Beranda / Go Green / Green Retail Asia Pasifik Memasuki Babak Baru, Sustainability Jadi Strategi Aset

Green Retail Asia Pasifik Memasuki Babak Baru, Sustainability Jadi Strategi Aset

IndonesianForecast, JAKARTA — Perkembangan retail berkelanjutan di Asia Pasifik mulai memasuki fase baru. Sustainability tidak lagi hanya berkaitan dengan bangunan hemat energi atau pemenuhan standar lingkungan, tetapi semakin terhubung dengan kebutuhan dekarbonisasi retailer, target ESG landlord dan investor, hingga pengalaman serta gaya hidup konsumen.

Director of ESG Knight Frank Asia Pacific Jackie Cheung mengatakan generasi berikutnya dari aset retail di kawasan Asia Pasifik semakin dibentuk oleh kombinasi antara komitmen ESG landlord, kebutuhan dekarbonisasi retailer, keterlibatan tenant dan retailer, desain biophilic, ruang terbuka hijau, serta pengalaman konsumen.

Menurut Jackie, retailer global semakin mencari ruang retail yang dapat mendukung target net zero, sustainable fit-out, serta kebutuhan pelaporan ESG. Di sisi lain, landlord dan investor menghadapi tekanan yang semakin besar untuk menunjukkan kinerja ESG yang kredibel.

Sejumlah landlord besar mulai menetapkan target net zero dan green certification untuk portofolio mereka. Persyaratan pengungkapan ESG juga semakin ketat di berbagai yurisdiksi, sementara investor semakin memperhatikan apakah rencana transisi iklim sebuah aset dapat dibuktikan melalui kinerja ESG yang terukur.

Kinerja ESG juga semakin relevan terhadap akses modal, leasing, biaya operasional, pengalaman konsumen, dan ketahanan aset. Bahkan, standar ESG dan sustainability mulai memiliki implikasi terhadap penilaian properti komersial.

“Retail berkelanjutan karena itu mulai bergeser dari sekadar kepatuhan menuju strategi aset yang lebih menyeluruh, termasuk bagaimana landlord dan tenant bersama-sama mengurangi jejak karbon sebuah properti,” ujar Jackie, dikutip Senin (24/8/2026).

Perubahan tersebut kemudian semakin terlihat dari sisi kebutuhan retailer. Sustainability kini semakin tertanam dalam desain toko dan kebutuhan real estate perusahaan global, termasuk melalui sustainability-linked loan, sustainability reporting, dan target pengurangan emisi karbon dan emisi operasional.

Retailer mulai mempertimbangkan sejumlah aspek ketika memilih ruang, antara lain keselarasan dengan target ESG, bangunan bersertifikasi green, sistem bangunan hemat energi, akses atau pilihan pengadaan energi terbarukan, sistem pengukuran dan pengelolaan energi, fasilitas pengelolaan limbah dan daur ulang, hingga climate resilience.

Namun, penerapan dekarbonisasi di aset retail tidak dapat dilakukan dengan pendekatan yang sama untuk setiap tenant.

Karakteristik tenant yang beragam membuat konsumsi energi dan kebutuhan operasional juga berbeda. F&B, misalnya, memiliki kebutuhan energi yang tinggi untuk dapur dan refrigeration. Supermarket membutuhkan cold storage, sementara luxury retail memiliki kebutuhan pencahayaan yang lebih spesifik.

Siklus fit-out yang lebih sering juga dapat menghasilkan limbah dan embodied carbon. Selain itu, pola operasional yang berbeda membuat kebutuhan setiap tenant semakin kompleks. Supermarket yang beroperasi selama 24 jam, restoran, dan luxury boutique memiliki jadwal operasional yang berbeda sehingga pendekatan pengurangan energi tidak dapat diseragamkan.

Di sisi lain, pengalaman konsumen tetap menjadi faktor penting. Pencahayaan, pendinginan, kondisi display, dan jam operasional merupakan bagian dari standar brand dan customer experience. Karena itu, pengurangan konsumsi energi juga harus mempertimbangkan kualitas pengalaman pelanggan.

Kondisi tersebut membuat kolaborasi landlord dan tenant menjadi semakin penting dalam mencapai target sustainability. Landlord tidak hanya dituntut menyediakan bangunan hijau, tetapi juga dapat memberikan green lease dan insentif, sustainable fit-out guidelines, ESG training bagi tenant, berbagi data energi dan air, program pengurangan limbah, serta penghargaan atas pencapaian sustainability.

Senior Research Advisor Knight Frank Indonesia Syarifah Syaukat menuturkan terdapat perubahan dari sisi konsumen khususnya meningkatnya kesadaran terhadap isu lingkungan dan sustainability di Indonesia.

Dalam hasil survei The Relationship Between Environmental Knowledge and Green Attitudes on Purchase Intention at Environmentally Friendly Stores in DKI Jakarta Province yang menunjukkan bahwa responden memiliki tingkat pengetahuan lingkungan yang sangat tinggi dan sikap terhadap lingkungan yang dikategorikan sebagai green.

Namun, tingginya pengetahuan dan sikap tersebut belum selalu diterjemahkan secara konsisten ke dalam perilaku konsumsi maupun kesediaan membayar lebih.

Menurut Syarifah, kondisi tersebut menunjukkan adanya kesenjangan antara environmental awareness dan actual purchasing behaviour. Bagi industri retail, tantangannya adalah bagaimana mengubah kesadaran tersebut menjadi pengalaman dan pilihan konsumsi yang lebih berkelanjutan.

“Indikasi perubahan perilaku konsumen juga terlihat dari data PwC Voice of the Consumer 2025 – Indonesia. Sebanyak 57% konsumen memilih kemasan produk yang ramah lingkungan,” katanya.

Dengan meningkatnya kesadaran tersebut, sustainability berpotensi menjadi bagian yang semakin penting dalam cara konsumen memilih tempat berbelanja, makan, berekreasi, dan menghabiskan waktu.

Green retail kemudian semakin erat dengan lifestyle. Sustainability tidak lagi hanya dilihat dari sisi kepatuhan terhadap standar lingkungan, tetapi juga dari kemampuan sebuah aset untuk menjadi tempat yang lebih nyaman bagi masyarakat, menyediakan ruang terbuka, mendukung leisure, dan menjadi bagian dari kehidupan komunitas.

Lebih banyak ruang hijau dan open space dapat meningkatkan kenyamanan, memperpanjang waktu kunjungan, dan memperkuat daya tarik destinasi. Sementara itu, konsep mixed-use lifestyle destination memungkinkan retail, leisure, dan aktivitas komunitas berada dalam satu kawasan.

Desain yang responsif terhadap iklim juga dapat meningkatkan ketahanan aset sekaligus memperbaiki pengalaman konsumen. Dengan pendekatan tersebut, green retail tidak hanya memberikan manfaat terhadap lingkungan, tetapi juga dapat menciptakan nilai ekonomi dan pengalaman bagi pengguna.

General Manager Knight Frank Indonesia Frank Tumewa menambahkan perkembangan menjadi peluang bagi aset retail untuk bergerak dari sekadar tempat transaksi menuju destination yang lebih terintegrasi dengan gaya hidup masyarakat.

Dalam konteks tersebut, keberlanjutan dapat menjadi bagian dari pengalaman konsumen, bukan hanya elemen teknis yang tidak terlihat. Pendekatan tersebut memungkinkan retail menggabungkan kegiatan belanja dengan leisure, ruang hijau, aktivitas komunitas, serta pengalaman urban yang lebih responsif terhadap iklim.

Menurut Frank, integrasi antara sustainability dan lifestyle menjadi semakin relevan karena konsumen tidak hanya mencari tempat untuk membeli produk, tetapi juga destinasi yang menawarkan kenyamanan, pengalaman, dan nilai tambah.

Sejumlah proyek di Asia telah menunjukkan bagaimana konsep tersebut dapat diterapkan. Jewel Changi Airport di Singapura menjadi salah satu contoh. Proyek ini mengintegrasikan sustainability dan greenery ke dalam perjalanan pengunjung mulai dari arrival, leisure, dining, shopping, photo moments, hingga family recreation.

Jewel memiliki Forest Valley indoor garden dengan lebih dari 900 pohon dan sekitar 60.000 semak. Rain Vortex merupakan air terjun indoor setinggi 40 meter yang menggunakan sistem resirkulasi air hujan.

Canopy Park mencakup sekitar 14.000 meter persegi taman, walking trails, dan play installations. Jewel juga memiliki BCA Green Mark GoldPLUS serta Energy Efficient Chiller Plant System dengan efisiensi 0,551 kW/RT.

Contoh lainnya adalah The Exchange TRX di Kuala Lumpur, Malaysia. Kawasan tersebut menunjukkan bagaimana retail dapat menjadi bagian dari distrik mixed-use yang terhubung dengan transportasi publik, ruang hijau, dan aktivitas masyarakat.

The Exchange TRX memiliki lifestyle precinct seluas 17 acre dengan komitmen terhadap climate resilience dan inclusive sustainability. Kawasan tersebut terhubung dengan underground MRT interchange dan memiliki central urban park, shaded walkways, dan green district connectivity.

The Exchange TRX juga mengintegrasikan aspek fresh food serta menerapkan strategi sustainability yang mencakup ambisi sertifikasi LEED/GBI, prinsip zero waste, dan climate-resilient design.

Pengalaman di berbagai pasar Asia menunjukkan bahwa fase berikutnya dari green retail tidak hanya membutuhkan bangunan yang lebih hijau tetapi juga kolaborasi yang lebih erat antara landlord dan tenant.

Landlord dapat memberikan dukungan melalui green lease, sustainable fit-out guidelines, ESG training, berbagi data energi dan air, program pengurangan limbah, serta penghargaan atas pencapaian sustainability.

Sementara itu, tenant perlu menerapkan komitmen tersebut melalui desain toko, pemilihan material, sistem energi, serta operasional sehari-hari.

Sejumlah retailer global telah mulai mengambil langkah tersebut. Saint Laurent tercatat memiliki 56 LEED Platinum stores dan menargetkan penggunaan energi terbarukan di negara-negara yang memungkinkan. Gucci memiliki 163 LEED-certified sites di seluruh dunia pada 2025 dan menargetkan penggunaan energi terbarukan.

Burberry juga mencatatkan 100% renewable energy pada fasilitas milik perusahaan. Sementara itu, adidas menerapkan taxonomy alignment untuk leasing warehouse/distribution centres, retail stores, dan corporate offices, termasuk climate risk and vulnerability assessment.

McDonald’s mengembangkan LEED Zero Carbon Restaurant serta menggunakan material daur ulang atau material lokal pada sejumlah elemen interior. Starbucks mengembangkan greener stores framework yang mencakup desain toko, pengelolaan energi dan air, serta pengurangan limbah.

Di Hong Kong, Nan Fung Group menerapkan sustainability reward berupa insentif pengelolaan properti bagi tenant yang memenuhi target sustainability tertentu. Tenant yang memenuhi persyaratan juga dapat memperoleh Net Positive Coins yang dapat ditukarkan dengan penghargaan tertentu.

Swire Properties di Hong Kong dan China daratan menjalankan green retail partnerships dengan brand global untuk merancang toko dengan mempertimbangkan aspek sustainability.

LVMH menerapkan eco-design checklist yang dikembangkan bersama untuk mencakup langkah-langkah sustainable store design dan fit-out di berbagai kota di China serta Hong Kong.

Kering juga menerapkan sustainable fit-outs dan memasukkan aspek lingkungan dalam desain lighting, interior, dan material.

Pada sektor F&B, Green Kitchen Initiative mendorong penggunaan material yang lebih sustainable serta peralatan hemat energi dan air dalam desain dan operasional. Hingga akhir 2025, lebih dari 140 gerai F&B telah bergabung dalam program tersebut, mencakup berbagai jenis restoran dan brand F&B.

Perkembangan green retail juga tidak terlepas dari peran pemerintah melalui kebijakan dan regulasi. Salah satu contoh yang ditampilkan dalam presentasi Knight Frank adalah Beverage Container Return Scheme di Singapura yang menggunakan pendekatan extended producer responsibility.

Skema tersebut resmi dimulai pada 1 April 2026. Konsumen yang membeli minuman dalam botol plastik atau kaleng logam yang memenuhi syarat membayar deposit sebesar S$0,10. Kemasan kosong kemudian dapat dikembalikan melalui return right reverse vending machine untuk mendapatkan kembali refund sebesar S$0,10.

Supermarket dengan area lantai lebih dari 200 meter persegi diwajibkan menyediakan titik pengembalian kemasan baik di dalam supermarket maupun dalam jarak lima meter dari pintu masuk atau keluar, dengan tetap mengikuti persyaratan dan persetujuan yang berlaku.

Kebijakan tersebut memperlihatkan bagaimana regulasi dapat mendorong perubahan perilaku konsumen sekaligus menciptakan sistem yang melibatkan retailer dan masyarakat dalam ekonomi sirkular.

Indonesia Punya Peluang

Bagi Indonesia, meningkatnya kesadaran konsumen terhadap sustainability dapat menjadi peluang untuk mengembangkan konsep retail yang tidak hanya berorientasi pada transaksi, tetapi juga pengalaman dan lifestyle.

Konsumen Indonesia sudah menunjukkan tingkat environmental knowledge dan green attitudes yang tinggi. Tantangannya adalah bagaimana industri mengubah kesadaran tersebut menjadi perilaku konsumsi yang lebih konsisten.

Di sisi lain, aset retail dapat dikembangkan dengan menggabungkan ruang hijau, leisure, komunitas, dan aktivitas komersial. Pendekatan tersebut dapat membuat aset retail lebih relevan dengan kebutuhan masyarakat sekaligus meningkatkan daya tarik destinasi.

Pada akhirnya, green retail bukan lagi hanya tentang seberapa hijau sebuah gedung. Perkembangannya bergerak menuju bagaimana sebuah aset dapat menggabungkan kinerja ESG, dekarbonisasi, ruang terbuka, lifestyle, dan pengalaman konsumen dalam satu ekosistem.

Bagi pasar Asia Pasifik, perubahan tersebut membuka peluang bagi generasi baru aset retail yang tidak hanya lebih berkelanjutan secara lingkungan tetapi juga lebih relevan terhadap cara masyarakat hidup, bekerja, berbelanja, dan menghabiskan waktu.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *