IndonesianForecast, JAKARTA — Pasar ritel Jakarta masih menunjukkan pergerakan positif pada kuartal I/2026 di tengah ketidakpastian geopolitik global. Permintaan ruang ritel tetap tumbuh, didorong tren gaya hidup dan konsumsi masyarakat perkotaan yang masih kuat.
Berdasarkan laporan Leads Property Services Indonesia, Jakarta Selatan mencatat tambahan pasokan baru melalui pembukaan Pondok Indah Mall 5 (PIM 5) dengan luas sekitar 26.400 meter persegi. Dengan tambahan tersebut, total pasokan ruang ritel Jakarta kini mencapai 3,58 juta meter persegi.
CEO PT Leads Property Services Indonesia Hendra Hartono menilai ekspansi PIM 5 mencerminkan perubahan konsep pusat perbelanjaan yang kini semakin menonjolkan aspek gaya hidup dan pengalaman berbelanja.
Pada kuartal I/2026, pasar ritel Jakarta mencatat penyerapan ruang sebesar 26.465 meter persegi. Permintaan ruang ritel masih didominasi kategori fesyen dan aksesori, di samping sektor food and beverage (F&B) yang tetap menjadi motor utama pertumbuhan tenant.
Ekspansi merek asal China juga masih menjadi tren di pasar ritel Jakarta. Sejumlah brand seperti Xiaomi, KKV, Chagee, Molly Tea, hingga Top Toy tercatat aktif mencari ruang usaha di berbagai pusat perbelanjaan.
Selain itu, pasar ritel Jakarta juga kedatangan merek sepatu premium asal Italia, Golden Goose, yang membuka gerai di Plaza Senayan, kawasan CBD Jakarta.
Hendra mengatakan meski ada tambahan pasokan baru, tingkat hunian pusat perbelanjaan Jakarta tetap relatif stabil di level 90,6% atau naik tipis 0,1 poin persentase dibandingkan kuartal sebelumnya.
“Masuknya pasokan baru tahun ini diperkirakan sempat menekan tingkat hunian ke kisaran 88% hingga 90%. Namun, permintaan diprediksi tetap berlanjut sehingga tingkat okupansi berpotensi kembali stabil di level 90% hingga 91%,” ujarnya dikutip dalam laporan, Rabu (13/5/2026).
Associate Director PT Leads Property Services Indonesia Martin Samuel Hutapea menambahkan sejumlah pusat perbelanjaan mulai melakukan penyesuaian tarif sewa pada awal tahun.
Rata-rata tarif sewa ruang ritel Jakarta tercatat sebesar Rp480.400 per meter persegi per bulan atau naik 2,2% dibandingkan kuartal sebelumnya.
Kawasan CBD Jakarta mencatat tarif sewa rata-rata sebesar Rp593.300 per meter persegi per bulan atau naik 1,3% secara kuartalan. Sementara itu, kawasan luar CBD mencatat kenaikan lebih tinggi sebesar 2,8% menjadi Rp432.400 per meter persegi per bulan.
Menurut Martin, pasar ritel Jakarta masih bergerak positif di tengah situasi geopolitik global yang belum stabil. Daya beli masyarakat Jakarta yang relatif tinggi dinilai menjadi salah satu faktor utama yang terus menarik minat merek internasional untuk berekspansi.
Dengan produk domestik regional bruto (PDRB) per kapita mencapai sekitar US$12.500 per tahun, Jakarta dinilai masih menjadi pasar potensial bagi retailer asal China, Jepang, Korea Selatan, hingga Eropa.
“Pasar ritel Jakarta masih berpotensi menarik lebih banyak ekspansi merek asing, terutama yang menyasar pusat perbelanjaan premium dengan traffic pengunjung tinggi,” ucapnya.
Di tengah persaingan pasar, retailer kini juga semakin selektif dalam melakukan ekspansi. Kondisi tersebut mendorong pengelola pusat perbelanjaan untuk terus melakukan peremajaan konsep dan menghadirkan pengalaman baru bagi pengunjung.
Martin menilai pengembangan konsep lifestyle sementara di area land bank menjadi strategi yang lebih relevan dibandingkan membangun mal tertutup baru.
Sementara itu, pasar ritel Jakarta masih akan kedatangan satu pusat perbelanjaan baru tahun ini, yakni Lippo Mall Eastside. Kehadiran proyek baru tersebut diperkirakan akan memberi tekanan sementara terhadap tingkat hunian pusat perbelanjaan di Jakarta.






