IndonesianForecast, JAKARTA — Ketidakpastian ekonomi membuat masyarakat dan pelaku usaha semakin berhati-hati dalam mengambil keputusan pembelian properti. Di tengah kondisi tersebut, properti berbasis sewa dinilai memiliki daya tahan karena memberikan fleksibilitas lebih besar bagi pengguna, termasuk pada sektor apartemen sewa.
CEO Leads Property Services Indonesia Hendra Hartono mengatakan sektor properti yang berkaitan dengan sewa menjadi salah satu yang masih dapat bertahan di tengah kondisi pasar saat ini. Sebaliknya, keputusan untuk membeli dan memiliki properti menghadapi lebih banyak pertimbangan, terutama terkait kemampuan membayar dan prospek investasi.
“Sektor yang bertahan menurut kami adalah sektor yang semuanya berhubungan dengan sewa,” ujarnya, Selasa (11/8/2026).
Menurut Hendra, konsumen yang sebelumnya memiliki rencana membeli rumah atau properti dapat mengubah keputusannya menjadi menyewa ketika kondisi ekonomi membuat komitmen kepemilikan dinilai lebih berat.
“Jadi tidak mau apa pun yang sewa bertahan saat ini. Tapi kalau yang membeli, memiliki, belum tentu,” katanya.
Hendra mencontohkan seseorang yang ingin membeli rumah di kawasan yang lebih jauh dari pusat aktivitas. Dalam kondisi seperti saat ini, calon pembeli dapat memilih menyewa terlebih dahulu di lokasi yang lebih dekat dengan tempat kerja maupun pusat aktivitasnya.
“Dia pikir dia udah punya uang ini, dia mau berkeluarga, dia beli. Terus kemudian dia akan pikir, mendingan saya sewa dulu deh. Tapi masih di Jakarta,” ucapnya.
Pola tersebut menurutnya tidak hanya terjadi pada rumah, tetapi juga pada aset perkantoran maupun properti komersial lainnya. Skema sewa memberikan fleksibilitas karena pengguna tidak perlu mengeluarkan modal besar untuk memiliki aset.
“Jadi faktor sewa, terus kantor juga gitu. Apalagi mau beli strata, atau mau beli gedung. Jadi, harusnya semua yang berhubungan dengan sewa, itu akan lebih survive,” tuturnya.
Kondisi tersebut turut menjadi peluang bagi pasar apartemen sewa. Permintaan terhadap hunian sewa dapat berasal dari masyarakat yang membutuhkan tempat tinggal untuk jangka pendek maupun jangka panjang tanpa harus langsung mengambil keputusan membeli.
Associate Director Research & Consultancy Department PT Leads Property Services Indonesia Martin Samuel Hutapea menuturkan pasar apartemen sewa pada kuartal II 2026 menunjukkan tingkat okupansi sebesar 63%.
Berdasarkan proyeksi Leads Property Services Indonesia, pasokan apartemen sewa pada kuartal II 2026 mencapai 11.067 unit dengan tingkat okupansi 63%. Sementara harga sewa tercatat Rp323.000 per meter persegi per bulan.
Untuk keseluruhan 2026, pasokan kumulatif apartemen sewa diproyeksikan mencapai 11.502 unit, bertambah 435 unit secara tahunan. Tingkat okupansi diperkirakan tetap berada di level 63%, sedangkan harga sewa diproyeksikan mencapai Rp335.000 per meter persegi per bulan.
Martin mengatakan tingkat okupansi apartemen sewa diperkirakan cenderung stabil karena ditopang permintaan sewa baik untuk jangka panjang maupun jangka pendek.
Dengan demikian, tambahan pasokan baru tidak serta-merta membuat tingkat okupansi turun. Permintaan sewa yang tetap berjalan menjadi salah satu faktor yang menjaga tingkat keterisian apartemen.
Dari sisi pasokan, terdapat tambahan unit yang berasal dari dua proyek baru yang diperkirakan mulai dibuka hingga akhir 2026, yaitu Oakwood Slipi dan Oakwood Fatmawati.
Sementara dari sisi harga, tarif sewa diperkirakan mengalami sedikit peningkatan seiring masuknya tambahan pasokan baru di kelas upscale. Harga sewa 2026 diproyeksikan mencapai Rp335.000 per meter persegi per bulan, dibandingkan Rp323.000 per meter persegi per bulan pada kuartal II 2026.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pasar apartemen sewa tetap memiliki ruang di tengah masyarakat yang semakin mempertimbangkan fleksibilitas hunian. Ketika keputusan membeli properti membutuhkan komitmen finansial yang lebih besar, skema sewa menjadi salah satu alternatif yang memungkinkan masyarakat tetap mendapatkan hunian di lokasi yang dibutuhkan tanpa harus langsung memiliki aset.






