IndonesianForecast, JAKARTA — PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG) mulai memperluas bisnisnya dari produsen semen menjadi penyedia solusi bahan bangunan terintegrasi. Perseroan melihat peluang besar dari bisnis di luar semen yang mencapai sekitar 89% dari total biaya material konstruksi bangunan.
Corporate Secretary SIG Vita Mahreyni mengatakan, industri semen saat ini baru berkontribusi sekitar 11% dari total biaya material konstruksi bangunan. Karena itu, SIG terus mengembangkan produk turunan dan solusi konstruksi yang inovatif serta berkelanjutan untuk menangkap peluang di luar bisnis semen.
Transformasi menuju Total Building Solution membuat SIG bergerak ke arah bisnis yang lebih customer-centric dan value-driven. Perseroan tidak hanya berfokus pada volume penjualan semen, tetapi juga berupaya menangkap kebutuhan konsumen dalam ekosistem konstruksi yang lebih luas.
“Dengan pengalaman satu abad lebih di industri bahan bangunan, SIG berkomitmen untuk terus menghadirkan inovasi dan solusi konstruksi terintegrasi agar lebih berdaya saing dan mampu mengatasi dinamika industri yang menantang, sehingga terus dapat mencatatkan profitabilitas dan memberikan nilai tambah bagi seluruh pemangku kepentingan,” ujarnya dalam keterangan dikutip Kamis (3/9/2026).
Strategi tersebut berjalan seiring dengan kinerja positif SIG pada semester I tahun 2026. Berdasarkan laporan keuangan konsolidasi yang telah melalui limited review, perseroan mencatat volume penjualan sebanyak 18,28 juta ton.
Volume penjualan tersebut meningkat 5,6% secara tahunan (year-on-year/yoy) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebanyak 17,31 juta ton.
Pertumbuhan terutama ditopang pasar domestik. Penjualan domestik SIG meningkat 9,7% yoy, dengan segmen semen kantong mencatat pertumbuhan signifikan sebesar 11,2% yoy.
Peningkatan volume penjualan dan konsistensi perseroan dalam menjaga disiplin harga turut mendorong pendapatan SIG naik 13,1% yoy menjadi Rp17,65 triliun dari sebelumnya Rp15,61 triliun.
Dari sisi profitabilitas, SIG mencatat EBITDA sebesar Rp2,15 triliun atau tumbuh 2,6% yoy. Sementara laba periode berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk melonjak 471% yoy menjadi Rp228 miliar.
Kinerja tersebut dicapai di tengah kenaikan sejumlah biaya. Beban pokok pendapatan meningkat 11,1% yoy menjadi Rp13,85 triliun, seiring dengan pertumbuhan volume penjualan serta kenaikan biaya bahan bakar dan energi.
Sementara itu, beban operasional, termasuk pendapatan dan beban operasional lainnya, meningkat 20,7% yoy. Kenaikan tersebut terutama dipengaruhi biaya promosi dan distribusi yang meningkat sejalan dengan pertumbuhan volume penjualan.
Untuk menjaga profitabilitas, SIG menjalankan efisiensi secara ketat dan konsisten. Perseroan juga mengoptimalkan pengelolaan arus kas dan permodalan untuk menjaga likuiditas dan solvabilitas.
Arus kas dari operasi yang tetap positif memungkinkan SIG terus menurunkan saldo utang. Kondisi tersebut turut menekan beban keuangan bersih yang pada semester I 2026 turun 34,5% yoy seiring dengan penurunan utang berbunga.
Vita mengatakan, pertumbuhan penjualan pada semester I 2026 merupakan hasil dari transformasi strategi penjualan pasar mikro melalui penguatan retail sales.
SIG memperluas pola bisnis hingga menjangkau toko-toko bangunan. Perseroan juga memperkuat brand presence dan product knowledge di tingkat toko untuk mengedukasi konsumen sekaligus meningkatkan loyalitas terhadap produk SIG.
“Kinerja penjualan yang positif pada semester I tahun 2026 adalah buah transformasi strategi penjualan pasar mikro yang dijalankan melalui penguatan retail sales dengan mempertajam pola bisnis hingga menjangkau toko-toko bangunan,” kata Vita.
Selain itu, SIG meningkatkan keterlibatan dengan tenaga konstruksi melalui program Akademi Jago Bangunan. Program tersebut mencakup pelatihan dan sertifikasi ahli bangunan untuk memperkuat hubungan dengan tenaga konstruksi sekaligus meningkatkan pemahaman mereka terhadap produk SIG.
Memasuki semester II 2026, SIG melihat prospek penjualan tetap positif sejalan dengan perbaikan permintaan semen domestik.
Segmen semen kantong diperkirakan masih menjadi salah satu penopang pertumbuhan. Sementara itu, semen curah atau bulk mulai menunjukkan pemulihan seiring meningkatnya aktivitas konstruksi, pembangunan infrastruktur, investasi industri, dan hilirisasi.
Untuk memperkuat posisi di pasar domestik, SIG juga kembali menghadirkan Semen Kujang di Jawa Barat.
Menurut Vita, Semen Kujang memiliki kedekatan emosional dengan masyarakat Jawa Barat dan telah menjadi bagian dari pembangunan di wilayah tersebut. Kehadiran kembali merek tersebut diharapkan dapat memenuhi kebutuhan konstruksi sekaligus memperkuat posisi SIG di pasar Jawa Barat.






