IndonesianForecast, JAKARTA — Seiring bertambahnya jaringan jalan tol yang menghubungkan kota-kota di koridor timur Jakarta dan semakin berkembangnya kawasan industri di sepanjang jalan tersebut maka akan menggeser arah peta investasi properti Indonesia.
Setelah bertahun-tahun fokus pada pembangunan hunian di kota besar, kini para pengembang semakin menaruh perhatian pada potensi kawasan industri yang terus menunjukkan daya tariknya.
Head of Research Rumah123 Marisa Jaya mengatakan Subang, Karawang, hingga Bekasi kini berada di pusat perhatian. Masuknya investasi dari China dan negara lain memicu lonjakan aktivitas ekonomi di wilayah tersebut. Kawasan yang dulunya identik dengan pabrik dan gudang kini mulai berkembang menjadi pusat pertumbuhan baru yang juga membutuhkan perumahan, fasilitas komersial, dan ruang penunjang kehidupan sehari-hari.
Harga rumah sekunder di kota-kota sekitar koridor industri terus meningkat. Bekasi mencatat kenaikan 0,9% secara bulanan (month-to-month/MtM) dan 1,4% secara tahunan (year-on-year/YoY) diikuti oleh Bogor yang naik 1,3% secara bulanan, serta Tangerang dengan peningkatan 0,5% bulanan dan 1% tahunan.
Secara nasional, harga rumah sekunder tumbuh 0,3% dibanding tahun lalu. Meskipun tidak besar, angka ini menunjukkan ketahanan pasar di tengah penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia ke 4,75% dan inflasi yang tercatat 2,86% pada Oktober 2025. Kondisi ini memberikan ruang bagi investor dan pengembang untuk melirik sektor yang lebih produktif dan berorientasi jangka panjang.
Menurut Marisa, kawasan industri kini memegang peranan penting dalam membentuk wajah baru sektor properti Indonesia.
“Pergerakan pasar di wilayah industri memperlihatkan bahwa pengembang mulai berpikir lebih strategis. Mereka tidak lagi sekadar menjual rumah, tetapi membangun kawasan yang hidup, dengan fungsi residensial, komersial, dan industri yang saling melengkapi,” ujarnya dalam keterangan dikutip Senin (1/12/2025).
Fenomena ini merupakan bagian dari proses adaptasi terhadap perubahan perilaku investor dan kebutuhan masyarakat. Diversifikasi ke kawasan industri menunjukkan pengembang merespons dinamika ekonomi dengan cepat.
“Ketika mobilitas meningkat dan konektivitas antarwilayah semakin baik, kawasan industri menjadi tempat tumbuhnya ekosistem ekonomi baru yang lebih inklusif,” ucapnya.
Selain Jabodetabek, beberapa kota besar di luar Pulau Jawa juga menunjukkan tren serupa. Makassar dan Medan mencatat kenaikan harga rumah sekunder masing-masing 8,4% dan 3,6% secara bulanan, sementara Denpasar naik 4,1% secara tahunan.
Secara keseluruhan, 9 dari 13 kota besar di Indonesia mencatat kenaikan harga rumah tahunan. Yogyakarta menempati posisi tertinggi dengan pertumbuhan 5,4%, diikuti oleh Denpasar dengan 4,1%. Data ini memperlihatkan minat terhadap properti masih kuat di kota-kota yang memiliki potensi ekonomi dan konektivitas tinggi.






