Beranda / Property / Pelemahan Rupiah Tak Surutkan Minat Investor ke Kawasan Industri, Sewa Pabrik Jadi Pilihan

Pelemahan Rupiah Tak Surutkan Minat Investor ke Kawasan Industri, Sewa Pabrik Jadi Pilihan

IndonesianForecast, JAKARTA — Di tengah pelemahan rupiah dan ketidakpastian ekonomi global, investor asing masih menunjukkan minat terhadap kawasan industri Indonesia.

Namun, alih-alih membeli lahan, sebagian besar perusahaan memilih menyewa gudang dan pabrik siap pakai sambil menunggu kepastian prospek ekonomi jangka panjang.

CEO PT Leads Property Services Indonesia Hendra Hartono mengatakan keputusan investasi di sektor industri tidak hanya dipengaruhi oleh pergerakan nilai tukar, tetapi juga keyakinan investor terhadap stabilitas ekonomi dan politik suatu negara.

Menurutnya, investasi industri merupakan proses yang berlangsung dalam jangka panjang sehingga perusahaan asing tidak serta-merta membeli lahan ketika datang ke Indonesia.

“Investor asing tidak langsung datang ke Indonesia lalu membeli lahan industri. Biasanya mereka datang dan menginap di hotel, bertemu konsultan hukum, konsultan bisnis, dan mitra lokal. Setelah itu mereka menyewa serviced office terlebih dahulu untuk membuka kantor kecil. Setelah benar-benar yakin terhadap prospek Indonesia, barulah membeli lahan dan membangun pabrik,” ujarnya dikutip Rabu (24/6/2026).

DIa menilai pelemahan rupiah justru dapat membuat investor semakin berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi.

Investo akan mempertimbangkan apakah depresiasi rupiah masih akan berlanjut dalam beberapa tahun mendatang. Jika kondisi tersebut terus terjadi, maka proyeksi biaya investasi dan tingkat pengembalian modal akan ikut berubah.

“Akibatnya, mereka lebih memilih menyewa pabrik dibanding membeli lahan. Padahal yang kita harapkan adalah investasi jangka panjang melalui pembelian lahan dan pembangunan fasilitas produksi,” katanya.

Oleh karena itu, pemerintah dinilai perlu menjaga stabilitas ekonomi dan menghadirkan kepastian kebijakan agar investor memiliki keyakinan untuk menanamkan modal dalam jangka panjang.

“Yang dibutuhkan adalah kebijakan yang mampu meningkatkan rasa percaya investor untuk berinvestasi selama 20 tahun atau lebih,” ucapnya.

Hendra juga menyoroti pergerakan dana asing yang masih didominasi investasi jangka pendek. Menurutnya, pelemahan rupiah yang kerap terjadi bersamaan dengan penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan bahwa sebagian besar modal asing masih berada di instrumen pasar keuangan.

“Ketika IHSG turun, rupiah juga ikut melemah. Artinya, dana asing lebih banyak berada di instrumen pasar modal dibanding investasi riil seperti pembangunan pabrik. Padahal investasi industri merupakan investasi yang paling penting karena memberikan dampak jangka panjang terhadap pembangunan ekonomi,” tuturnya.

Di tengah kehati-hatian investor tersebut, pasar kawasan industri Indonesia masih menunjukkan kinerja yang cukup solid. Berdasarkan riset PT Leads Property Services Indonesia, total pasokan kawasan industri pada kuartal II/2026 mencapai 14,0 ribu hektare, bertambah sekitar 50 hektare secara kuartalan (QoQ). Permintaan pada periode tersebut mencapai sekitar 45 hektare, dengan tingkat penjualan bertahan di 91,5% dan harga jual rata-rata sekitar Rp3,2 juta per meter persegi.

Untuk sepanjang 2026, Leads Property memproyeksikan total pasokan meningkat menjadi 14,1 ribu hektare atau bertambah sekitar 200–250 hektare secara tahunan. Permintaan diperkirakan mencapai 180–200 hektare, sementara tingkat penjualan diproyeksikan tetap berada di kisaran 91,5% dengan harga jual yang relatif stabil di sekitar Rp3,2 juta per meter persegi.

Dalam kesempatan yang sama, Associate Director PT Leads Property Services Indonesia Martin Samuel Hutapea menambahkan permintaan lahan industri masih didorong oleh perusahaan-perusahaan asal Tiongkok yang tengah mencari peluang ekspansi di luar negaranya.

“Kami baru kembali dari Shanghai dan melihat kondisi ekonomi di sana sedang mengalami perlambatan. Akibatnya, banyak perusahaan Tiongkok mulai mencari peluang bisnis di luar negaranya,” ujarnya.

Menurutnya, Indonesia masih menjadi salah satu tujuan utama karena menawarkan margin usaha yang lebih tinggi dibandingkan Tiongkok.

“Di Tiongkok banyak perusahaan hanya memperoleh margin keuntungan sekitar 2–3 persen dan itu sudah dianggap baik. Sementara di Indonesia, margin usaha masih dapat mencapai dua digit. Karena itu mereka terus mencari negara berkembang yang memiliki pasar besar seperti Indonesia, Vietnam, bahkan Kamboja,” katanya.

Adapun subsektor yang saat ini paling aktif melakukan ekspansi adalah pengembang gudang dan pabrik siap pakai (ready-built factory). Pengembang masih terus melakukan akuisisi lahan, termasuk memperluas proyek ke Jawa Tengah dan Jawa Timur.

“Banyak perusahaan asing, khususnya dari Tiongkok, membutuhkan fasilitas industri yang dapat langsung digunakan. Karena itu mereka lebih memilih menyewa gudang atau pabrik yang sudah siap dibandingkan membangun sendiri dari awal. Akibatnya, developer yang menyediakan fasilitas siap pakai masih terus berkembang,” ucapnya.

Leads Property menilai pasokan baru mulai berkembang di Purwakarta seiring semakin terbatasnya lahan di Bekasi dan Karawang. Dari sisi permintaan, penyerapan lahan masih didominasi kedua kawasan tersebut dengan sektor data center, elektronik, logistik, serta ekosistem kendaraan listrik (electric vehicle/EV) sebagai pendorong utama.

Diperkirakan tingkat penjualan kawasan industri akan tetap bertahan di atas 90% dengan harga jual yang relatif stabil. Meski tantangan seperti kenaikan biaya konstruksi dan kehati-hatian investor masih membayangi, permintaan terhadap gudang dan pabrik siap pakai diperkirakan terus meningkat sehingga sektor industri tetap menjadi salah satu segmen properti yang paling resilient di tengah ketidakpastian ekonomi.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *