IndonesianForecast, JAKARTA — Pasar residensial nasional pada akhir 2025 dalam kondisi yang relatif stabil
di tengah penyesuaian daya beli dan preferensi hunian masyarakat.
CEO Founder Pinhome Dayu Dara Permata mengatakan permintaan tetap terjaga terutama pada segmen rumah kecil dan menengah, sedangkan pasar sewa mulai menunjukkan peran yang semakin kuat. Kondisi ini tercermin dari data temuan Pinhome melalui Pinhome Home Sell Index (PHSI) dan Pinhome Home Rental Index (PHRI) kuartal IV tahun 2025.
Indeks Harga Jual Rumah Nasional pada kuartal IV tahun 2025 naik tipis 0,4% dibanding kuartal III tahun 2025 dan angka kenaikan secara tahunan dibanding tahun 2024 juga konsisten di 0.4%. Hal ini mencerminkan kondisi pasar yang relatif seimbang di tengah penyesuaian permintaan, daya beli, dan perkembangan ekonomi di berbagai wilayah.
Secara tahunan, rumah berukuran kecil tetap menjadi penopang pasar dengan pertumbuhan 0,8%, dimana rumah tipe 55–120 naik 0,5%, dan tipe 121–200 sebesar 0,3%. Sebaliknya, rumah tipe besar tipe lebih dari 201 mengalami koreksi tipis sebesar –0,9%.
“Segmen menengah dan kecil tetap jadi favorit masyarakat, sementara rumah besar mengalami penurunan yang berkaitan dengan kecenderungan konsumen menunda pembelian atau beralih ke opsi sewa di kota Inti, dan peningkatan inventori di beberapa wilayah komuter,” ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu (18/3/2026).
Adapun untuk harga jual rumah di wilayah Jakarta untuk di Jakarta Utara untuk rumah tipe 55–120 turun -5% di Tanjung Priok dan tipe 121–200 turun -3% di Tanjung Priok serta Cilincing, seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap banjir rob. Sebaliknya, tipe kurang dari 54 di Tanjung Priok naik 3%, menunjukkan ketahanan segmen rumah kecil.
Kemudian di Kembangan Jakarta Barat untuk tipe kurang dari 54 naik 3% karena harga yang lebih kompetitif, sementara di Kalideres tipe 121–200 tumbuh 2% didukung konektivitas transportasi dan kedekatan dengan Bandara Soekarno-Hatta.
Selanjutnya di Kemayoran Jakarta Pusat menunjukkan penguatan lebih merata dengan tipe lebih dari 201 naik3%, tipe 55–120 naik 3%, dan tipe kurang dari 54 naik 2%, meski tipe 121–200 turun -3%. Sebaliknya di Johar Baru, tipe lebih dari 201 naik 2%, sementara tipe 121–200 turun -2%, tipe 55–120 turun -3%, dan tipe kurang dari 54 turun -2%, mencerminkan tekanan di segmen kecil–menengah.
Lalu di Jakarta Timur untuk rumah tipe 121–200 naik 3% di Ciracas dan 2% di Cakung, didukung peningkatan akses dan infrastruktur. Sementara itu, tipe 55–120 di Kramat Jati turun -3% setelah gangguan aktivitas ekonomi lokal.
Untuk hunian di Jakarta Selatan terjadi koreksi selektif pada tipe kurang dari 54 sebesar -2% di Jagakarsa dan Pasar Minggu mencerminkan sikap pembeli yang lebih berhati-hati dan penyesuaian daya beli di segmen rumah kecil.
“Untuk hunian di Bodetabek dan Banten terjadi penyesuaian terbatas di beberapa segmen. Tipe hunian kurang dari 54 naik 2% di Kota Tangerang namun turun -3% di Kota Serang. Pada tipe lebih dari 201, Kota Bogor naik 3%, sementara Kabupaten Bogor -3% dan Kabupaten Bekasi -2% sejalan dengan peningkatan inventori berlabel urgensi penjualan pada semester 2 tahun 2025, yang memicu penyesuaian harga secara selektif sesuai karakter segmen di tiap wilayah. Di sisi lain, tipe 121–200 di Kabupaten Bogor naik 3%, menunjukkan ketahanan segmen menengah,” tuturnya.
Dayu menambahkan untuk di Jawa Barat rumah tipe lebih dari 201 turun -3% di Kabupaten Bandung dan Kota Cimahi dipengaruhi meningkatnya perhatian terhadap risiko lingkungan dan kebijakan moratorium perumahan. Di Cirebon, tipe ≥201 turun -3% di Kota Cirebon, sementara Kabupaten Cirebon stagnan.
Lalu di harga hunian Bali umumnya stabil. Penguatan terjadi pada tipe 121–200 di Kota Denpasar +2% didukung aktivitas ekonomi dan pariwisata yang tetap tinggi. Kota Mataram dan Kabupaten Lombok Barat di Nusa Tenggara Barat mencatat stagnasi di seluruh tipe rumah, mencerminkan kondisi ekonomi daerah yang stabil.
Di Palembang Sumatra, hunian tipe 54 naik 3% dan tipe 121–200 naik 2%, sementara di Pekanbaru tipe 55 120 tumbuh 3% seiring pemulihan aktivitas setelah periode cuaca ekstrem. Selanjutnya, di Kalimantan hunian tipe 55–120 dan 121–200 di Balikpapan naik 2%, dan hunian tipe lebih dari 201 di Samarinda naik 2%. Sebaliknya, koreksi terbatas terjadi pada tipe 121–200 di Pontianak -2% dan Banjarmasin -2%.
“Hunian di Sulawesi terjadi penguatan selektif di Manado, yaitu kenaikan 2% untuk tipe 201 didukung dinamika ekonomi kreatif kota. Pasar hunian Ambon Maluku stabil dengan penurunan tipis -3% pada tipe 55–120, di tengah tambahan pasokan rumah dari program hunian terjangkau. Di Jayapura, hunian tipe 201 turun -2%. Penyesuaian terjadi seiring fokus pembangunan rumah terjangkau bagi masyarakat berpenghasilan rendah,” katanya.






