IndonesianForecast, JAKARTA — Kecerdasan buatan (AI) mulai mengubah strategi perusahaan dalam mengelola tenaga kerja dan ruang kantor di kawasan Asia Pasifik. Alih-alih memangkas kebutuhan ruang secara besar-besaran, perusahaan justru melihat peluang untuk mengembangkan tempat kerja yang lebih mendukung kolaborasi, inovasi, dan produktivitas.
Riset Colliers dalam Asia Pacific Workplace Insights Report 2027 menunjukkan, sebanyak 47% responden memperkirakan adopsi AI akan mendorong kebutuhan terhadap format dan jenis ruang kerja yang berbeda. Angka ini lebih tinggi dibandingkan 36% responden yang memperkirakan AI akan mengurangi kebutuhan ruang kantor.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa dampak awal AI terhadap dunia kerja lebih banyak berkaitan dengan perubahan struktur tenaga kerja, keterampilan, dan cara menyelesaikan pekerjaan dibandingkan sekadar pengurangan luas ruang kantor.
Seluruh responden dalam survei tersebut memperkirakan AI akan menciptakan posisi khusus baru yang membutuhkan keterampilan, kapabilitas, dan pola kolaborasi berbeda. Sementara itu, 100% responden menilai AI akan memberikan dampak terbesar terhadap produktivitas dan hasil kerja, diikuti perubahan keterampilan serta peran pekerjaan sebesar 73% dan struktur tenaga kerja sebesar 61%.
Managing Director Occupier Services Asia Pacific Colliers Mike Davis mengatakan organisasi perlu menyesuaikan strategi tempat kerja seiring perubahan kebutuhan tenaga kerja akibat adopsi AI.
Menurutnya, kantor akan semakin berperan dalam mendukung kolaborasi, pembelajaran, inovasi, dan pertukaran pengetahuan. Karena itu, perubahan yang dipicu AI tidak serta-merta berarti perusahaan membutuhkan ruang kantor yang lebih sedikit.
“Perubahan tersebut juga terlihat dari cara perusahaan memandang fungsi kantor. Sebanyak 82% organisasi di Asia Pasifik kini menerapkan model kerja yang berpusat pada kantor. Selain itu, 80% responden memperkirakan tidak akan ada perubahan berarti dalam kebijakan kerja mereka selama 12 bulan ke depan,” ujarnya dalam laporan dikutip Jumat (16/10/2026).
Namun, fokus perusahaan mulai bergeser dari sekadar memastikan karyawan hadir di kantor menuju pengukuran kontribusi tempat kerja terhadap kinerja bisnis.
Sebanyak 55% responden menempatkan produktivitas dan kinerja bisnis sebagai fungsi utama kantor. Sementara itu, 52% menilai kolaborasi dan inovasi sebagai peran penting tempat kerja.
Meski demikian, pengukuran efektivitas kantor masih menjadi tantangan. Satu dari empat perusahaan yang disurvei belum mengukur efektivitas tempat kerja secara formal, sedangkan 10% lainnya terutama mengandalkan masukan dari pimpinan.
Davis menilai perusahaan kini semakin berorientasi pada hasil. Organisasi yang mampu menciptakan nilai lebih besar adalah perusahaan yang menyelaraskan strategi tempat kerja, teknologi, dan pengelolaan talenta dengan sasaran bisnis yang terukur.
Di tengah tekanan biaya operasional, perusahaan juga cenderung mengutamakan optimalisasi ruang yang sudah dimiliki dibandingkan pengurangan luas kantor.
Survei Colliers mencatat, sebanyak 75% responden menyebut biaya okupansi sebagai salah satu faktor utama dalam pengambilan keputusan terkait tempat kerja.
Meski demikian, 40% responden berencana memperpanjang sewa kantor yang ada, 29% akan mempertahankan luas ruang saat ini, dan 17% berencana menata ulang tempat kerja. Hanya 13% yang memperkirakan akan mengonsolidasikan luas kantor dalam 12 bulan mendatang.
Managing Director Office Services Southeast Asia Colliers Chris Archibold menuturkan nilai utama properti perkantoran semakin ditentukan oleh kontribusinya terhadap kinerja tenaga kerja.
Dia menyoroti biaya tenaga kerja dapat mencapai sekitar 65% dari total biaya bisnis, sedangkan tempat kerja fisik mewakili sekitar 15%. Dengan komposisi tersebut, kantor perlu memberikan nilai tambah terhadap investasi perusahaan pada sumber daya manusia.
Meski perusahaan mulai mengantisipasi perubahan pola kerja, riset tersebut menemukan kesenjangan dalam perencanaan jangka panjang.
Sebanyak 62% responden memperkirakan pola kerja lintas fungsi dan berbasis proyek akan semakin berkembang. Namun, 57% belum menyelaraskan perubahan tenaga kerja akibat AI dengan masa berakhirnya kontrak sewa serta kebutuhan kantor pada masa mendatang.
“Hanya 7% responden yang menyatakan telah menyelaraskan transformasi tenaga kerja dengan perencanaan sewa secara penuh,” katanya.
Kondisi ini menunjukkan bahwa perusahaan menghadapi tantangan untuk memperhitungkan perubahan kebutuhan tenaga kerja ketika mengambil keputusan properti jangka panjang. Ketidaksinkronan tersebut berpotensi membuat perusahaan mempertahankan ruang yang tidak lagi sesuai dengan pola kerja atau kehilangan kesempatan menyiapkan lingkungan kerja yang lebih produktif.
Di sisi lain, Asia Pasifik masih menjadi kawasan yang menarik bagi ekspansi bisnis. Efisiensi biaya operasional menjadi pertimbangan utama bagi 68% responden, disusul akses terhadap talenta sebesar 50%. Faktor politik hanya disebut oleh 7% responden sebagai pendorong keputusan lokasi.
“Sebanyak 40% responden menyatakan rencana ekspansi mereka tidak berubah, sedangkan 34% masih aktif melakukan ekspansi di kawasan tersebut,” ucapnya.
Dia menambahkan akses terhadap talenta, keterampilan, produktivitas, dan kinerja bisnis tetap menjadi faktor penting dalam keputusan perusahaan di Asia Pasifik.
Temuan Colliers ini mengindikasikan bahwa di tengah perkembangan AI, strategi perkantoran tidak lagi cukup berfokus pada berapa banyak ruang yang digunakan. Perusahaan juga perlu mempertimbangkan bagaimana ruang tersebut membantu tenaga kerja beradaptasi, berkolaborasi, dan menghasilkan nilai bisnis.






