IndonesianForecast, JAKARTA — Upaya memulihkan lahan kritis di Jawa Barat mulai memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat. Program penghijauan yang dijalankan PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) atau PT SMI tercatat meningkatkan rata-rata pendapatan petani sebesar 66,6%, sekaligus memperluas keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan lahan.
Program yang berlangsung sejak 2024 hingga 2028 tersebut kini mencakup lahan seluas 42 hektare di Kabupaten Bandung, Kabupaten Bogor, dan Kabupaten Cianjur. Luasan tersebut meningkat 12 hektare dibandingkan 30 hektare pada 2024.
Kepala Divisi Sekretariat Perusahaan PT SMI Ramona Harimurti mengatakan peningkatan luasan tidak seluruhnya berasal dari alokasi awal pemerintah. Sebagian merupakan hasil partisipasi mandiri masyarakat di lokasi penanaman, menunjukkan keterlibatan warga dalam pengembangan lahan yang sebelumnya berada dalam kondisi kritis.
Di Desa Cihawuk, Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung, misalnya, cakupan lahan yang dikembangkan meningkat dari 10 hektare pada 2024 menjadi 14,62 hektare pada 2026. Tambahan 4,62 hektare berasal dari partisipasi mandiri masyarakat yang tergabung dalam Kelompok Tani Mencil Lestari.
“Jumlah petani yang terlibat di lokasi tersebut juga bertambah dari 40 menjadi 69 orang,” ujarnya dalam keterangan dikutip Sabtu (5/9/2026).
Program penghijauan ini menggunakan pendekatan agroforestry dengan menggabungkan pemulihan fungsi ekologis lahan dan pengembangan tanaman yang memiliki nilai ekonomi. Sebanyak 27.000 bibit pohon telah ditanam dalam program pada 2024, dengan jenis tanaman meliputi kopi, alpukat, jeruk limau, damar, eukaliptus, suren, dan cengkeh.
Khusus di Desa Cihawuk, sebanyak 9.000 pohon ditanam dan pengembangannya tidak berhenti pada kegiatan penanaman. Masyarakat juga mendapatkan pendampingan kelompok tani, pembinaan nursery, pemeliharaan tanaman, hingga pengolahan dan pemasaran produk pascapanen.
Kepala Divisi Sekretariat Perusahaan PT SMI, Ramona Harimurti, mengatakan pendekatan tersebut memang dirancang agar pemulihan lingkungan berjalan beriringan dengan peningkatan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
“Bagi PT SMI, pemulihan lahan kritis bukan hanya tentang menanam dan menghijaukan kembali lahan, tetapi memastikan bahwa upaya tersebut terus tumbuh bersama masyarakat. Ketika pohon tumbuh, kami ingin melihat manfaat yang ikut tumbuh, mulai dari pendapatan petani, aktivitas ekonomi, hingga kualitas lingkungan yang lebih baik,” katanya.
Menurutnya, manfaat dari program penghijauan perlu dilihat dalam jangka panjang, tidak hanya dari jumlah pohon yang ditanam atau luas lahan yang dipulihkan.
“Hal tersebut menjadi bagian dari pendekatan keberlanjutan yang kami bangun melalui program TJSL PT SMI,” ucapnya.
Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat Dodit Ardian Pancapana menuturkan keterlibatan masyarakat menjadi faktor penting dalam memastikan lahan yang dipulihkan dapat terus memberikan manfaat.
“Kami melihat bahwa program ini telah memberikan dampak yang lebih luas dari sekadar penghijauan. Bertambahnya luasan lahan melalui partisipasi mandiri masyarakat menunjukkan adanya rasa memiliki terhadap upaya pemulihan lingkungan,” tuturnya.
Dodit menilai keberhasilan pemulihan lahan tidak cukup diukur dari luasan area yang ditanami. Keberlanjutan program juga bergantung pada kemampuan masyarakat menjaga lingkungan sekaligus mengembangkan nilai ekonomi dari lahan tersebut.
“Ke depan, kolaborasi seperti ini perlu terus diperkuat agar lahan yang telah dipulihkan dapat memberikan manfaat ekologis dan ekonomi secara berkelanjutan bagi masyarakat,” terangnya.
Selain meningkatkan pendapatan petani, perbaikan akses jalan menuju Desa Cihawuk turut mendukung mobilitas masyarakat dan aktivitas ekonomi di kawasan tersebut.
Penghijauan ini juga menjadi bagian dari komitmen PT SMI untuk mencapai Karbon Netral 2028 yang dideklarasikan pada peringatan HUT ke-15 perusahaan pada 2024. Salah satu langkah yang ditempuh adalah mengompensasi emisi karbon melalui penanaman tumbuhan terestrial, khususnya di lahan kritis.
Komitmen tersebut dilakukan melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PT SMI bersama Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat dan Jaringan Kerja Ecovillage.
Untuk memperkuat pengukuran dampak lingkungan, PT SMI juga melaksanakan pelatihan penghitungan karbon bersama TUV Rheinland pada 2 September 2026 di Desa Cihawuk. Kegiatan tersebut melibatkan Dinas Kehutanan Jawa Barat dan Jaringan Kerja Ecovillage.
Langkah tersebut menjadi penting mengingat emisi operasional PT SMI tercatat sebesar 1.910,60 ton CO₂ ekuivalen pada 2023.
Dengan demikian, program penghijauan PT SMI tidak hanya diarahkan untuk mengembalikan tutupan vegetasi di lahan kritis. Perluasan lahan secara mandiri, peningkatan jumlah petani yang terlibat, serta kenaikan pendapatan menunjukkan bahwa pemulihan lingkungan juga diarahkan untuk menciptakan sumber manfaat ekonomi yang dapat bertahan bagi masyarakat.






