IndonesianForecast, JAKARTA — PT Summarecon Agung Tbk optimistis dengan kondisi industri properti di tahun ini yang akan bergerak lebih positif.
Executive Director Summarecon Bekasi Magdalena Juliati meyakini penjualan properti di tahun ini akan lebih baik dari tahun lalu. Hal ini karena masih tingginya kebutuhan akan rumah dan ruang usaha.
“Masyarakat pasti akan memilih properti yang terbaik di tengah kondisi yang ada. Dengan pengalaman yang panjang, track record yang baik dan pembuktian nyata, kami yakin produk properti kami diterima. Tahun lalu, saat kondisi susah, penjualan properti kami alami pertumbuhan karena mereka yakin membeli properti di developer yang terpercaya,” ujarnya, Senin (24/2/2026).
Di sisi lain, pihaknya tak menampik masih terdapat tantangan di sektor properti. Salah satunya terkait kebijakan lahan sawah dilindungi (LSD) yang berdampak pada seluruh pengembang di Indonesia.
“Namun demikian, kami mendukung seluruh kebijakan pemerintah dan tentu terus beradaptasi dengan kondisi yang ada,” katanya.
Adapun di tahun ini, Summarecon akan meluncurkan 2 hingga 3 proyek properti baru baik residensial dan komersial di kawasan Bekasi dan Crown Gading. Selain proyek baru, emiten berkode SMRA ini juga akan menggarap proyek eksisting hunian ultra luxury Soultan Island di Bekasi. Pengembang menargetkan dapat menjual 30 unit Soultan Island dan dapat meraup penjualan senilai Rp400 miliar di tahun ini.
Summarecon meraup penjualan Rp260 miliar dari 15 unit yang terjual saat soft launching pada 23 Juli 2025. Adapun harga hunian Soultan Island berkisar Rp9,3 miliar hingga Rp29,5 miliar. Raihan penjualan saat soft launching tersebut menunjukkan antusiasme konsumen dalam membeli rumah super mewah sebelum produk ini resmi dirilis. Klaster Soultan Island dikembangkan di lahan seluas 8 hektare yang nantinya akan terdapat 110 unit hunian super premium yang dikelilingi danau dan area fasilitas klaster seluas 3.000 meter persegi.
“Soultan Island menjadi klaster eksklusif yang menjadi incaran pebisnis untuk tinggal. Harapannya kawasan Summarecon Bekasi dapat menjadi pilihan masyarakat atas sebagai tempat tinggal,” ucapnya.
Pengembang berkomitmen terus memperkuat posisi Summarecon Bekasi sebagai kota metropolitan. Hal itu dikuatkan dengan dibukanya Summarecon Mall Bekasi berkonsep wellness mall pertama di Indonesia dengan memiliki Well Ground. Kawasan Summarecon Bekasi telah menjadi benchmark pasar properti di sekitarnya. Oleh karena itu, pengembang terus memenuhi kebutuhan penghuni secara menyeluruh.
Pengembang juga tengah melakukan revitalisasi dan peremajaan infrastruktur Summarecon Bekasi dalam upaya mempercantik kawasan yang dilakukan sejak November 2025 hingga pertengahan tahun ini. Hal itu dilakukan dilakukan dengan overlay jalan, pembaruan flyover, penggantian lampu penerangan jalan, menata boulevard, membuat pedestrian, dan lainnya.
“Revitalisasi ini sebagai upaya agar lebih nyaman dan representatif,” tutur Magdalena.
Terpisah, Direktur Summarecon Agung Lydia Tijo menuturkan pada tahun ini perusahaan menganggarkan belanja modal atau capital expenditure sekitar Rp2 triliun dimana Rp1 triliun untuk property development dan Rp1 triliun untuk investment property.
“Sumber dana dari kombinasi kas internal Perseroan dan dari fasilitas pinjaman bank yang ada. Untuk capex tahun 2025 yang sudah terealisasi per akhir September 2025 sekitar Rp3,4 triliun,” ujarnya.
Sementara itu, Senior Research Advisor Knight Frank Indonesia Syarifah Syaukat berpendapat hunian bagi ultra high net worth individual/high net worth individual (UHNWI/HNWI) atau crazy rich selain sebagai tempat tinggal juga sebagai aset jangka panjang. Umumnya, selain hunian di tengah kota, para crazy rich juga memiliki preferensi hunian di wilayah hinterland atau sub urban. Hal itu dengan asumsi wilayah sub-urban lebih hijau, jauh dari kebisingan dan hiruk pikuk aktivitas kota.
“Hunian di wilayah hinterland atau suburb tersebut dekat dengan inti kota kedua atau Central Business District (CBD) kedua. Dengan aktivitas yang tidak membutuhkan hadir pada CBD kota utama, maka hunian di wilayah hinterland juga menjadi pilihan,” katanya kepada IndonesianForecast.
Aksesibilitas berupa jaringan jalan tol menjadi salah satu yang dipertimbangkan untuk memilih hunian di wilayah pinggiran atau hinterland kota. Selain itu, enclave hunian umumnya dikemas dalam bentuk gated community yang menawarkan berbagai layanan mulai dari keamanan, kenyamanan, ketenangan, dan berbagai sarana hunian lainnya.
Syarifah menambahkan merujuk pada The Wealth Report 2025, Indonesia termasuk dalam negara yang memiliki nilai pertumbuhan UHNWI/HNWI yang positif di Asia.
Pasar untuk segmen ultra pada dasarnya ada dan terus bergerak, bahkan pergerakan wealth saat ini berada pada 3 generasi, selain baby boomers, dan gen x, saat ini mulai tumbuh generasi milenial dengan status HNWI.
HNWI merupakan individu dengan kekayaan bersih minimal US$1 juta dolar atau ekuivalen Rp15 miliar termasuk kediaman utamanya. Lalu UHNWI merupakan individu dengan kekayaan bersih minimal US$30 juta dolar atau setara Rp450 miliar termasuk kediaman utamanya.






