IndonesianForecast, JAKARTA — Panggung JF3 Fashion Festival 2026 menghadirkan beragam perspektif baru dari para desainer muda Indonesia dan Prancis. Ada yang mengolah simbol angsa menjadi representasi karakter, mengangkat perjalanan perempuan, menafsirkan kembali sejarah busana Eropa, mengeksplorasi tubuh perempuan melalui knitwear, hingga menerjemahkan sejarah keluarga petani menjadi koleksi kontemporer. Keberagaman tersebut menunjukkan bagaimana fesyen berkembang menjadi ruang untuk mengeksplorasi gagasan, identitas, dan pengalaman personal.
Salah satu sorotan datang dari Arron Bryan Fernaldy Wongso, pemenang Future Fashion Designer 2026 sekaligus lulusan Susan Budihardjo Fashion Forward Institute. Tahun ini menjadi kali ketiganya tampil di JF3. Jika pada dua edisi sebelumnya ia hadir sebagai mahasiswa dengan koleksi mini, kali ini Arron kembali sebagai pemenang kompetisi sekaligus brand ambassador Future Fashion Designer.
Melalui koleksi OPPOSITE: The Fallen Virtue, Arron mengeksplorasi tema dualitas, kontras, dan transformasi karakter. Inspirasi tersebut berangkat dari bridal headpiece bergaya Art Nouveau karya Rinaldy Yunardi berbentuk angsa putih yang identik dengan kemurnian, kelembutan, dan keanggunan. Arron kemudian membalik perspektif tersebut menjadi figur angsa hitam yang melambangkan keberanian, karakter antagonis, kekuatan, serta aura yang lebih dramatis. Meski menghadirkan siluet yang lebih maskulin dan tegas, ia tetap mempertahankan unsur elegan sebagai benang merah antara inspirasi awal dan interpretasi barunya.
Konsep tersebut diwujudkan melalui empat tampilan yang memadukan material tweed, jet black fabric, dan tulle dengan teknik draping, pleats, gathered, serta sculptural forms. Ia juga merancang sendiri aksesori yang memanfaatkan waste plastic sebagai elemen artistik sekaligus eksplorasi terhadap material alternatif.
Menurut Arron, tantangan terbesar bukan terletak pada jumlah tampilan, melainkan pada proses konstruksi dan penyelesaian setiap detail dalam waktu yang relatif singkat. Ia berupaya menjaga kualitas teknik, proporsi siluet, hingga kerapian setiap busana agar tetap sesuai dengan konsep yang ingin disampaikan.
Kesempatan tampil bersama desainer Prancis juga menjadi pengalaman berharga baginya. Ia menilai interaksi dengan desainer dari negara lain membuka wawasan mengenai proses kreatif sekaligus mendorongnya untuk terus mengembangkan kemampuan.
“Sebagai desainer muda, kita harus terus belajar dari mana saja, baik melalui pendidikan formal, internet, maupun bertemu langsung dengan desainer lain. Kolaborasi seperti ini membuka banyak koneksi, perspektif, dan inspirasi baru,” ujarnya, Kamis (23/7/2026).
Menurutnya, desainer muda juga perlu mampu menyeimbangkan idealisme kreatif dengan kebutuhan pasar.
“Yang kita desain bukan hanya harus menarik secara visual, tetapi juga harus menjadi sesuatu yang ingin dipakai oleh orang lain,” katanya.
Selain Arron, label Saul menghadirkan koleksi The Next Chapter yang merayakan perjalanan perempuan dalam setiap fase kehidupannya. Koleksi tersebut mengangkat keberanian untuk terus bertumbuh, melangkah menuju mimpi yang lebih besar, serta meyakini bahwa setiap akhir selalu membuka awal yang baru.
Pendekatan berbeda ditawarkan Emballez-moi (Wrap Me Up) yang menghadirkan dialog antara sejarah dan ekspresi kontemporer. Terinspirasi dari busana Eropa abad ke-17 hingga ke-18, koleksi tersebut memadukan tailoring dengan draperi lembut serta siluet oversized yang menyerupai material pelindung kemasan seperti terpal, plastik transparan, dan pita perekat. Enam tampilan yang dihadirkan mengeksplorasi gagasan mengenai perlindungan, transformasi, dan memori melalui interpretasi baru terhadap warisan sejarah.
Sementara itu, desainer knitwear Maurine Willebien melalui koleksi Beauties mengangkat perspektif female gazedengan menginterpretasikan ulang pakaian dalam menjadi busana luar melalui teknik knitting, draping, layering, serta konstruksi berbasis tali lingerie. Hampir seluruh material yang digunakan berasal dari deadstock, material hasil upcycling, hingga kulit berbasis mycelium sebagai alternatif kulit konvensional, sehingga menghadirkan pendekatan yang memadukan eksplorasi desain dan keberlanjutan.
Inspirasi yang sangat personal juga menjadi landasan koleksi 3088 karya Aurélien Voegelin melalui label DAURIAC. Berangkat dari sejarah keluarganya sebagai petani di wilayah Gers, Prancis, ia menerjemahkan arsip keluarga, alat pertanian, tekstur material, hingga lanskap pedesaan menjadi koleksi genderless yang memadukan tailoring, kerajinan tangan, pewarna alami, teknik braiding, macramé, serta material hasil pemanfaatan kembali. Tiga figur utama, yakni the beast, the stable, dan the scarecrow, menjadi fondasi visual dalam membangun identitas koleksi tersebut.
Di balik karya-karya yang tampil di atas runway, terdapat proses pengembangan yang berlangsung jauh sebelum koleksi dipresentasikan kepada publik. Proses tersebut difasilitasi PINTU melalui tiga jalur pengembangan, yakni Incubator, Accelerator, dan Residency, yang menghubungkan talenta Indonesia dengan mentor, institusi pendidikan, serta pelaku industri mode di Prancis.
PINTU Incubator: Membangun Fondasi Talenta Mode
Pada 2026, PINTU Incubator menghadirkan 39 sesi pengembangan kapasitas yang mencakup strategi bisnis, merchandising, pengembangan produk, komunikasi, hukum dan kekayaan intelektual, ekspor-impor, keuangan, serta styling. Program tersebut melibatkan 18 mentor dari Indonesia dan Prancis dengan latar belakang desain, bisnis, ritel, hukum, keuangan, komunikasi, pemasaran, pengembangan produk, hingga industri kreatif.
Setelah melalui rangkaian kelas, mentoring, evaluasi, dan kurasi, lima peserta terpilih untuk mempresentasikan koleksi mereka di JF3 Fashion Festival 2026, yakni dua brand Saul Studio dan Toja House, serta tiga desainer, ALDRIE, ANDREAN NR, dan DACIA.
Kelima peserta tersebut menampilkan pendekatan yang berbeda-beda, mulai dari eksplorasi konstruksi dan tailoring, pengembangan aksesori bersama artisan, reinterpretasi tekstil Nusantara, pendekatan genderless, praktik upcycling, hingga pengembangan produk yang mengedepankan craftsmanship, inklusivitas, dan tanggung jawab dalam proses produksi.
PINTU Accelerator: Membuka Akses ke Jejaring Global
Tahap berikutnya diwujudkan melalui Accelerator yang mempertemukan brand Indonesia dengan mitra internasional. Tahun ini, DENIMITUP mengembangkan koleksi bersama label Prancis TAREET, memperlihatkan bagaimana dua pendekatan kreatif dapat dipadukan dalam satu proses perancangan.
Pada saat yang sama, brand Indonesia Lil Public mendapat kesempatan berpartisipasi dalam pertunjukan tahunan École Duperré di Paris pada awal Juli 2026. Keterlibatan tersebut memperluas pengalaman presentasi sekaligus membuka interaksi langsung dengan lingkungan pendidikan dan industri mode Prancis.
PINTU Residency: Kolaborasi yang Berangkat dari Pertukaran Budaya
Program Residency yang memasuki penyelenggaraan kedua mempertemukan dua desainer Indonesia dan dua desainer Prancis dalam residensi selama empat bulan yang dikurasi oleh Thresia Mareta, Pascaline Wilhelm, dan Carol Meyer.
Sejak April hingga Juli 2026, para peserta menjalani riset bersama, mempelajari teknik tekstil tradisional, bekerja bersama komunitas artisan, serta mengembangkan koleksi melalui pertukaran pengetahuan dan pengalaman budaya.
Di Lombok, desainer Prancis Mickael Nana bersama desainer Indonesia Beatrice Angelica menciptakan koleksi GARUDA yang memadukan tailoring Barat dengan tenun dan songket Lombok melalui interpretasi kontemporer terhadap simbol Garuda sebagai representasi kekuatan, kebebasan, dan identitas.
Sementara itu, di Mojokerto, Lisa Rayar dan Gabriel Marcella mengembangkan koleksi AU LARGE yang mempertemukan tradisi maritim Prancis dengan budaya pesisir Jawa melalui eksplorasi batik, struktur tailoring, dan referensi seragam dalam siluet kontemporer. Kedua koleksi tersebut akan dipresentasikan untuk pertama kalinya di JF3 Fashion Festival 2026.
Lebih dari sekadar menghasilkan koleksi, Residency menjadi ruang bagi para desainer untuk saling bertukar metode kerja, mengenal material lokal, dan membangun hubungan dengan para artisan yang terlibat dalam proses kreatif.
Melalui Incubator, Accelerator, dan Residency, PINTU menghadirkan ekosistem yang mendampingi perjalanan para pelaku mode sejak tahap pengembangan ide hingga memperoleh kesempatan tampil di panggung internasional. Kehadiran ekosistem tersebut memperlihatkan bahwa lahirnya sebuah koleksi tidak hanya bergantung pada kreativitas seorang desainer, tetapi juga pada proses pembelajaran, pendampingan, serta pengalaman lintas budaya yang membentuknya.






