Home / Property / Paradise Indonesia Terus Perkuat Bisnis Mal Berkelanjutan

Paradise Indonesia Terus Perkuat Bisnis Mal Berkelanjutan

IndonesianForecast, JAKARTA — PT Indonesian Paradise Property Tbk (INPP) atau Paradise Indonesia dikenal sebagai pengembang properti dengan tawaran konsep yang berbeda yang tidak sekadar membangun properti.

Perusahaan terus berupaya menciptakan ruang yang fungsional dan memberikan pengalaman unik dan menghidupkan kawasan. Salah satunya pada pusat perbelanjaan ternama yang dikembangkan dan dioperasikan oleh perusahaan antara lain Plaza Indonesia, fX Sudirman, 23 Paskal Shopping Center di Bandung dan Beachwalk Shopping Center di Bali. Selain itu, perusahaan sedang mengembangkan 23 Semarang Shopping Center yang dijadwalkan untuk memperkuat portofolio.

Direktur & CFO PT Indonesian Paradise Property Tbk Surina mengatakan keunggulan pusat belanja milik INPP terletak pada posisinya sebagai lokasi pilihan bagi tenant-tenant baru. Mal yang dimiliki Paradise Indonesia biasanya menjadi tempat pembukaan pertama brand baru di kota. Dia mencontohkan seperti di Bandung dan Bali karena traffic pengunjungnya tinggi.

“Itu yang membuat tenant selalu menempatkan outlet perdana di properti kami,” ujarnya dikutip Selasa (14/4/2026).

Menurutnya, model bisnis specialty store yang dominan di portofolio mal milik INPP justru lebih tangguh pasca-pandemi dibanding department store. Specialty store memang menarik pelanggan yang tidak selalu datang dengan tujuan membeli namun akhirnya belanja karena experience.

Ke depan, INPP masih akan melanjutkan ekspansi di kota-kota besar dengan konsep lifestyle mall. Hal ini karena recurring income dari pusat perbelanjaan akan tetap menjadi pilar penting dalam strategi jangka panjang perusahaan. Hingga kini, Bali masih menjadi kontributor terbesar untuk segmen ritel khususnya melalui Beachwalk Shopping Center yang menguasai porsi terbesar dari total pendapatan mal INPP.

Sepanjang 2025, Paradise Indonesia mencatat pendapatan sebesar Rp1,74 triliun atau tumbuh 32,9% secara tahunan. Pertumbuhan ini ditopang oleh kontribusi proyek baru seperti Antasari Place, perluasan 23 Paskal Shopping Center, dan penguatan segmen perhotelan. Perusahaan berhasil melipatgandakan posisi kas menjadi Rp771,39 miliar dengan struktur permodalan yang tetap sehat tercermin dari rasio net debt to equity (DER) sebesar 0,21x. 

“Kami bersyukur dapat mencatat pertumbuhan pendapatan konsisten selama lima tahun berturut-turut sambil melipatgandakan cadangan kas, Indonesia Paradise kini siap tumbuh secara konservatif di tengah situasi penuh tantangan. Didukung net DER rendah 0,21x dan basis recurring income solid, kami sangat siap mengakselerasi proyek-proyek ikonik baru demi nilai berkelanjutan bagi seluruh pemangku kepentingan,” katanya.

Lebih jauh, transformasi Paradise Indonesia terlihat dari pendekatan mixed-use development yang mengintegrasikan hunian, perhotelan, dan area komersial dalam satu kawasan. Model ini tidak hanya meningkatkan efisiensi aset tetapi juga menciptakan ekosistem yang saling terhubung di mana setiap fungsi saling menghidupkan.

CEO Paradise Indonesia Anthony P. Susilo menuturkan perusahaan terus memperkuat struktur pendapatan dengan menjaga porsi recurring income di kisaran 70% seiring pengembangan aset yang dilakukan secara konsisten.

Paradise Indonesia membangun sinergi antar-segmen yang memperkuat ekosistem properti gaya hidup. Integrasi ini tidak hanya meningkatkan visibilitas arus kas tetapi juga memperkuat daya tarik kawasan sebagai pusat aktivitas ekonomi. 

Memasuki 2026, Perusahaan menargetkan pertumbuhan pendapatan konsolidasi sekitar 5% hingga 10% yang ditopang oleh kelanjutan monetisasi unit residensial Antasari Place Tower dan tambahan kontribusi arus kas dari 23 Semarang Shopping Center yang dijadwalkan mulai beroperasi pada semester pertama tahun ini. Selain itu, Paradise Indonesia juga menyatakan rencana pengembangan konsep properti low-density lifestyle di Balikpapan sebagai diversifikasi segmen baru dalam transformasi bisnis yang berorientasi jangka panjang.

Di tengah tren industri yang banyak bergerak ke pengembangan kawasan pinggiran, Paradise Indonesia tetap konsisten menggarap proyek di pusat kota. Strategi ini memungkinkan perusahaan menciptakan destinasi ikonik dengan nilai tambah tinggi sekaligus menjawab kebutuhan masyarakat urban yang terus berkembang. 

“Kami tidak hanya berperan sebagai pemilik properti, tetapi juga sebagai pengembang yang menciptakan nilai pengalaman (experience value) dari properti ikonik kami,” ucapnya.

Ke depan, Paradise Indonesia menargetkan pertumbuhan yang berkelanjutan dengan tetap menjaga keseimbangan antara ekspansi dan kekuatan fundamental. Proyek-proyek baru seperti 23 Semarang Shopping Center dan pengembangan kawasan gaya hidup di Balikpapan diharapkan menjadi sumber pertumbuhan berikutnya. 

Anthony tak menampik terdapat tantangan dalam pengembangan mal. Menurutnya, tidak banyak developer di Indonesia yang pandai mengelola mal.

“Cuman ada 4 hingga 5 pengembang nasional yang kuat bangun mal yakni Pakuwon, Summarecon, Podomoro, Ciputra, Lippo dan mereka bangun di lahan sendiri. Misal seperti Summarecon bangun township dahulu baru mall, lalu Podomoro juga gitu bangun apartemen baru malnya,” tuturnya.

Kendati demikian, dia meyakini pusat perbelanjaan yang akan dibangun salah satunya di Balikpapan dapat bersaing karena memiliki daya tarik ikonik.

Sementara itu, Senior Research Advisor Knight Frank Indonesia Syarifah Syaukat menuturkan lanskap ritel saat ini tengah mengalami transformasi signifikan.  Fenomena Retail Renaissance masih berlanjut dan menunjukkan daya tahan yang semakin kuat, meski dibayangi perlambatan kinerja makroekonomi global. 

Dalam konteks ini, ukuran pusat perbelanjaan bukan lagi menjadi penentu utama keberhasilan. Relevansi terhadap kebutuhan dan perilaku konsumen justru menjadi faktor kunci yang menentukan produktivitas dan nilai aset ritel.

Outdoor is the new indoor menjadi gambaran nyata perubahan konsep pusat perbelanjaan modern,” terangnya. 

Menurutnya, konsumen kini lebih menyukai ruang terbuka, area komunal, serta konsep lifestyle yang mengedepankan pengalaman (experience-led retail).

“Di Jakarta, sektor ritel terus beradaptasi terhadap perubahan preferensi pasar. Pusat perbelanjaan dengan desain inovatif, ruang interaktif, dan tenant mix yang kompetitif terbukti menjadi pemenang dalam fase pemulihan pascapandemi,” ujarnya.

Berdasarkan data Knight Frank Indonesia, gerai makanan dan minuman (FnB) tercatat sebagai sektor paling ekspansif sepanjang 2025. Sejumlah brand internasional seperti Chagee, Sushiro, dan Sancha memperluas penetrasi pasar mereka di Jakarta, memperkuat daya tarik pusat perbelanjaan premium. Memasuki akhir 2025, performa ritel masih menunjukkan variasi berdasarkan segmentasi pasar. Ritel premium relatif solid, ditopang masuknya tenant baru dari sektor FnB, fashion, beauty, lifestyle, hingga sportswear

Sebaliknya, ritel kelas menengah ke bawah masih menghadapi tekanan, memicu tren flight to quality, yakni pergeseran preferensi tenant dan pengunjung menuju mal dengan kualitas bangunan, lokasi strategis, serta kurasi tenant yang lebih unggul.

“Konsep open-air lifestyle, social space, serta kurasi tenant yang relevan terbukti lebih resilient dalam fase pemulihan pasar. Namun demikian, kesiapan omnichannel tetap menjadi elemen krusial, mengingat bangunan fisik ritel kini merupakan bagian integral dari ekosistem online retail yang terus berkembang,” katanya.

Dia menambahkan ekspansi ritel di kawasan urban masih berlanjut seiring pertumbuhan kota. Kendati demikian, format dan fungsinya mengalami perubahan signifikan. Perubahan perilaku konsumen menjadi pendorong utama transformasi ritel. Aktivitas belanja yang lebih efisien dan ekonomis kini banyak beralih ke platform daring, sehingga masyarakat tidak lagi merasa perlu datang ke mal hanya untuk membeli barang. Konsumen justru mencari pusat perbelanjaan yang menawarkan ruang untuk berkumpul, berinteraksi, dan memperoleh pengalaman. 

Kondisi tersebut mendorong berkembangnya konsep lifestyle retail, di mana pusat perbelanjaan bertransformasi menjadi ruang interaksi sosial. Konsep seperti alfresco dining yang sebelumnya hadir dalam skala terbatas kini berkembang menjadi area yang lebih luas dan terintegrasi. 

Lebih lanjut, Syarifah menilai tren tersebut berkaitan erat dengan pola hidup masyarakat urban yang memiliki rutinitas kerja padat, sehingga membutuhkan ruang untuk relaksasi dan healing.  

Salah satu tren paling menonjol menuju 2026 adalah masuknya konsep wellness ke dalam ruang ritel. Kesehatan pun tidak lagi sekadar kebutuhan, melainkan telah menjadi bagian dari gaya hidup, tercermin dari semakin banyaknya pusat perbelanjaan yang menghadirkan fasilitas spa, studio yoga dan pilates, hingga berbagai aktivitas kebugaran seperti pickleball dan bowling. 

Selain wellness, hobi dan leisure juga menjadi titik penetrasi baru bagi pengembangan ritel. Kehadiran ruang komunitas dan aktivitas minat khusus menjadikan ritel berfungsi sebagai pusat aktivitas sosial, bukan sekadar destinasi belanja.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *