IndonesianForecast, JAKARTA — Pasar apartemen sewa di Jakarta diproyeksikan mencatat tingkat hunian sebesar 62%—63% sepanjang 2026 di tengah perlambatan permintaan dan masih berlanjutnya kondisi kelebihan pasokan.
Berdasarkan laporan PT Leads Property Services Indonesia, tingkat hunian apartemen sewa di Jakarta pada kuartal I/2026 tercatat sebesar 62,3%. Pada periode tersebut, tidak terdapat penyelesaian proyek baru sehingga total pasokan masih berada di level 11.067 unit.
CEO PT Leads Property Services Indonesia Hendra Hartono mengatakan meskipun tidak ada tambahan pasokan baru pada awal tahun, aktivitas pengembangan masih berlangsung. Dua proyek baru dijadwalkan rampung pada akhir 2026 dan akan dikelola oleh Ascott.
“Hal ini memperkuat posisi Ascott di sektor apartemen sewa Jakarta,” ujarnya dalam laporan, dikutip Jumat (8/5/2026).
Menurutnya, di tengah tingginya persaingan pasar, pengembang masih memiliki peluang mengonversi unit kondominium strata-title yang belum terserap menjadi apartemen sewa sebagai strategi optimalisasi inventaris. Selain itu, pasokan baru juga diperkirakan tetap terintegrasi dalam proyek mixed-use development.
Pada kuartal I/2026, permintaan pasar apartemen sewa tercatat melambat meskipun sempat terdorong oleh kebutuhan short stay selama musim liburan. Permintaan terutama berasal dari perpanjangan sewa korporasi, sementara kedatangan ekspatriat baru masih terbatas.
Leads Property mencatat ketidakpastian geopolitik global dan gangguan perjalanan udara turut membuat sejumlah perusahaan menunda penempatan tenaga kerja ekspatriat ke Indonesia. Kondisi tersebut menyebabkan permintaan turun sebanyak 121 unit secara kuartalan menjadi 6.891 unit.
Associate Director PT Leads Property Services Indonesia Martin Samuel Hutapea mengatakan perlambatan permintaan menyebabkan tingkat hunian terkoreksi tipis menjadi 62,3%.
Menurutnya, apartemen berlayanan masih mencatat performa lebih baik dengan tingkat hunian 64,93%, dibandingkan apartemen non-servis sebesar 54%.
“Hal ini menunjukkan apartemen yang lebih baru dan modern masih lebih diminati pasar, terutama karena memiliki fleksibilitas untuk mengakomodasi penyewa jangka panjang maupun pendek,” katanya.
Dari sisi harga, tarif sewa apartemen secara umum relatif stabil seiring lemahnya permintaan pasar. Pada kuartal I/2026, rata-rata tarif sewa tercatat sebesar US$19,58 per meter persegi per bulan atau naik tipis 1% secara kuartalan.
Apartemen berlayanan masih membukukan tarif lebih tinggi sebesar US$21,80 per meter persegi per bulan, sedangkan apartemen non-servis berada di level US$12,67 per meter persegi per bulan.
Martin mengatakan ketegangan geopolitik di Timur Tengah berpotensi memengaruhi penempatan ekspatriat dari Eropa ke Indonesia, khususnya Jakarta, apabila konflik berlanjut hingga akhir tahun.
Kendati demikian, pasar apartemen sewa dinilai masih memiliki peluang pertumbuhan. Selain adanya potensi konversi unit strata-title yang belum terjual, peningkatan jumlah ekspatriat di Jakarta sepanjang tahun lalu juga dinilai dapat memperluas basis calon penyewa pada tahun ini.
“Masih ada tambahan pasokan baru yang dijadwalkan selesai pada 2026. Namun, tingkat hunian diperkirakan tetap berada di kisaran 62% hingga 63%,” ujar Martin.






