Beranda / Property / Lakon Indonesia Perkuat Posisi Lewat Craftsmanship, HARSA Jadi Babak Baru Pengembangan Brand

Lakon Indonesia Perkuat Posisi Lewat Craftsmanship, HARSA Jadi Babak Baru Pengembangan Brand

IndonesianForecast, JAKARTA — LAKON Indonesia memperkuat posisinya sebagai fashion house yang mengedepankan craftsmanship melalui koleksi terbaru bertajuk HARSA. Di tengah industri fesyen yang bergerak semakin cepat, perusahaan memilih membangun nilai produknya melalui proses kreatif, pengembangan teknik, dan inovasi material yang dikerjakan secara berkelanjutan.

Founder LAKON Indonesia Thresia Mareta mengatakan pendekatan tersebut telah menjadi fondasi perusahaan sejak berdiri pada 2018. Bagi LAKON Indonesia, sebuah koleksi tidak hanya berorientasi pada hasil akhir, tetapi juga lahir dari proses riset, eksperimen, serta kolaborasi panjang bersama para perajin.

“Sebagian besar pekerjaan kami memang dilakukan di Teras Lakon Summarecon Serpong. Koleksi yang ditampilkan hari ini merupakan bagian dari eksperimen yang kami lakukan di sini. Yang ditampilkan baru sekitar setengah dari seluruh pengembangan yang sudah kami kerjakan,” ujarnya, Selasa (4/8/2026).

Menurutnya, Teras Lakon Summarecon Serpong tidak hanya berfungsi sebagai studio kreatif, tetapi juga menjadi laboratorium tempat berbagai eksplorasi dilakukan sebelum diterjemahkan menjadi koleksi yang siap dipasarkan. Seluruh proses tersebut kemudian menjadi arsip yang terus dikembangkan sebagai fondasi koleksi ready-to-wear berikutnya.

“Semua hasil eksperimen ini akan menjadi archive yang terus kami kembangkan menjadi koleksi ready-to-wear,” katanya.

Thresia menuturkan eksplorasi tersebut mencakup pengembangan material, teknik pengerjaan, hingga kualitas eksekusi setiap produk. Karena itu, proses kreatif di LAKON Indonesia tidak pernah berhenti pada satu koleksi.

“Sejak awal LAKON Indonesia berdiri, kami selalu berusaha menghadirkan sesuatu yang baru melalui setiap karya. Apakah sudah cukup? Belum. Masih banyak yang ingin kami eksplorasi,” katanya.

Semangat tersebut diterjemahkan dalam koleksi HARSA, yang diambil dari bahasa Sanskerta dengan arti kebahagiaan. Koleksi ini menjadi kelanjutan perjalanan kreatif LAKON Indonesia setelah Urub dan Pasar Malam. Jika Urub berbicara tentang semangat yang terus menyala dan Pasar Malam merayakan kehidupan melalui ruang perjumpaan, maka HARSAmengajak publik menghargai proses yang melahirkan sebuah karya.

Bagi Thresia, kebahagiaan tidak hanya hadir ketika sebuah karya selesai dibuat, tetapi tumbuh sejak proses penciptaan dimulai, mulai dari berdiskusi, bereksperimen, menyelesaikan berbagai tantangan, hingga melihat sebuah gagasan berkembang menjadi karya yang utuh.

“Selama delapan tahun membangun LAKON Indonesia, saya belajar bahwa kebahagiaan tidak hanya datang ketika sebuah karya selesai. Kebahagiaan justru hadir dalam setiap proses yang kami jalani, ketika berdiskusi, bereksperimen, menyelesaikan berbagai tantangan, hingga melihat hasilnya terus berkembang,” ucapnya.

Menurutnya, di tengah dunia yang semakin menghargai kecepatan, ada nilai yang tidak bisa dipercepat, yakni waktu, ketelitian, kesabaran, dan keterampilan yang dibutuhkan untuk menghasilkan sebuah karya tangan.

“HARSA lahir dari rasa syukur atas perjalanan tersebut. Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, kami diingatkan bahwa ada hal-hal yang memang tidak seharusnya dipercepat. Sebuah karya tangan membutuhkan waktu, kesabaran, ketelitian, dan hati. Justru di situlah letak nilainya,” tuturnya.

Melalui koleksi ini, LAKON Indonesia juga memberikan penghormatan kepada para pembatik, pembordir, penjahit, serta seluruh perajin yang terlibat dalam setiap tahapan produksi. Bagi perusahaan, setiap busana merupakan representasi dari dedikasi, keterampilan, dan kecintaan terhadap karya tangan Indonesia yang terus dikembangkan melalui bahasa desain yang modern dan relevan.

Koleksi HARSA berada di bawah arahan Creative Director Irsan dan menjadi koleksi kesembilannya bersama LAKON Indonesia. Kolaborasi yang telah terjalin selama sembilan koleksi tersebut, menurut Thresia, menunjukkan bahwa identitas sebuah brand dibangun melalui proses kreatif yang berkelanjutan, bukan hanya dalam satu musim.

“Identitas sebuah brand tidak dibangun dalam satu musim, tetapi melalui proses yang konsisten, dialog kreatif yang terus berjalan, dan keberanian untuk terus berkembang tanpa meninggalkan nilai-nilai yang menjadi fondasinya,” ujarnya.

Setelah mengeksplorasi pendekatan streetwear melalui koleksi Urub, Irsan kali ini menghadirkan siluet yang lebih lembut, ringan, dan elegan dengan eksplorasi yang bergerak dari daily wear hingga daily wear deluxe. Sebanyak 36 tampilan diperkenalkan melalui permainan proporsi, konstruksi, serta eksplorasi berbagai material seperti katun poplin, katun voile, satin duchess, dan organza.

Permainan warna menjadi salah satu elemen yang menonjol dalam koleksi ini. Palet hijau, ungu, merah muda hingga fuchsia mendominasi runway, dipadukan dengan permainan tekstur, volume, serta detail yang memperkaya karakter setiap busana. Kekayaan batik dan bordir karya tangan Indonesia diterjemahkan ke dalam bahasa desain yang lebih modern tanpa menghilangkan identitas craftsmanship yang selama ini menjadi ciri LAKON Indonesia.

Salah satu material yang paling banyak mendapat perhatian adalah organza. Material tersebut digunakan untuk menghadirkan kesan ringan dan transparan (sheer), namun tetap memiliki struktur yang mampu mempertahankan bentuk busana.

“Kita memang perlu pilihan seperti ini, terutama untuk summer dan daerah tropis seperti Indonesia. Organza secara struktur memiliki kekakuan sehingga walaupun hanya satu lembar, bentuknya tetap bisa didapat,” kata Thresia.

Menurutnya, karakter organza memberikan fleksibilitas dalam pemakaian sehingga koleksi dapat dikenakan dalam berbagai kesempatan.

“Koleksi ini memang bisa di-styling. Kalau ke pantai misalnya bisa dipadukan dengan palazzo karena bahannya sutra sehingga tidak panas. Kalau dipakai ke pesta mungkin perlu tambahan inner, tergantung bagaimana orang ingin mengenakannya,” ujarnya.

Selain eksplorasi material, LAKON Indonesia juga terus mengembangkan teknik batik dan bordir melalui peningkatan kemampuan para perajin. Pengembangan tersebut lebih banyak dilakukan dari sisi teknis agar kualitas pengerjaan terus meningkat dari waktu ke waktu.

“Kalau pengembangan yang kami lakukan biasanya lebih dari sisi teknikal. Kami terus mencoba mendorong, apakah bisa dibuat lebih baik lagi, lebih baik lagi,” kata Thresia.

Tantangan terbesar justru terdapat pada bordir dengan motif yang lebih sederhana. Berbeda dengan bordir penuh yang masih dapat menutupi ketidaksempurnaan, bordir dengan ruang kosong yang lebih banyak menuntut tingkat presisi yang jauh lebih tinggi.

“Kalau bordirnya penuh biasanya lebih mudah karena kesalahan kerutan bisa tertutup bordir lain. Tapi kalau seperti ini tidak ada ruang untuk sembunyi. Semuanya harus benar-benar prima,” ujarnya.

Oleh karena itu, para pembordir tidak hanya dituntut menguasai teknik, tetapi juga memiliki kepekaan terhadap karakter material yang digunakan.

“Yang kami latih adalah feeling terhadap bahan, lalu bagaimana mengeksekusi motifnya. Itu membutuhkan waktu yang panjang,” katanya.

Eksplorasi material juga terlihat pada penggunaan batik di atas material organza yang tipis. Menurut Thresia, pendekatan tersebut dilakukan untuk memperluas kemungkinan batik dikenakan dalam berbagai kesempatan dan menghadirkan perspektif baru terhadap busana berbasis karya tangan Indonesia.

Pada saat yang sama, LAKON Indonesia juga menerapkan pendekatan berkelanjutan melalui pemanfaatan sisa potongan kain menjadi elemen dekoratif baru. Potongan-potongan kecil material dimanfaatkan kembali menjadi aplikasi bunga sebagai bagian dari proses upcycling untuk mengurangi limbah produksi.

“Potongan-potongan kecil kain kami manfaatkan lagi menjadi motif lain,” ucap Thresia.

Pendekatan tersebut mencerminkan filosofi LAKON Indonesia yang tidak hanya berfokus pada hasil akhir, tetapi juga menghargai setiap proses penciptaan karya, termasuk bagaimana setiap material dimanfaatkan secara optimal sebelum menjadi sebuah busana.

Koleksi HARSA juga menandai kolaborasi LAKON Indonesia dengan Euneun, merek tas asal Korea Selatan yang didirikan aktris sekaligus penyanyi Hahm Eun-jung. Dalam peragaan busana tersebut, tas-tas Euneun melengkapi penampilan para model di runway sebagai perpaduan antara busana dan aksesori yang sama-sama mengedepankan kualitas, craftsmanship, serta desain yang berkarakter.

Hahm Eun-jung turut hadir di Jakarta untuk menyaksikan langsung peragaan koleksi HARSA. Bagi LAKON Indonesia, kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas dialog antara pelaku industri fesyen Indonesia dan Korea Selatan.

Thresia mengatakan pertukaran budaya tidak selalu diwujudkan melalui penciptaan koleksi bersama. Menurutnya, kolaborasi juga dapat dibangun melalui saling mengapresiasi kualitas karya dan keahlian yang dimiliki masing-masing pihak.

“Kehadiran Euneun menjadi bentuk apresiasi terhadap kualitas dan craftsmanship yang dimiliki masing-masing brand. Pertukaran budaya tidak selalu harus diwujudkan melalui sebuah koleksi kolaborasi, tetapi juga melalui ruang untuk saling belajar dan menghargai karya,” ujarnya.

Peragaan HARSA dikemas secara teatrikal. Setelah lampu dipadamkan, kabut perlahan menyelimuti area runway sebelum permainan cahaya menampilkan satu per satu koleksi di atas panggung. Lantai runway yang semula didominasi warna putih berubah menjadi hamparan motif kotak berwarna-warni yang menjadi latar keseluruhan pertunjukan.

Palet hijau, ungu, merah muda hingga fuchsia mendominasi koleksi. Sementara itu, face veil berbahan organza dan brokat, aplikasi bunga berukuran besar, serta detail rumbai menjadi elemen yang memperkuat karakter setiap tampilan.

Usai peragaan, para tamu tidak langsung meninggalkan area runway. Mereka dipersilakan mendekati para model untuk mengamati secara langsung detail material, teknik bordir, konstruksi busana, hingga kualitas pengerjaan yang menjadi fokus utama koleksi HARSA.

Melalui HARSA, LAKON Indonesia kembali menegaskan komitmennya mengembangkan karya tangan Indonesia melalui pendekatan desain yang modern tanpa meninggalkan akar craftsmanship. Bagi Thresia, masa depan fesyen Indonesia dibangun melalui proses yang panjang, kolaborasi yang berkelanjutan, serta penghargaan terhadap setiap tangan yang terlibat dalam menciptakan sebuah karya.

“Melalui HARSA, kami ingin merayakan proses. Merayakan sesuatu yang dijalani dengan sepenuh hati karena mengerti tujuannya. Dan ketika semuanya berproses, kebahagiaan menemukan jalannya. Semoga kebahagiaan itu juga dapat dirasakan oleh setiap orang yang mengenakan karya kami,” tutur Thresia.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *