IndonesianForecast, JAKARTA — Paramount Land optimistis sepanjang tahun ini dapat membukukan pra penjualan atau marketing sales yang ditargetkan mencapai Rp5,5 triliun.
Adapun dalam 2 bulan pertama tahun ini, Paramount Land telah meraup marketing sales senilai Rp500 miliar. Sepanjang tahun lalu, pengembang membukukan marketing sales sebesar 95% dari target yang direvisi menjadi Rp4,5 triliun. Sebelumnya, Paramount Land menargetkan dapat meraup marketing sales senilai Rp6,5 triliun di 2025.
Presiden Direktur Paramount Land M. Nawawi mengatakan pihaknya tak menampik kondisi penjualan pada semester 1 tahun 2025 sangat sulit sehingga membuat perusahaan menahan meluncurkan proyek properti baru.
“Semester I tahun 2025 ini banyak produk yang kami batalin pengeluarannya. Jadi memang produk-produk baru sudah kami siapkan, desain dan lainnya, namun belum ada waktu yang tepat untuk meluncurkan produk tersebut. Bisa karena ada ketidaksesuaian produk dengan selera pasar,” ujarnya, Kamis (25/2/2026).
Selain itu, sedikitnya produk yang diluncurkan pada tahun lalu karena belum beroperasinya jalan tol akses kawasan Paramount Petals di Curug Tangerang. Adapun pembangunan fisik direct toll access Paramount Petals di Jalan Tol Jakarta – Tangerang KM 25 telah memasuki tahap akhir menjalani Uji Laik Fungsi (ULF) dan Uji Laik Operasional (ULO). Pengujian ini dilakukan oleh Kementerian Pekerjaan Umum melalui Direktorat Jenderal Bina Marga bersama Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT). Uji kelayakan meliputi pemeriksaan perkerasan jalan, struktur bangunan pelengkap, lajur tol, jarak pandang, akses kawasan, hingga fasilitas keselamatan seperti penerangan, marka, rambu, CCTV, dan dynamic message sign (DMS).
“Pertengahan tahun ini akan beroperasi jalan tolnya. Kalau tol ini sudah beroperasi, kami baru bisa mulai mengeluarkan produk hunian baru di Paramount Petals. Rencananya bakal ada hunian premium di Petals, harganya di atas Rp3 miliar,” katanya.
Pihaknya optimistis perusahaan dapat mencapai target marketing sales mencapai Rp5,5 triliun. Keoptimisan tersebut diyakini kondisi ekonomi dan industri properti yang semakin baik.
Paramount Land juga akan memperkuat pendapatan berulang atau recurring income dimana ditargetkan setiap tahunnya meningkat sebesar 3%. Hingga kini porsi recurring income Paramount mencapai sekitar 19% dari pendapatan.
“Kami terus memperkuat recurring income dari hotel, rumah sakit, ritel, dan mal,” ucapnya.
Nawawi menilai tahun 2026 merupakan tahun yang istimewa di mana Paramount Land memasuki usia ke-20 sebagai perusahaan properti di Indonesia. Kekuatan Paramount Land sebagai pengembang yang visioner berawal dari keberhasilan membangun Paramount Gading Serpong, yang dilanjutkan dengan proyek strategis lainnya di Indonesia, termasuk Paramount Village Semarang dan Paramount Petals yang kini bertumbuh semakin ramai dan dinamis.
Paramount Land berkomitmen untuk terus memperkuat visi dan misi sebagai pengembang terpercaya yang tidak hanya membangun proyek, tetapi juga menghadirkan ekosistem kehidupan tempat masyarakat tinggal, bertumbuh, berkolaborasi, dan meningkatkan kualitas kehidupan secara berkelanjutan.
Direktur Paramount Land Norman Daulay menambahkan dinamika tantangan global berdampak pada kondisi ekonomi termasuk Indonesia dan juga terhadap industrial properti. Perjalanan Paramount Land di tahun 2025 berlangsung di tengah dinamika dan tantangan global yang berpengaruh pada perekonomian nasional, di mana perusahaan tetap mampu menjaga kinerja yang solid.
“Secara makro di Indonesia pun terkena dampaknya namun Paramount Land melalui berbagai milestones strategis ditandai dengan beragam inovasi produk dan layanan penjualan, serta penguatan branding yang semakin memperkokoh fondasi dan arah pertumbuhan perusahaan,” tuturnya.
Salah satu milestone adalah peluncuran brand identity Paramount Gading Serpong pada Desember 2025, yang menegaskan fase kedewasaan kawasan sekaligus bukti integritas dalam menjaga konsistensi kualitas pengembangan.
Paramount Land terus melakukan pembangunan fasilitas kota untuk memenuhi janji terhadap konsumen. Pada 2025, perusahaan telah melakukan serah terima pembangunan sebanyak 1.250 unit dan berhasil menjual 800 unit baik produk hunian dan komersial.
“Pada periode tertinggi, kapasitas pembangunan residensial dan komersial mencapai 1.600 hingga 1.800 unit per bulan. Tahun lalu kami juga menyelesaikan renovasi produk properti kami seperti Atria Malang yang akan berdampak pada recurring income,” terangnya.
Tahun ini, perusahaan akan membangun proyek properti baik residensial, komersial dan fasilitas kota. Paramount Land menganggarkan capital expenditure (capex) atau belanja modal sekitar Rp1 triliun untuk pembangunan proyek fasilitas kota.
“Produk komersial Victoria District di Gading Serpong akan diluncurkan pada tahun ini. Lalu proyek Pasadena District 40 hektare di Gading Serpong juga akan terus berprogres. Kami akan mulai bangun Bethsaida Hospital di Paramount Petals, sekolah dasar, dan juga supermarket, lifestyle, dan bursa mobil di Petals. Intinya kami terus komitmen menyediakan fasilitas kota,” ujar Norman.
Sementara itu, Direktur Paramount Land Chrissandy Dave menuturkan di tengah ketatnya persaingan pasar properti Jabodetabek, khususnya Tangerang Raya, Paramount Land terus menegaskan posisinya sebagai pengembang yang kompetitif dan diminati masyarakat. Salah satu pengembangan unggulan di Paramount Gading Serpong adalah Pasadena Central District, kawasan mixed-use premium seluas 40 hektare yang berada di akses jalan baru Gading Serpong-BSD.
Mengusung konsep 10 Minutes City Living, kawasan tersebut memudahkan penghuni memenuhi kebutuhan harian dalam satu kawasan terintegrasi. Di dalam kawasan tersebut terdapat hunian premium Grand Pasadena Village dan Altadena Residences yang terhubung dengan area komersial Grand Boulevard Aniva Studio Loft serta pusat kuliner Aniva yang kini diramaikan ratusan bisnis viral dan menjadi destinasi favorit masyarakat Jabodetabek.
“Dengan dukungan infrastruktur dan akses tol utama, Pasadena Central District memiliki potensi pertumbuhan nilai properti yang berkelanjutan. Paramount Gading Serpong telah menjadi destinasi regional bagi masyarakat Tangerang Raya, Jabodetabek, hingga luar Pulau Jawa, dengan kawasan yang atraktif dan aktivitas kuliner, bisnis, serta gaya hidup yang dinamis,” katanya.
Untuk proyek Paramount Petals kian dilakukan penguatan posisi sebagai kota mandiri prospektif di koridor barat Jakarta. Hingga saat ini progress pembangunan residensial sebanyak 1.300 unit, yang telah dilakukan serah terima sebanyak 1.000 unit dan telah terhuni 600 kepala keluarga.
“Kami terus melengkapi kawasan dengan berbagai fasilitas, mulai dari Community Club Paramount Petals, Bethsaida Clinic, Paramount Petals Taman Rasa, Pasar Modern Paramount Petals, hingga beragam tenant kuliner yang semakin meramaikan kawasan,” ucap Chrissandy.
Terpisah, Senior Director of Capital Markets JLL Indonesia Herully Suherman menuturkan pada semester II 2025 tercatat peluncuran 3.800 unit baru dan jumlah permintaan sebanyak 3.700 unit dengan tingkat penjualan dalam enam bulan tersebut sebesar 88%.
Menurutnya, pasar perumahan tapak menunjukkan performa yang stabil dengan keseimbangan antara pasokan baru dan permintaan. Pengembang akan mempertimbangkan akses transportasi baik transportasi pribadi maupun umum menuju perumahan yang akan dibangun.
“Pembeli rumah pun dominan oleh kalangan menengah dan menengah ke atas yang butuh akses transportasi memadai. Kenyamanan menjadi salah satu faktor untuk meningkatkan strategi pengembangan mereka,” katanya.
Dia meyakini kondisi pasar properti membaik seiring dengan turunnya suku bunga acuan dari 5,25% Juli menjadi 4,75% pada November 2025 hingga kini. Insentif pemerintah dinilai lebih menguntungkan pengguna akhir atau pembeli dibanding investor melalui pembiayaan bersubsidi dan pengurangan biaya transaksi.
Untuk diketahui, berdasarkan Survei Harga Properti Residensial (SHPR) yang dikeluarkan Bank Indonesia, penjualan unit properti residensial tipe kecil dan menengah tumbuh positif di tengah penjualan unit properti tipe besar yang masih terkontraksi pada kuartal IV tahun 2025.
Secara keseluruhan, penjualan unit properti residensial di pasar primer tumbuh positif sebesar 7,83% (year-on-year/yoy), meningkat dibandingkan dengan penjualan pada kuartal sebelumnya yang terkontraksi sebesar 1,29% yoy.
Dari sisi pembiayaan, hasil survei menunjukkan bahwa sumber utama pendanaan untuk pembangunan properti residensial masih berasal dari dana internal pengembang, dengan pangsa mencapai 80,14%. Lalu dari sisi konsumen, mayoritas pembelian rumah di pasar primer dilakukan melalui skema pembelian kredit pemilikan rumah (KPR), dengan pangsa sebesar 70,88% dari total skema pembelian.






