IndonesianForecast, JAKARTA — Pasar hotel Jakarta menunjukkan perbaikan pada kuartal II 2026, ditopang peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara dan sejumlah kegiatan berskala besar di ibu kota. Kondisi tersebut tercermin dari tingkat okupansi hotel yang meningkat menjadi 55,8%, sementara Average Daily Rate (ADR) mencapai Rp1,52 juta.
Berdasarkan laporan Leads Property Research, total pasokan hotel Jakarta pada kuartal II 2026 mencapai 57.382 kamar. Jumlah tersebut bertambah seiring masuknya pasokan dari hotel bintang tiga yang direbranding, Shankee Blok M, serta tambahan 95 kamar dari Mercure Grogol yang merupakan hotel bintang empat.
Di sisi permintaan, Jakarta menerima 844.100 wisatawan mancanegara dalam dua bulan pertama kuartal II 2026. Angka tersebut meningkat 53% dibandingkan dua bulan pertama kuartal sebelumnya.
Wisatawan asal China menjadi kontributor terbesar dengan 105.870 pengunjung atau sekitar 12,5% dari total wisatawan mancanegara. Malaysia dan Singapura menyusul dengan masing-masing 83.281 dan 37.922 pengunjung.
CEO Leads Property Services Indonesia Hendra Hartono mengatakan perkembangan pasar hotel Jakarta pada kuartal II 2026 menunjukkan adanya pemulihan permintaan, terutama dari wisatawan internasional dan kegiatan berskala besar yang berlangsung di Jakarta.
“Pasar hotel Jakarta menunjukkan pergerakan positif pada kuartal II 2026. Peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara turut memberikan dukungan terhadap tingkat okupansi, meskipun pemulihan permintaan belum sepenuhnya menutup kesenjangan okupansi yang ada,” ujarnya, Selasa (6/10/2026).
Di sisi lain, Associate Director Research & Consultancy Department Leads Property Services Indonesia Martin Samuel Hutapea menyoroti pergerakan tarif hotel yang relatif stabil sepanjang kuartal tersebut.
“ADR hotel tercatat relatif stabil pada kuartal berjalan, yakni sebesar Rp1,52 juta. Secara kuartalan, angka tersebut meningkat 0,8%, namun secara tahunan masih mengalami penurunan 2,3%. Hotel bintang lima mencatat ADR sebesar Rp2,42 juta, hotel bintang empat Rp0,65 juta, dan hotel bintang tiga Rp0,50 juta,” ucapnya.
Kinerja tarif tersebut menunjukkan perbedaan perkembangan antarsegmen. Hotel bintang lima mencatat pertumbuhan 3,6% quarter-on-quarter (QoQ). Peningkatan tersebut sejalan dengan pertumbuhan permintaan terhadap hotel dengan fasilitas dan layanan kelas premium.
Sementara itu, tingkat okupansi hotel Jakarta pada kuartal II 2026 tercatat 55,8%. Meskipun meningkat, angka tersebut masih menghadapi tekanan dari berkurangnya aktivitas pemerintah yang sebelumnya menjadi salah satu sumber utama permintaan hotel.
Dari sisi pasokan, pasar hotel Jakarta juga masih akan bertambah. Pipeline 2026 mencatat tiga proyek dengan total 507 kamar, terdiri dari MaxOne Hotel Wahid Hasyim dengan 110 kamar, Park Royal Jakarta dengan 162 kamar, dan Jakarta Gelora Marriott dengan 235 kamar.
Masuknya pasokan baru tersebut membuat persaingan antarpelaku usaha hotel diperkirakan semakin bergantung pada kemampuan menjaga tingkat hunian dan efisiensi operasional.
Laporan Leads Property Research juga mencatat pasar hotel Jakarta terus mengalami perubahan sejalan dengan kenaikan biaya konstruksi. Kondisi tersebut mendorong pemilik dan operator hotel untuk melakukan renovasi maupun rebranding, termasuk ketika kontrak pengelolaan hotel berakhir.
Untuk ekspansi portofolio baru, unit kondominium yang belum terjual juga berpotensi menjadi sasaran operator hotel sebagai bagian dari strategi pengelolaan biaya di tengah tingginya alokasi belanja modal (capex).
Di tengah terbatasnya permintaan yang berasal dari aktivitas pemerintah, sektor hotel Jakarta akan semakin bergantung pada segmen korporasi swasta dan free independent travelers (FIT), terutama wisatawan mancanegara. Pelemahan nilai rupiah turut membuat biaya perjalanan ke Indonesia menjadi lebih kompetitif bagi wisatawan asing.






