IndonesianForecast, JAKARTA — Pasar properti Jakarta menunjukkan momentum positif pada kuartal II 2026, terutama pada sektor perkantoran, ritel, serta logistik dan industri. Pemulihan terlihat dari tetap positifnya permintaan ruang kantor, meningkatnya okupansi pusat perbelanjaan, serta kuatnya tingkat hunian pergudangan modern di Jabodetabek.
Di sektor perkantoran, pasar Central Business District (CBD) Jakarta melanjutkan tren pemulihan dengan tingkat okupansi mencapai 72,8% pada kuartal II 2026. Permintaan bersih juga tetap positif sepanjang semester pertama tahun ini, meskipun kondisi ekonomi dan ketidakpastian politik masih mempengaruhi kecepatan pemulihan.
Head of Research JLL Indonesia James Taylor mengatakan tidak adanya pasokan baru di kawasan CBD menjadi salah satu faktor yang mendukung penyerapan ruang kantor eksisting. Kondisi tersebut juga mulai memberikan ruang bagi pemilik gedung Grade A dan Premium untuk menyesuaikan harga sewa secara moderat.
“Pasar perkantoran CBD Jakarta melanjutkan tren pemulihannya pada kuartal kedua 2026, dengan tingkat okupansi meningkat menjadi 72,8%,” ujar James.
Aktivitas penyewaan terutama terlihat pada gedung perkantoran berkualitas tinggi. Sudirman dan SCBD menjadi kawasan paling aktif pada kuartal II, didorong oleh perusahaan yang melakukan relokasi untuk mendapatkan kualitas gedung yang lebih baik.
Head of Tenant Representation JLL Indonesia Panji Aziz menuturkan sektor jasa keuangan menjadi salah satu penggerak utama aktivitas leasing perkantoran Grade A di CBD.
Tren lain yang terus berkembang adalah meningkatnya permintaan terhadap kantor yang sudah dilengkapi furnitur. Sejumlah pemilik gedung mempertahankan furnitur dari penyewa sebelumnya atau menyediakan ruang yang sudah dilengkapi furnitur maupun kontribusi fit-out untuk menarik calon penyewa.
Harga sewa perkantoran Grade A di CBD naik 0,05% secara kuartalan, meski laju pertumbuhannya melambat dibandingkan kuartal pertama. Pemilik gedung cenderung mengambil pendekatan lebih hati-hati dengan mengutamakan stabilitas okupansi dibandingkan kenaikan harga yang agresif.
Sementara itu, pasar perkantoran non-CBD mencatat penyerapan sekitar 23.000 meter persegi, menjadi angka tertinggi sejak 2019. Aktivitas tersebut didorong oleh penyelesaian dua gedung baru di Jakarta Utara dan Jakarta Barat yang menambah sekitar 67.000 meter persegi pasokan.
Sektor minyak dan gas menjadi salah satu pendorong utama aktivitas leasing di kawasan tersebut.
Ritel Bergeser ke Pengalaman
Momentum positif juga terlihat pada pasar pusat perbelanjaan Jakarta. Pada kuartal II 2026, permintaan bersih mencapai sekitar 16.500 meter persegi, sementara tidak terdapat tambahan pasokan baru.
Kondisi tersebut mendorong tingkat okupansi pusat perbelanjaan Jakarta meningkat menjadi sekitar 86%.
Aktivitas leasing tidak lagi hanya ditopang oleh kebutuhan ruang untuk berbelanja. Ekspansi tenant makanan dan minuman premium, specialty beverage, serta experiential retail semakin aktif di pusat perbelanjaan utama Jakarta.
Segmen luxury retail juga terus berkembang melalui pembukaan dan ekspansi gerai internasional di kategori fashion, beauty, fragrance, dan jewelry.
Perubahan tersebut menunjukkan bahwa pusat perbelanjaan semakin berfungsi sebagai destinasi lifestyle dan pengalaman, bukan sekadar tempat transaksi retail.
Dua proyek pusat perbelanjaan baru juga masih dijadwalkan selesai hingga akhir 2026. Namun, terbatasnya pasokan baru dalam jangka pendek diperkirakan tetap memberikan dukungan terhadap tingkat okupansi dan performa pusat perbelanjaan eksisting.
Logistik Jadi Salah Satu Segmen Paling Sehat
Di sektor logistik dan industri, fundamental pasar masih relatif kuat. Pergudangan modern di Jabodetabek mempertahankan tingkat hunian sekitar 95% pada kuartal II 2026.
Permintaan datang dari berbagai sektor, mulai dari last-mile delivery, third-party logistics (3PL), e-commerce, manufaktur, FMCG, hingga perangkat listrik dan elektronik.
Country Head and Head of Logistics & Industrial JLL Indonesia Farazia Basarah mengatakan keterbatasan ketersediaan gudang berskala besar menjadi salah satu tantangan bagi penyewa.
Masuknya merek internasional baru, terutama perusahaan asal Tiongkok, turut memberikan tambahan permintaan terhadap ruang logistik dan industri.
Selain pergudangan, data center menjadi segmen yang semakin menarik, terutama seiring meningkatnya kebutuhan infrastruktur untuk pengembangan Artificial Intelligence (AI).
Namun, peluang tersebut sangat bergantung pada kesiapan infrastruktur pendukung, seperti ketersediaan listrik dan air bersih, sistem pendinginan yang efisien, serta kualitas kawasan industri.
Harga sewa dan harga tanah di kawasan logistik dan industri juga terus meningkat, sementara nilai transaksi masih sangat bergantung pada proses negosiasi. Penyewa semakin mempertimbangkan lokasi yang dekat dengan pasar sasaran serta memiliki akses mudah menuju jalan tol, bandara, dan pelabuhan.
Pemulihan Belum Merata
Kinerja tiga sektor tersebut menunjukkan bahwa pemulihan pasar properti Jakarta pada kuartal II 2026 tidak terjadi secara seragam, melainkan didorong oleh sektor-sektor dengan permintaan fundamental yang kuat.
Perkantoran mendapat dukungan dari aktivitas relokasi dan terbatasnya pasokan baru. Ritel bergerak melalui perubahan konsep menuju lifestyle dan experiential retail. Sementara itu, logistik dan industri tetap ditopang oleh pertumbuhan e-commerce, manufaktur, distribusi, serta kebutuhan infrastruktur digital.
Dengan kondisi tersebut, pasar properti Jakarta memasuki paruh kedua 2026 dengan prospek yang lebih positif, meski investor dan pelaku pasar masih perlu mencermati perkembangan ekonomi, politik, serta pergerakan nilai tukar.






