IndonesianForecast, JAKARTA — Tinggal di kota besar membuat biaya hunian tidak lagi dapat dilihat hanya dari nominal sewa. Bagi generasi muda, jarak tempat tinggal dengan kantor dan akses transportasi mulai menjadi bagian dari perhitungan ekonomi sehari-hari, terutama ketika harga rumah di kawasan perkotaan semakin tinggi.
Country Director of Growth and VP of Online Marketing Cove Dian Paskalis mengatakan kebutuhan hunian generasi muda kini semakin berkaitan dengan mobilitas dan gaya hidup.
“Hari Perumahan Nasional kembali mengingatkan kebutuhan generasi muda yang amat spesifik untuk hunian. Sebanyak 95 persen penghuni Cove saat ini merupakan Gen Z dan Milenial, dan bagi mereka hunian yang layak tidak hanya sekadar kamar yang cukup untuk tidur, namun sebuah hunian yang dapat mendukung mobilitas, gaya hidup, dan pergeseran preferensi mereka yang cenderung dinamis,” ujarnya dikutip Sabtu (29/8/2026).
Kecenderungan tersebut tercermin dari temuan Cove yang menunjukkan lokasi menjadi salah satu pertimbangan yang semakin penting bagi Gen Z dan Milenial dalam memilih tempat tinggal. Dalam tiga tahun terakhir, faktor lokasi meningkat lebih dari 20 poin persentase sebagai alasan dalam menentukan hunian.
Pada 2026, sebanyak 52% penghuni Cove dari kelompok Gen Z dan Milenial mempertimbangkan jarak hunian ke kantor dan transportasi umum. Jakarta Selatan menjadi kawasan yang paling diminati dengan 64%, disusul Jakarta Pusat 43% dan Jakarta Barat 35%.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa lokasi mulai dipandang bukan hanya dari sisi kenyamanan, tetapi juga konsekuensi ekonominya. Hunian yang lebih dekat dengan pusat aktivitas dapat membantu menghemat waktu perjalanan sekaligus menekan biaya commuting yang harus dikeluarkan setiap hari.
Menariknya, kebutuhan terhadap hunian strategis tersebut tidak hanya datang dari masyarakat yang baru pindah ke Jabodetabek. Pada 2026, sebanyak 51% penghuni Cove justru merupakan mereka yang sebelumnya sudah tinggal di kawasan Jabodetabek.
Kondisi ini mengindikasikan adanya perubahan pilihan tempat tinggal di dalam kawasan metropolitan. Ketika waktu perjalanan menjadi pertimbangan, sebagian generasi muda memilih tinggal lebih dekat dengan lokasi kerja maupun pusat aktivitas, meskipun harus mengalokasikan biaya sewa untuk hunian di lokasi yang lebih strategis.
Perubahan cara menghitung biaya hunian juga terlihat dari semakin beragamnya pertimbangan Gen Z dan Milenial.
Pada 2026, sebanyak 79% penghuni Cove menyebut kelengkapan fasilitas kamar pribadi sebagai alasan memilih hunian. Selanjutnya, 52% mempertimbangkan jarak ke kantor dan transportasi umum, sedangkan 51% mempertimbangkan fasilitas bersama seperti gym, rooftop, dan kolam renang.
Data tersebut menunjukkan bahwa generasi muda tidak semata-mata mencari harga sewa terendah. Mereka juga mempertimbangkan nilai yang diperoleh dari biaya yang dikeluarkan, termasuk fasilitas, aksesibilitas, dan kemudahan menjalani aktivitas sehari-hari.
Dalam konteks biaya hidup perkotaan, harga sewa menjadi salah satu komponen dari total pengeluaran. Biaya transportasi, waktu perjalanan, kebutuhan fasilitas, hingga biaya tambahan untuk memperoleh layanan tertentu turut memengaruhi apakah sebuah hunian dianggap ekonomis.
Kecenderungan tersebut berjalan bersamaan dengan perubahan durasi tinggal. Hampir 60% penghuni Cove dari kelompok Gen Z dan Milenial pada tahun ini berencana tinggal selama 1–3 bulan.
Proporsi tersebut meningkat 32 poin persentase dalam tiga tahun terakhir. Sebaliknya, preferensi untuk tinggal selama satu tahun atau lebih turun 22 poin persentase dalam periode yang sama.
Perubahan ini menarik karena terjadi ketika pendapatan mayoritas penghuni Cove relatif tidak berubah dibandingkan tahun sebelumnya, yakni berada di kisaran Rp10 juta.
Artinya, perubahan preferensi tersebut tidak semata-mata berkaitan dengan kemampuan membayar. Generasi muda juga semakin mempertimbangkan fleksibilitas dalam mengelola komitmen tempat tinggal, terutama di tengah mobilitas pekerjaan dan perubahan kebutuhan hidup.
Selain lokasi, standar terhadap kualitas hunian juga semakin tinggi. Sebanyak 52% responden menyebut kebersihan dan perawatan gedung yang buruk sebagai alasan utama yang membuat mereka membatalkan pilihan terhadap hunian yang sebelumnya disurvei.
Keluhan tersebut mencakup kondisi gedung yang kotor dan tua, fasilitas kamar yang tidak terawat, serta sirkulasi udara yang buruk.
Sebanyak 43% lainnya mengeluhkan fasilitas yang tidak lengkap, termasuk kebutuhan seperti area parkir, Wi-Fi yang stabil, dan lift.
Perubahan tersebut menunjukkan bahwa generasi muda kini tidak hanya menghitung nominal sewa ketika memilih tempat tinggal. Mereka juga mempertimbangkan biaya dan manfaat yang diperoleh secara keseluruhan, termasuk akses, fasilitas, kenyamanan, serta waktu yang dapat dihemat dari perjalanan harian.
Dalam konteks Hari Perumahan Nasional yang diperingati setiap 25 Agustus, kebutuhan hunian generasi muda pun semakin luas. Hunian layak tidak hanya berkaitan dengan kepemilikan rumah, tetapi juga kemampuan tempat tinggal tersebut mendukung produktivitas sekaligus tetap sesuai dengan perhitungan biaya hidup.
Bagi Gen Z dan Milenial di perkotaan, keputusan memilih hunian pada akhirnya bukan hanya soal berapa besar biaya sewa yang dibayarkan, tetapi juga berapa biaya commuting yang dapat ditekan, berapa banyak waktu yang bisa dihemat, dan seberapa besar fasilitas yang diperoleh dari biaya tersebut.






