IndonesianForecast, JAKARTA — PT Summarecon Agung Tbk mulai pembangunan Stasiun Bekasi Ekstensi sebagai tahap awal pengembangan Transit Oriented Development (TOD) Summarecon Bekasi.
Proyek yang dikembangkan bersama Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Kementerian Perhubungan, Pemerintah Provinsi Jawa Barat, serta Pemerintah Kota Bekasi ini menjadi langkah awal menghadirkan kawasan perkotaan yang mengintegrasikan transportasi massal, hunian, pusat bisnis, ruang komersial, dan fasilitas publik dalam satu ekosistem.
Groundbreaking Stasiun Bekasi Ekstensi menandai babak baru kolaborasi pemerintah dan sektor swasta dalam pengembangan kawasan berbasis transit. Proyek ini melanjutkan komitmen Summarecon dalam memperkuat konektivitas di Kota Bekasi. Saat mengembangkan Summarecon Bekasi pada 2010, perusahaan membangun Fly Over KH Noer Ali sepanjang sekitar satu kilometer yang menghubungkan wilayah utara dan selatan rel kereta api sekaligus membantu mengurai kemacetan di Jalan Perjuangan.
President Director PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) Adrianto P. Adhi mengatakan pembangunan Stasiun Bekasi Ekstensi merupakan fase pertama dari pengembangan TOD Summarecon yang telah dipersiapkan sebagai kawasan terpadu berbasis transportasi massal.
“Sebetulnya pembangunan Stasiun Bekasi Ekstensi ini merupakan awal dari sebuah TOD yang lebih besar. Kenapa dimulai dari stasiun? Karena TOD harus berbasis transit dan mesinnya adalah stasiun. Di lokasi ini sudah ada jalur rel sehingga stasiun menjadi titik awal untuk mewujudkan kawasan TOD,” ujarnya Jumat (24/7/2026).
Menurut Adrianto, pengembangan kawasan tersebut merupakan implementasi Peraturan Presiden yang menetapkan lokasi tersebut sebagai kawasan TOD. Pembangunan dilakukan secara bertahap sesuai regulasi pemerintah melalui skema konsesi selama 12 tahun bersama PT Kereta Api Indonesia (Persero).
Stasiun Bekasi Ekstensi juga tidak dibangun untuk menggantikan Stasiun Bekasi yang telah beroperasi, melainkan membagi arus penumpang agar kapasitas layanan meningkat.
“Stasiun Bekasi yang ada sekarang sudah sangat baik. Namun seiring berkembangnya Kota Bekasi, jumlah penumpang terus meningkat. Karena itu, Stasiun Bekasi Ekstensi akan melayani masyarakat dari sisi barat dan selatan, sedangkan stasiun eksisting tetap melayani penumpang dari arah utara dan timur. Dengan pembagian ini, kepadatan penumpang akan terurai secara otomatis,” katanya.
Penumpang nantinya akan terhubung ke Stasiun Bekasi melalui sky bridge tanpa mengubah sistem persinyalan maupun operasional kereta yang sudah berjalan.
Summarecon menargetkan pembangunan Stasiun Bekasi Ekstensi rampung dalam waktu sekitar 18 bulan dengan investasi sekitar Rp80 miliar. Proyek tersebut berdiri di atas lahan seluas 7.038 meter persegi dengan luas bangunan sekitar 6.733 meter persegi yang terdiri atas bangunan stasiun tiga lantai, koridor penghubung, dan sky bridge.
Setelah pembangunan stasiun selesai, Summarecon akan melanjutkan pengembangan kawasan mixed use di bekas Marketing Gallery yang terintegrasi dengan jaringan transportasi publik.
“Di sebelah sana nanti akan ada kawasan TOD yang kami kembangkan. Kami masih merencanakan mixed use, tetapi waktunya akan disesuaikan dengan perkembangan pasar dan bangkitan aktivitas kawasan,” ucapnya.
Kawasan tersebut dirancang menjadi simpul integrasi berbagai moda transportasi yang menghubungkan Bekasi Utara, kawasan Summarecon Bekasi, TOD Bekasi Ekstensi, hingga Stasiun LRT Jabodebek.
“Masyarakat nantinya bisa memilih menggunakan Commuter Line, BRT maupun LRT. Itulah esensi sebuah Transit Oriented Development,” tuturnya.
Adrianto menambahkan pengembangan kawasan akan mengacu pada delapan prinsip TOD Indonesia, sementara area komersial di dalam Stasiun Bekasi Ekstensi akan dikelola PT Kereta Api Indonesia sebagai pemegang konsesi.
Solusi Menghadapi Urbanisasi
Dalam kesempatan yang sama, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengatakan pembangunan TOD menjadi salah satu jawaban atas tantangan urbanisasi yang semakin meningkat, terutama di kawasan Jabodetabek.
Menurutnya, kawasan berbasis transit seperti TOD Summarecon Bekasi diharapkan tidak berhenti sebagai proyek lokal, tetapi menjadi model pengembangan kota di berbagai daerah di Indonesia.
“Kami mendorong agar pengembangan wilayah perkotaan berbasis transit seperti yang sedang dikembangkan di lokasi ini bisa menjadi model untuk kota-kota lainnya di Indonesia,” terangnya.
AHY mengatakan keberhasilan TOD bergantung pada kolaborasi seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, BUMN, sektor swasta, hingga masyarakat.
“Tujuannya sama, menghadirkan kota yang semakin terintegrasi melalui berbagai moda transportasi dan pusat-pusat aktivitas yang saling terhubung,” ujarnya.
Dia menilai pembangunan kawasan harus didukung kepastian tata ruang, regulasi yang selaras, serta status lahan yang jelas agar tidak menimbulkan persoalan di kemudian hari.
“Pengembangan kota dan wilayah harus diletakkan sesuai rencana tata ruang. Lahannya juga harus clear and clean sehingga tidak menimbulkan persoalan di kemudian hari,” katanya.
AHY menegaskan ukuran keberhasilan TOD bukan hanya berdirinya infrastruktur, melainkan manfaat yang dirasakan masyarakat melalui efisiensi perjalanan, peningkatan produktivitas, dan kemudahan mengakses transportasi publik.
“Yang dibangun bukan hanya fisiknya, tetapi dampaknya. Ketika masyarakat semakin mudah berpindah menggunakan kereta, LRT, MRT maupun moda transportasi publik lainnya, akan ada waktu yang bisa dihemat. Dari waktu yang dihemat itu tentu ada nilai ekonomi yang juga bisa dirasakan masyarakat,” ucapnya.
Wakil Menteri Perhubungan Suntana mengatakan pembangunan Stasiun Bekasi Ekstensi menjadi langkah strategis dalam pengembangan jaringan perkeretaapian nasional sekaligus meningkatkan kapasitas layanan transportasi massal.
“Groundbreaking pembangunan Ekstensi Stasiun Bekasi merupakan langkah yang sangat strategis dalam pembangunan jaringan perkeretaapian. Melalui perluasan stasiun ini kita sedang merajut masa depan konektivitas perkotaan yang lebih modern,” tuturnya.
Menurutnya, stasiun tersebut akan meningkatkan kapasitas pelayanan Commuter Line maupun kereta api jarak jauh sekaligus memperkuat integrasi antarmoda sehingga masyarakat memiliki akses transportasi yang lebih nyaman dan efisien.
Wakil Gubernur Jawa Barat Erwan Setiawan menilai pembangunan TOD Summarecon Bekasi menjadi simbol transformasi kawasan perkotaan yang lebih modern dan terintegrasi.
“Bekasi adalah salah satu wajah penting Jawa Barat. Kota ini terus tumbuh sebagai kawasan strategis ekonomi, hunian, dan mobilitas masyarakat. Dengan hadirnya kawasan TOD, kami berharap Bekasi tidak hanya menjadi simpul pergerakan, tetapi juga menjadi kawasan yang nyaman, produktif, dan layak huni,” ujarnya.
Dia berharap pengembangan TOD Summarecon Bekasi dapat menjadi inspirasi bagi pengembang lain untuk berkontribusi membangun kawasan berbasis transportasi massal di berbagai daerah.
“Kalau semua pengembang melakukan hal seperti ini, tentu pemerintah daerah maupun pemerintah pusat akan sangat terbantu dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Kami berharap pengembangan TOD ini menjadi percontohan bagi pengembang lainnya, tidak hanya di Bekasi tetapi juga di berbagai daerah di Jawa Barat sebagai bagian dari mewujudkan visi Jawa Barat Istimewa,” terangnya.
Kolaborasi pemerintah, PT KAI, dan Summarecon melalui pembangunan TOD Bekasi diharapkan tidak hanya meningkatkan kapasitas transportasi publik tetapi juga menjadi model pengembangan kawasan perkotaan yang mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus menghadirkan mobilitas yang lebih efisien dan berkelanjutan.





