Beranda / Property / Harga Rumah Kian Mahal, Gen Z dan Milenial Makin Selektif Memilih Hunian

Harga Rumah Kian Mahal, Gen Z dan Milenial Makin Selektif Memilih Hunian

IndonesianForecast, JAKARTA — Tingginya harga rumah membuat Gen Z dan Milenial perlu mempertimbangkan lebih banyak hal sebelum menentukan tempat tinggal. Hunian sewa, termasuk co-living, menjadi salah satu alternatif. Namun, harga terjangkau saja tidak cukup. Lokasi strategis, kepastian biaya bulanan, hingga kenyamanan turut menentukan pilihan mereka.

Riset Cove, penyedia hunian co-living modern, bersama platform riset Jakpat terhadap Gen Z dan Milenial di Jabodetabek, Bandung, dan Surabaya menunjukkan bahwa 69 persen responden menjadikan harga sewa sesuai anggaran sebagai pertimbangan utama dalam memilih co-living. Sementara itu, 58 persen responden mempertimbangkan lokasi strategis, disusul biaya sewa yang sudah mencakup listrik, air, dan internet sebesar 55 persen.

Country Director of Growth Cove Dian Paskalis mengatakan temuan ini menunjukkan generasi muda tidak hanya memperhitungkan besaran uang yang harus dibayarkan untuk menyewa kamar, tetapi juga total pengeluaran selama tinggal. Dengan kata lain, keterjangkauan hunian turut ditentukan oleh seberapa besar biaya tambahan yang perlu disiapkan untuk menunjang kebutuhan sehari-hari.

“Gen Z dan Milenial hari ini sangat cermat dalam berhitung, tapi memiliki kompromi yang rendah terkait kenyamanan, termasuk dalam urusan pemilihan hunian sewa. Sikap ini bukan semata karena besaran anggaran, namun karakter sebagai generasi,” ujarnya dalam keterangan resmi, Kamis (8/10/2026).

Menurut Dian, kecermatan tersebut juga terlihat pada kelompok responden dengan anggaran hidup di atas Rp7,5 juta per bulan. Harga sewa yang sesuai anggaran tetap menjadi pertimbangan terbesar, sama seperti kelompok dengan anggaran hidup di bawah angka tersebut.

Harga sewa menjadi faktor utama bagi Gen Z maupun Milenial ketika mencari co-living. Sekitar tujuh dari sepuluh responden dari masing-masing generasi mempertimbangkan kesesuaian harga dengan anggaran mereka.

Temuan ini memperlihatkan bahwa kemampuan finansial tetap menjadi pertimbangan penting, bahkan ketika generasi muda memilih hunian yang menawarkan pengalaman tinggal berbeda dari kos konvensional. Di tengah kebutuhan hidup yang beragam, biaya tempat tinggal harus tetap sejalan dengan anggaran untuk kebutuhan lainnya.

Selain harga, lokasi strategis menjadi pertimbangan terbesar kedua. Sebanyak 58 persen responden menyebut faktor ini sebagai salah satu hal yang diperhitungkan saat mencari co-living.

Lokasi berkaitan erat dengan efisiensi waktu dan biaya transportasi, terutama bagi mereka yang harus bepergian ke kantor, kampus, atau pusat aktivitas perkotaan. Hunian dengan harga sewa lebih murah belum tentu menjadi pilihan paling ekonomis jika lokasinya membuat biaya perjalanan membengkak.

Jika dilihat berdasarkan generasi, lokasi strategis lebih banyak dipertimbangkan oleh Milenial, yakni 64 persen, dibandingkan Gen Z sebesar 51 persen.

Perbedaan ini dapat berkaitan dengan kebutuhan dan pola aktivitas masing-masing generasi. Sebagian Gen Z masih menempuh pendidikan atau berada pada tahap awal karier, sedangkan Milenial umumnya telah memiliki rutinitas pekerjaan yang lebih mapan.

Selain harga dan lokasi, kepastian pengeluaran bulanan juga menjadi perhatian. Sebanyak 55 persen responden mempertimbangkan co-living yang biaya sewanya sudah mencakup listrik, air, dan internet.

Skema tersebut membantu calon penghuni memperkirakan total biaya sejak awal tanpa harus menghitung setiap tagihan secara terpisah. Bagi mereka yang perlu mengatur anggaran secara cermat, kejelasan biaya menjadi nilai tambah karena pengeluaran rutin lebih mudah diproyeksikan.

Meski demikian, keterjangkauan tidak berarti generasi muda bersedia mengorbankan kenyamanan. Setelah harga sewa, lokasi strategis, dan biaya utilitas, faktor keamanan, kelengkapan fasilitas, serta kenyamanan kamar turut menjadi pertimbangan dalam memilih hunian.

Artinya, harga termurah belum tentu menjadi pilihan utama jika tidak diimbangi fasilitas dan lingkungan yang mendukung aktivitas sehari-hari. Generasi muda tetap menginginkan tempat tinggal yang aman dan nyaman, sekaligus memberikan nilai yang sepadan dengan biaya yang dibayarkan.

Harga hunian dan kelengkapan fasilitas menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat yang ingin tinggal di kawasan strategis. Semakin strategis lokasi suatu hunian, biaya yang diperlukan umumnya juga semakin tinggi, terlebih jika tersedia fasilitas seperti kamar berperabot, keamanan 24 jam, dan area komunal.

“Lokasi dan besaran harga sewa maupun jual merupakan hal yang amat berkaitan di pasar hunian Indonesia. Semakin strategis suatu hunian, maka akan semakin tinggi biayanya. Biaya ini juga umumnya semakin bertambah seiring kelengkapan fasilitas, seperti ketersediaan perabot kamar, security 24 jam, atau area komunal,” tutur Dian.

Menurutnya, co-living hadir sebagai salah satu alternatif bagi Gen Z dan Milenial yang membutuhkan hunian di pusat perkotaan dengan fasilitas lengkap dan skema kontrak yang lebih fleksibel, termasuk pilihan masa tinggal mingguan.

Fleksibilitas tersebut dapat mengakomodasi kebutuhan mereka yang sedang merintis karier, berpindah lokasi kerja, atau membutuhkan tempat tinggal tanpa komitmen sewa jangka panjang.

Pada akhirnya, pilihan hunian bagi generasi muda tidak hanya ditentukan oleh kemampuan membayar sewa, tetapi juga oleh perhitungan biaya secara keseluruhan. Di tengah tingginya harga properti, hunian yang sesuai anggaran, memiliki lokasi strategis, dan menawarkan kenyamanan menjadi pertimbangan penting bagi Gen Z dan Milenial dalam menentukan tempat tinggal.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *