IndonesianForecast, JAKARTA — Pasar apartemen sewa Jakarta mulai menunjukkan perbaikan pada kuartal II 2026. Tingkat okupansi naik menjadi 63%, seiring permintaan yang bertambah 81 unit secara kuartalan. Namun, perbaikan okupansi tersebut belum diikuti kenaikan tarif sewa.
Berdasarkan laporan Jakarta Property Market Insight Q2 2026 dari Leads Property Services Indonesia, rata-rata tarif sewa apartemen Jakarta pada kuartal II tahun 2026 turun 7% menjadi US$18,21 per meter persegi per bulan.
Penurunan tarif terjadi di tengah pasokan apartemen sewa yang relatif terbatas. Total pasokan tercatat 11.067 unit dan belum bertambah selama sekitar 1,5 tahun terakhir.
CEO Leads Property Services Indonesia Hendra Hartono mengatakan kondisi tersebut menunjukkan pasar apartemen sewa masih menghadapi tantangan dalam mendorong permintaan, meski tingkat hunian mulai membaik.
“Terbatasnya pasokan baru membuat persaingan di pasar lebih banyak berlangsung pada unit yang sudah tersedia. Pemilik apartemen juga perlu menyesuaikan strategi sewa dengan kondisi permintaan agar tingkat hunian tetap terjaga,” ujarnya dalam laporan Jumat (2/10/2026).
Pada kuartal II tahun 2026, tingkat okupansi apartemen sewa Jakarta tercatat 63%, naik 0,3 poin persentase dibandingkan kuartal sebelumnya. Segmen serviced apartment mencatat tingkat okupansi lebih tinggi, yakni 65,8%, sedangkan non-serviced apartment berada di level 54,3%.
Di sisi permintaan, pasar mencatat tambahan 81 unit pada kuartal II 2026. Sementara itu, tidak terdapat tambahan pasokan baru dalam sekitar 1,5 tahun terakhir sehingga total pasokan masih berada di level 11.067 unit.
Associate Director Research & Consultancy Department Leads Property Services Indonesia Martin Samuel Hutapea mengatakan pelemahan tarif sewa menunjukkan pemilik properti masih harus menyesuaikan harga untuk merespons permintaan pasar.
Martin menjelaskan rata-rata tarif sewa apartemen Jakarta turun menjadi US$18,21 per meter persegi per bulan. Untuk serviced apartment, tarif rata-rata tercatat US$20,31 per meter persegi per bulan, sedangkan non-serviced apartment berada di US$11,70 per meter persegi per bulan.
“Permintaan yang masih terbatas mendorong pemilik properti melakukan penyesuaian tarif sewa untuk merespons minat penyewa,” kata Martin.
Meski demikian, pasar apartemen sewa masih memiliki ruang pertumbuhan. Arus investasi yang terus masuk ke Indonesia diperkirakan dapat menopang kebutuhan hunian bagi ekspatriat. Dalam jangka pendek, permintaan juga berpotensi terdorong oleh periode liburan yang dapat meningkatkan tingkat okupansi.
Dari sisi pasokan, tambahan unit baru mulai terlihat dalam pipeline 2026. Leads Property mencatat dua proyek serviced apartment yang dijadwalkan masuk pasar, yakni Oakwood Fatmawati sebanyak 280 unit dan Oakwood Slipi sebanyak 155 unit. Total tambahan pasokan dari kedua proyek tersebut mencapai 435 unit.
Masuknya pasokan baru akan menambah pilihan bagi penyewa sekaligus meningkatkan persaingan antarpengelola apartemen. Serviced apartment juga harus bersaing dengan hotel kelas atas dan kondominium upscale berperabot yang menawarkan alternatif hunian dengan harga dan skema sewa yang beragam.
Di sisi lain, pelemahan nilai rupiah berpotensi memberikan ruang bagi pemilik properti untuk menawarkan tarif yang lebih kompetitif kepada penyewa yang memiliki pendapatan dalam valuta asing.
Kondisi tersebut membuat pasar apartemen sewa Jakarta memasuki paruh kedua tahun 2026 dengan dinamika yang cukup beragam. Okupansi mulai meningkat dan permintaan bertambah, tetapi tekanan terhadap tarif sewa masih terjadi. Dengan tambahan pasokan yang relatif terbatas dalam jangka pendek, strategi harga dan kemampuan pengelola mempertahankan penyewa akan menjadi faktor penting dalam persaingan pasar.






