diminta Perkuat Identitas Brand dan Bisnis Berkelanjutan

Produk Bagus Saja Tak Cukup, Industri Fesyen Diminta Perkuat Identitas Brand dan Bisnis Berkelanjutan

IndonesianForecast.com, JAKARTA — Industri fesyen Indonesia dinilai memasuki fase baru. Jika sebelumnya kualitas desain menjadi faktor utama untuk menarik perhatian pasar, kini keberhasilan sebuah jenama juga ditentukan oleh kemampuan membangun identitas yang kuat, mengelola bisnis secara profesional, dan mengomunikasikan nilai brand secara konsisten.

Persoalan tersebut menjadi salah satu benang merah dalam diskusi JF3 Talk 2026 bertajuk Recrafted: Shaping the Futureyang mempertemukan desainer, media, akademisi, dan pelaku industri di Summarecon Discovery, Jakarta Utara. Forum ini membahas tantangan yang dihadapi brand lokal untuk bertahan di pasar domestik sekaligus memperluas jangkauan ke tingkat internasional.

Advisor JF3 sekaligus pendiri LAKON Indonesia, Thresia Mareta, mengatakan banyak pelaku fesyen lokal masih memandang brand sebagai karya seni semata. Padahal, agar dapat bertahan dalam jangka panjang, sebuah jenama perlu dibangun sebagai bisnis yang memiliki sistem, struktur organisasi, dan strategi pertumbuhan yang jelas.

Menurutnya, sejumlah rumah mode global mampu bertahan puluhan tahun karena tidak bergantung pada satu figur kreatif. Brand memiliki fondasi bisnis yang memungkinkan regenerasi berjalan tanpa menghilangkan identitas yang telah dibangun.

“Kalau diperlakukan sebagai bisnis, umurnya bisa panjang karena creative director itu menjadi jabatan yang bisa digantikan. Tapi kalau diperlakukan sebagai art dan terlalu melekat pada satu nama, keberlanjutannya akan lebih sulit,” ujarnya dalam diskusi tersebut, Selasa (19/5/2026).

Thresia juga mengingatkan pelaku industri untuk tidak terjebak dalam persepsi pertumbuhan yang hanya berputar di lingkungan yang sama. Menurut dia, peningkatan eksposur atau popularitas belum tentu mencerminkan pertumbuhan yang sesungguhnya apabila belum diikuti pengakuan dari pasar yang lebih luas maupun ekosistem internasional.

“Kalau kita sendiri yang bilang kita bagus dan semakin besar, itu cuma pengakuan dari diri sendiri. Pengakuan harus datang dari pihak lain,” katanya.

Menurut Thresia, keberhasilan sebuah brand perlu diukur menggunakan standar yang lebih luas, termasuk kemampuan menjangkau pasar baru, membangun jejaring internasional, serta menjaga konsistensi identitas dalam jangka panjang.

Untuk itu, JF3 menghadirkan sejumlah program seperti Fashion Village dan CODE.STRT yang dirancang sebagai ruang uji pasar bagi para desainer. Melalui program tersebut, pelaku usaha dapat berinteraksi langsung dengan konsumen untuk memahami perilaku pasar, mengidentifikasi segmen pembeli, hingga menguji kesiapan produk sebelum melakukan ekspansi yang lebih besar.

Dalam pandangannya, peragaan busana dan bazar kini tidak lagi sekadar menjadi tempat memamerkan koleksi terbaru. Keduanya juga berfungsi sebagai laboratorium pasar yang memungkinkan desainer memahami kebutuhan konsumen secara lebih akurat.

Selain memperkuat pasar domestik, JF3 juga berupaya membuka akses desainer Indonesia ke pasar global melalui berbagai inisiatif, salah satunya PINTU Incubator yang memberikan kesempatan kepada brand lokal untuk membangun jaringan dengan pelaku industri internasional.

Di luar aspek bisnis, identitas dinilai menjadi fondasi yang menentukan daya tahan sebuah brand.

Desainer Hartono Gan menilai karakter sebuah jenama tidak dapat dibangun melalui narasi yang direkayasa demi mengikuti tren pasar.

Dia menilai identitas justru lahir dari pengalaman hidup, cara pandang, serta nilai yang benar-benar diyakini oleh kreatornya.

“Fashion bukan tentang baju semata. Apa yang kita makan, dengar, baca, dan ke mana kita pergi membentuk karakter. Dari situlah narasi lahir secara jujur,” ucapnya.

Hartono menilai tantangan generasi muda saat ini bukan terletak pada kemampuan membangun konsep atau visual. Banyak desainer muda memiliki kemampuan membuat moodboard dan gagasan yang menarik, tetapi belum selalu diikuti kemampuan mengeksekusi ide tersebut secara konsisten.

Di tengah maraknya promosi berbayar dan endorsement di media sosial, masyarakat juga dinilai semakin mampu membedakan antara komunikasi yang autentik dengan pesan pemasaran yang dibuat secara artifisial. Oleh karena itu, kejujuran menjadi modal penting dalam membangun hubungan jangka panjang dengan konsumen.

Ia juga mengingatkan bahwa popularitas di media sosial tidak selalu berbanding lurus dengan pertumbuhan bisnis.

“Viral tidak sama dengan sales. Menjadi viral itu bonus, tetapi tepat sasaran jauh lebih penting,” tuturnya.

Perubahan perilaku konsumen juga turut mengubah cara brand membangun komunikasi.

Editor Harian Kompas Hilmy Faiq mengatakan konsumen saat ini tidak lagi membeli produk hanya berdasarkan desain atau kualitas material.

Menurutnya, isu keberlanjutan, pemberdayaan masyarakat, kesejahteraan pekerja, hingga dampak sosial kini menjadi bagian dari pertimbangan konsumen sebelum melakukan pembelian.

“Kenyamanan di hati kini lebih penting daripada kenyamanan di tubuh. Pembeli ingin merasa menjadi orang yang lebih baik ketika membeli suatu produk,” katanya.

Dalam kondisi tersebut, kualitas produk tidak lagi cukup. Brand juga dituntut mampu menunjukkan bahwa nilai yang mereka komunikasikan benar-benar tercermin dalam praktik bisnis sehari-hari. Jika tidak, konsumen berpotensi mempertanyakan kredibilitas dan komitmen sebuah brand.

Dari sisi media, Editor Wolipop Daniel Ngantung menilai konsistensi menjadi faktor yang membedakan brand yang benar-benar memiliki nilai dengan brand yang sekadar memanfaatkan narasi untuk kepentingan promosi.

“Kalau tidak konsisten, publik akan mempertanyakan otentisitasnya. Media juga bisa membedakan mana brand yang benar-benar punya value dan mana yang hanya menggunakan narasi sebagai alat pemasaran,” ucapnya.

Daniel menambahkan hubungan antara media dan brand juga perlu dibangun secara berkelanjutan. Di tengah padatnya agenda peliputan, media tidak hanya mempertimbangkan kualitas koleksi yang ditampilkan, tetapi juga perkembangan dan konsistensi sebuah brand dari waktu ke waktu.

Menurut dia, banyak brand baru menghubungi media hanya ketika membutuhkan publikasi. Padahal, komunikasi yang terjalin secara konsisten sering kali menjadi faktor yang membuat media lebih memahami potensi sebuah brand.

“Media bisa tahu sebuah brand punya sesuatu yang bagus dan layak diangkat walaupun belum populer di mata publik. Biasanya itu datang dari komunikasi dan hubungan yang sudah terjalin,” tuturnya.

Daniel juga menyoroti pengalaman sejumlah brand Indonesia yang mengikuti Paris Trade Show melalui program PINTU. Menurut dia, daya tarik produk Indonesia tidak hanya terletak pada desain, tetapi juga pada kemampuan membangun presentasi dan storytelling yang kuat.

Sejumlah brand lokal bahkan berhasil menarik perhatian buyer dari berbagai negara melalui pendekatan yang lebih personal dan autentik. Keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa fesyen dapat menjadi instrumen diplomasi budaya yang memperkenalkan identitas Indonesia ke panggung internasional.

Namun demikian, kemampuan komunikasi masih menjadi tantangan yang dihadapi banyak pelaku fesyen lokal. Kolumnis fashion Lynda Ibrahim menilai masih banyak desainer yang memiliki karya berkualitas, tetapi belum mampu menjelaskan identitas maupun diferensiasi brand mereka secara jelas.

Akibatnya, media sering kesulitan menemukan sudut pandang yang menarik untuk diangkat. Bahkan, tidak sedikit brand yang mengangkat isu yang sama tanpa menunjukkan keunikan yang membedakannya dari kompetitor.

“Informasi tentang brand tidak boleh hanya tersimpan di kepala desainer. Harus bisa diterjemahkan menjadi komunikasi yang jelas dan mudah dipahami,” ujarnya.

Editor-in-Chief NOW! Jakarta Sari Widiawati menambahkan pembaca internasional, khususnya kalangan ekspatriat, tidak terlalu mempersoalkan apakah seorang desainer sudah terkenal atau belum.

Yang mereka cari justru cerita di balik sebuah karya, mulai dari proses kreatif, dampak sosial, keterlibatan pengrajin lokal, hingga nilai kemanusiaan yang dihasilkan oleh sebuah brand.

“Mereka mencari behind the story, dampak sosial, proses pembuatan, kejujuran, dan nilai kemanusiaan di balik karya,” katanya.

Menurut Sari, cerita yang autentik sering kali memiliki daya tarik yang lebih kuat dibandingkan popularitas semata. Karena itu, pelaku industri perlu mulai melihat storytelling bukan sebagai pelengkap pemasaran, melainkan bagian dari strategi membangun nilai brand.

Di tengah perubahan tren yang semakin cepat, para pelaku industri sepakat bahwa masa depan fesyen Indonesia tidak lagi ditentukan oleh kemampuan menciptakan produk yang menarik secara visual semata.

“Kemampuan membangun identitas yang autentik, memahami pasar, mengelola bisnis secara profesional, serta mengomunikasikan nilai brand secara konsisten akan menjadi faktor utama yang menentukan daya tahan sebuah jenama di pasar global,” ucapnya.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *