IndonesianForecast, JAKARTA — Tekanan daya beli mulai memengaruhi aktivitas sektor ritel. Penurunan daya beli dapat berdampak pada omzet tenant dan membuat sebagian pelaku usaha menahan rencana ekspansi. Di tengah kondisi tersebut, pusat perbelanjaan mulai melihat peluang dari tenant berbasis food and beverage (F&B), pop-up store, hingga konsep experience.
CEO Leads Property Services Indonesia Hendra Hartono mengatakan kondisi sektor properti saat ini dipengaruhi oleh dua sisi utama, yakni pasokan dan permintaan. Keduanya turut terdampak oleh perubahan kondisi ekonomi, termasuk meningkatnya biaya konstruksi dan tekanan terhadap daya beli.
“Kalau di property itu ada dua sisi, Pak. Sisi supply dan sisi demand. Dua sisi ini sangat berpengaruh,” ujarnya dikutip Sabtu (8/8/2026).
Menurut Hendra, dari sisi permintaan, daya beli yang melemah menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan. Kondisi tersebut dapat memengaruhi keputusan konsumen maupun pelaku usaha dalam melakukan ekspansi.
“Daya belinya berkurang, daya beli pembeli,” katanya.
Tekanan pada daya beli kemudian turut berpengaruh terhadap sektor ritel karena kinerja tenant sangat bergantung pada aktivitas konsumsi. Ketika omzet menurun, tenant yang sebelumnya berencana membuka gerai baru dapat memilih menunda ekspansi.
Associate Director Research & Consultancy Department PT Leads Property Services Indonesia Martin Samuel Hutapea menuturkan kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan yang dihadapi pasar ritel pada 2026. Penurunan daya beli dapat menyebabkan omzet tenant ikut menurun sehingga rencana ekspansi yang sebelumnya disiapkan tidak langsung direalisasikan.
“Daya beli menurun, omset menurun, omset tenant menurun, yang seharusnya mereka mau ekspansi tahun ini, jadinya mereka tertunda ekspansinya,” kata Martin.
Meski demikian, kondisi tersebut juga membuka peluang bagi pusat perbelanjaan untuk mengakomodasi jenis tenant dan aktivitas yang lebih fleksibel. Martin menyebut ruang di mal dapat dimanfaatkan untuk coworking, pop-up store, pameran, hingga aktivitas berbasis pengalaman.
“Landlocked itu bisa membuka peluang bagi tipe-tipe tenant yang buka mainstream retail. Jadi kayak coworking, atau mungkin pop-up store, pameran, experience, something like that,” ujarnya.
Konsep tersebut dinilai dapat masuk ke pusat perbelanjaan segmen menengah hingga atas, terutama yang berada di lokasi strategis. Selain itu, F&B masih menjadi salah satu kategori yang mendorong permintaan ruang ritel.
Berdasarkan data Leads Property Services Indonesia, pasokan ritel pada kuartal II 2026 diproyeksikan mencapai 3,58 juta meter persegi, tidak berubah secara kuartalan. Sementara permintaan kuartalan diproyeksikan sebesar 6.685 meter persegi.
Tingkat okupansi diproyeksikan berada di level 91%, dengan harga sewa rata-rata Rp480.700 per meter persegi per bulan.
Untuk keseluruhan 2026, pasokan ritel diproyeksikan mencapai 3,61 juta meter persegi atau bertambah 60.236 meter persegi dibandingkan tahun sebelumnya. Permintaan tahunan diperkirakan mencapai 50.000–55.000 meter persegi.
Tingkat okupansi diproyeksikan tetap 91%, sedangkan harga sewa diperkirakan mencapai Rp481.000 per meter persegi per bulan.
Dari sisi permintaan, Martin mengatakan kategori F&B masih menjadi pendorong utama pasar ritel. Ekspansi brand ritel asal Tiongkok juga masih berlangsung.
Sementara dari sisi pasokan, Lippo Mall at Holland Village diprediksikan menambah pasokan ritel baru pada akhir 2026. Meski terdapat tambahan pasokan, tingkat okupansi diperkirakan tetap stabil.
Di tengah tekanan daya beli dan meningkatnya biaya pengembangan, Martin juga melihat perubahan pada model pembangunan pusat ritel. Pengembangan mal dalam skala mixed-use diperkirakan semakin terbatas karena tingginya biaya konstruksi.
Sebagai alternatif, konsep retail compound dinilai lebih realistis. Menurut Martin, biaya konstruksi konsep tersebut dapat 50%–60% lebih murah per meter persegi dibandingkan pembangunan mal dalam skala besar.
Selain pembangunan baru, peluang juga terdapat pada peremajaan mal eksisting untuk meningkatkan kualitas tenancy dan memperkuat daya tarik pusat perbelanjaan.
Dengan permintaan F&B yang masih menjadi salah satu penggerak utama serta munculnya kebutuhan terhadap pop-up store, coworking, pameran, dan experience, pasar ritel diperkirakan terus menyesuaikan formatnya dengan perubahan daya beli dan kebutuhan tenant.






