IndonesianForecast, JAKARTA — JF3 Fashion Festival 2026 kembali menjadi ruang pertemuan berbagai perspektif mode dari Indonesia dan dunia. Tahun ini, dialog lintas budaya menjadi benang merah yang menghubungkan setiap koleksi, mulai dari kolaborasi Indonesia dan Prancis, pertemuan budaya Senegal dan Indonesia, hingga eksplorasi identitas, teknologi, dan keberlanjutan dalam mode kontemporer.
Kolaborasi Indonesia dan Prancis hadir melalui program PINTU Residency, yang mempertemukan desainer dari kedua negara untuk mengembangkan koleksi bersama. Salah satunya adalah GARUDA, karya desainer Indonesia Beatrice Angelica dan desainer Prancis Mickaël Nana.
Terinspirasi dari semboyan Bhinneka Tunggal Ika, koleksi ini memadukan warisan tekstil Indonesia dengan tailoring Barat melalui songket dan tenun Lombok yang dikembangkan bersama para perajin lokal. Hasilnya adalah sepuluh tampilan siap pakai yang menunjukkan tradisi dapat diterjemahkan ke dalam desain kontemporer tanpa kehilangan identitasnya.
Semangat serupa hadir dalam AU LARGE, kolaborasi Lisa Rayar dari Prancis dan Gabriel Marcella dari Indonesia. Berangkat dari kesamaan budaya maritim kedua negara, koleksi ini menghadirkan 12 tampilan yang memadukan batik, denim, kain teknis, dan tailoring. Motif batik baru yang menggabungkan pola tekstil Indonesia dengan garis-garis maritim Prancis menjadi salah satu inovasi utama dalam koleksi tersebut, yang seluruh prosesnya melibatkan para perajin batik Indonesia.
Kolaborasi lintas negara juga terlihat dalam koleksi Fas Delman, hasil kerja sama label Prancis TAREET dan label denim Indonesia DENIMITUP.
Pendiri TAREET Etienne Diop mengatakan ide koleksi berawal dari kesamaan budaya Senegal dan Indonesia yang sama-sama memiliki sejarah penggunaan kuda sebagai alat transportasi masyarakat. Dari sanalah lahir nama Fas Delman, yang menggabungkan kata Fas, berarti kuda dalam bahasa Wolof di Senegal, dan Delman, kereta kuda tradisional Indonesia. Inspirasi tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam streetwear kontemporer melalui eksplorasi siluet yang terinspirasi dari djellaba, busana tradisional Afrika Barat, dengan permainan konstruksi dan volume yang dinamis.
Sementara itu, desainer Prancis Louise Marcaud menghadirkan koleksi Louiseguard yang lahir dari pengalamannya mengikuti program PINTU Cultural Visit di Indonesia tahun lalu. Alih-alih berawal dari rancangan di studio, ide koleksi justru muncul ketika ia menemukan sisa kain batik hasil uji coba yang akan dibuang di sebuah studio batik di Yogyakarta.
Material tersebut kemudian dibawa ke Paris dan menjadi titik awal eksplorasi yang dipadukan dengan lurik, tailoring Prancis, serta berbagai kenangan tentang Indonesia, mulai dari pasar tekstil hingga pertunjukan Sendratari Ramayana. Menurut Louise, keterbatasan material justru mendorongnya mengembangkan teknik baru untuk menghasilkan tekstur yang terinspirasi dari lurik.
Pendekatan berbeda ditawarkan desainer Prancis-Tiongkok Fengyuan DAI melalui label 30%70. Menurutnya, nama label tersebut lahir dari gagasan tentang keseimbangan identitas sebagai seseorang yang lahir di Tiongkok dan telah menetap di Prancis selama 16 tahun.
Melalui busana genderless, Fengyuan memadukan sensibilitas tailoring Eropa dengan warna, tekstur, dan pendekatan artistik yang dipengaruhi budaya Asia. Berbagai material sisa produksi dari rumah mode maupun manufaktur juga dimanfaatkan kembali sebagai bagian dari komitmennya terhadap praktik fesyen yang lebih bertanggung jawab. Baginya, identitas bukan sesuatu yang tetap, melainkan terus berkembang melalui budaya, pengalaman, dan lingkungan tempat seseorang hidup.
Eksplorasi mode dan teknologi dihadirkan oleh studio asal Paris Rohan Mirza melalui koleksi Stonehaven S/S 2026. Terinspirasi dari dunia video game, koleksi tersebut mengangkat kisah pernikahan dua vampir sebagai metafora tentang keluarga, loyalitas, dan hubungan yang bertahan melampaui waktu.
Rohan memanfaatkan pencetakan tiga dimensi (3D printing) sebagai medium utama dalam proses kreatifnya, mulai dari membangun aksesori hingga menciptakan cetakan untuk material silikon. Menurutnya, teknologi menjadi cara untuk menerjemahkan dunia digital menjadi objek nyata yang dapat dikenakan.
Beragam koleksi tersebut memperlihatkan bahwa JF3 Fashion Festival tidak hanya menjadi panggung presentasi karya, tetapi juga ruang pertemuan berbagai budaya, teknologi, dan keahlian. Dari wastra Indonesia, budaya maritim, hingga dunia digital, setiap koleksi menghadirkan cara berbeda dalam melihat bagaimana mode dapat menjadi bahasa yang menjembatani identitas, tradisi, dan inovasi di tengah industri fesyen global.






