IndonesianForecast, JAKARTA — Di tengah penjualan rumah yang anjlok 25,67% secara tahunan (Year-on-Year/YoY) pada kuartal I tahun 2026 akibat tekanan ekonomi dan melemahnya daya beli masyarakat, bisnis co-living justru menunjukkan ketahanan.
Penyedia hunian co-living modern, Cove, mencatat lonjakan minat konversi aset menjadi co-living sebesar 40% (YoY), menandakan model hunian ini masih menjadi pilihan investasi yang menarik di tengah perlambatan industri properti.
Country Director of Investment Cove Rizky Kusumo mengatakan pihaknya meluncurkan layanan konsultasi pembangunan co-living setelah melihat semakin banyak pemilik aset yang tertarik memasuki bisnis tersebut, meski belum memiliki pengalaman mengembangkannya.
“Mereka memahami bahwa hunian tetap merupakan kebutuhan primer, sementara fleksibilitas komitmen finansial yang ditawarkan konsep co-living semakin relevan dengan kondisi daya beli masyarakat saat ini,” ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu (22/7/2026).
Dia menambahkan di tengah kondisi industri yang masih penuh tantangan, Cove berhasil menambah hampir 1.000 kamar co-living di Indonesia sepanjang semester I tahun 2026 dengan tingkat okupansi rata-rata mencapai 85%.
Kebutuhan hunian yang tetap tinggi di tengah perlambatan industri properti mendorong semakin banyak investor melirik bisnis co-living. Akses kepemilikan rumah maupun apartemen yang semakin sulit bagi generasi produktif membuat permintaan terhadap hunian fleksibel terus bertumbuh.
Hal tersebut tercermin dari meningkatnya minat pemilik aset untuk mengubah properti mereka menjadi co-living sebesar 40% dibandingkan tahun sebelumnya.
Menariknya, sekitar 70% permintaan konsultasi yang diterima Cove berasal dari pemilik tanah kosong, yang umumnya merupakan aset keluarga yang selama ini belum dimanfaatkan secara produktif.
Data tersebut menunjukkan bahwa kondisi ekonomi mendorong pemilik aset untuk mulai mengoptimalkan lahan yang sebelumnya menganggur, dibandingkan sekadar menyimpan atau menjualnya.
Selain tanah kosong, permintaan juga datang dari pemilik ruko yang sudah tidak lagi produktif.
“Mereka melihat co-living sebagai alternatif investasi yang menawarkan pendapatan lebih stabil dan prediktif dibandingkan bisnis komersial lain yang lebih dipengaruhi tren musiman,” katanya.
Menurutnya pembangunan co-living sudah dapat dilakukan di atas lahan seluas sekitar 200 meter persegi. Namun mayoritas calon investor yang berkonsultasi memiliki lahan seluas 800–1.000 meter persegi, sehingga memungkinkan pembangunan fasilitas pendukung seperti area parkir maupun ruang komunal.
Tak sedikit pula pemilik lahan di atas 1.500 meter persegi yang berencana mengembangkan konsep mixed-use dengan menggabungkan co-living bersama jenis usaha lainnya. Model tersebut dinilai mampu meningkatkan nilai ekonomi masing-masing bisnis.
Dari sisi operasional, mayoritas calon investor juga memilih konsep co-living hybrid, yaitu menggabungkan penyewaan bulanan dan harian dalam satu properti.
Model ini dinilai mampu meningkatkan ketahanan bisnis karena selain melayani penyewa jangka panjang, pemilik juga dapat menyasar pasar wisatawan yang membutuhkan akomodasi harian.
Dari berbagai kota tempat Cove menawarkan layanan konsultasi, Jakarta dan Surabaya menjadi dua wilayah dengan minat konversi aset menjadi co-living tertinggi.
“Meski demikian, Jakarta masih mendominasi dengan volume permintaan konsultasi sekitar 200% lebih tinggi dibandingkan Surabaya,” ucap Rizki.
Tingginya minat di Jakarta didorong kebutuhan pekerja Jabodetabek yang ingin memangkas waktu perjalanan menuju kantor, sementara Surabaya didukung tingginya permintaan dari pekerja dan mahasiswa luar daerah.
Di Jakarta, kawasan Cipete dan Setiabudi menjadi dua lokasi favorit pengembangan co-living. Dalam satu tahun terakhir, kedua kawasan tersebut mencatat penambahan sekitar 200–300 kamar kost dan co-living, dengan tingkat okupansi yang tetap sehat meski pasar properti sedang melemah.
Salah satu contoh proyek yang dikembangkan melalui layanan konsultasi Cove adalah Cove Dra House di Menteng. Properti yang dibangun di atas lahan kosong dan rampung pada 2025 tersebut hingga kini masih mencatat tingkat okupansi di atas 80%.






