IndonesianForecast, JAKARTA — Perubahan pola kerja pascapandemi, perkembangan teknologi, serta meningkatnya tekanan efisiensi mendorong perusahaan mengubah strategi dalam mengelola ruang kantor.
Jika sebelumnya keberadaan kantor di kawasan pusat bisnis (Central Business District/CBD) menjadi simbol prestise sekaligus pertimbangan utama, kini korporasi mulai mengutamakan ruang kerja yang lebih fleksibel, efisien, berkelanjutan, dan terintegrasi dengan jaringan transportasi massal.
Pergeseran tersebut tidak hanya mengubah preferensi penyewa dalam memilih gedung perkantoran, tetapi juga melahirkan berbagai konsep baru, mulai dari flight-to-quality, green building, flexible office, hingga pemisahan fungsi antara head office dan support office untuk meningkatkan efisiensi operasional.
Co-Founder & Managing Director PT Leads Property Services Indonesia Darsono Tan mengatakan perubahan tersebut mencerminkan kebutuhan perusahaan yang semakin dinamis dalam menghadapi perkembangan bisnis.
“Perusahaan kini tidak lagi hanya mencari lokasi yang prestisius. Yang menjadi pertimbangan adalah bagaimana kantor mampu mendukung produktivitas, efisiensi biaya, serta memberikan fleksibilitas sesuai perkembangan bisnis,” ujarnya, Kamis (18/6/2026).
Menurut Darsono, transformasi tersebut dipengaruhi oleh sejumlah faktor yang saling berkaitan. Pandemi telah mengubah pola kerja perusahaan, sementara perkembangan teknologi dan perubahan karakter tenaga kerja mendorong perusahaan meninjau kembali kebutuhan ruang kantornya.
Model work from home (WFH) dan hybrid working membuat banyak perusahaan mengevaluasi kebutuhan ruang kerja yang sebelumnya digunakan secara penuh. Di saat yang sama, investasi pada teknologi virtual meeting, perangkat touchless, hingga digitalisasi proses bisnis menjadi bagian dari operasional perusahaan.
Perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI), juga mulai mengubah konsep ruang kerja. Perusahaan kini mengadopsi smart office berbasis Internet of Things (IoT), mengotomatisasi pekerjaan administratif, serta meningkatkan investasi pada jaringan internet berkecepatan tinggi dan perangkat pendukung kolaborasi virtual.
“Teknologi menjadi fondasi utama kantor modern. Saat ini perusahaan lebih membutuhkan konektivitas internet yang cepat dibandingkan menambah infrastruktur telepon konvensional,” katanya.
Selain faktor teknologi, perubahan demografi tenaga kerja turut memengaruhi desain kantor. Generasi milenial dan Gen Z tidak lagi memandang kantor hanya sebagai tempat bekerja, tetapi juga sebagai ruang untuk berkolaborasi, bersosialisasi, berolahraga, dan membangun keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi (work-life balance).
Karena itu, perusahaan mulai menghadirkan ruang kolaborasi yang lebih terbuka, furnitur ergonomis, fasilitas olahraga, hingga konsep green office yang mendukung kesehatan dan kenyamanan karyawan.
Di tengah kondisi bisnis yang semakin kompetitif, perusahaan juga semakin fokus pada efisiensi operasional. Evaluasi terhadap luas ruang kantor dilakukan secara lebih dinamis agar dapat menyesuaikan kebutuhan bisnis yang terus berubah.
Perubahan tersebut kemudian melahirkan tren flight-to-quality, yakni perpindahan penyewa menuju gedung perkantoran dengan kualitas lebih baik di lokasi strategis karena harga sewanya semakin kompetitif.
Menurut Darsono, kualitas bangunan kini menjadi salah satu faktor penting dalam keputusan relokasi kantor.
“Green building bukan lagi sekadar nilai tambah, tetapi mulai menjadi bagian dari strategi perusahaan dalam menjalankan bisnis yang berkelanjutan,” ucapnya.
Selain itu, konsep flexible office semakin diminati karena memungkinkan perusahaan menyesuaikan kapasitas ruang kerja sesuai perkembangan bisnis. Konsep ini dinilai mampu memberikan fleksibilitas yang lebih besar dibandingkan kantor konvensional.
Akses menuju transportasi publik juga menjadi pertimbangan utama. Gedung perkantoran yang berada di sepanjang jalur MRT maupun LRT semakin diminati karena memberikan kemudahan mobilitas bagi karyawan sekaligus mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi.
Perubahan preferensi tersebut turut meningkatkan daya tarik kawasan mixed-use yang menggabungkan fungsi perkantoran, hunian, pusat perbelanjaan, dan berbagai fasilitas pendukung lainnya.
“Kedekatan dengan transportasi publik menjadi salah satu faktor yang semakin menentukan. Kawasan mixed-use yang berada di koridor MRT maupun LRT memiliki daya tarik yang lebih besar dibandingkan gedung perkantoran yang berdiri sendiri,” terang Darsono.
Dia menambahkan, meningkatnya penggunaan transportasi umum dan layanan ride hailing membuat kebutuhan lahan parkir kendaraan pribadi tidak lagi menjadi prioritas utama. Sebaliknya, fasilitas seperti EV charging diperkirakan akan semakin banyak dibutuhkan seiring meningkatnya penggunaan kendaraan listrik.
Dari sisi operasional, perusahaan juga semakin banyak menerapkan konsep flex office, terutama bagi bisnis yang menjalankan proyek jangka pendek atau memiliki kebutuhan ruang yang berubah-ubah. Desain kantor kini lebih banyak mengadopsi konsep hot desking, area kolaborasi, serta ruang rapat yang fleksibel agar penggunaan ruang menjadi lebih optimal.
Darsono mengatakan perusahaan kini juga mulai mengombinasikan strategi flight-to-quality dan flight-to-value. Sebagian memilih kantor berukuran lebih kecil di gedung premium yang berlokasi strategis untuk menjaga citra perusahaan. Sementara itu, sebagian lainnya memilih ruang yang lebih luas di gedung berkualitas standar di kawasan sekunder guna memperoleh efisiensi biaya.
Selain itu, mulai berkembang strategi sentralisasi dan desentralisasi dalam pengelolaan kantor.
“Fungsi yang berkaitan dengan citra perusahaan tetap ditempatkan di head office. Sementara fungsi operasional yang tidak harus berada di pusat bisnis dapat dipindahkan ke support office agar operasional menjadi lebih efisien,” ujarnya.
Menurutnya, konsep support office akan semakin banyak diterapkan perusahaan dalam beberapa tahun mendatang.
Berbeda dengan head office yang mengutamakan citra perusahaan, gedung premium, lokasi di kawasan prime CBD, serta sertifikasi green building, support office lebih berorientasi pada efisiensi operasional.
Support office umumnya berada di kawasan sekunder dengan biaya sewa yang lebih kompetitif, tetap memiliki konektivitas internet yang baik, serta terkoneksi dengan jaringan transportasi menuju kawasan pusat bisnis. Lokasinya juga cenderung dekat dengan kawasan permukiman dan dilengkapi berbagai fasilitas pendukung, seperti kantin, musala, hingga fasilitas olahraga.
Selain itu, kebutuhan ruang di support office biasanya lebih besar dengan floor plate yang luas agar mampu mengakomodasi aktivitas operasional secara lebih efisien.
“Ke depan, perusahaan tidak lagi hanya memiliki satu kantor utama. Kombinasi antara head office dan support office akan menjadi strategi yang semakin relevan untuk meningkatkan efisiensi sekaligus menjaga produktivitas bisnis,” tutur Darsono.






